
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
"Jadi, dia sedang menyelidikinya?" tanya Naya yang sekarang sedang membuka kulit kacang dan kemudian memakan isinya.
Aku dan Naya sedang ada di ruang tamu, duduk di sofa sembari mengerjakan PR dan makan camilan. Aku tidak membicarakan Sari ataupun masalah penghapus yang ditemukan Hani—dan insiden di perpustakaan. Walau Naya adalah sahabat terdekatku, bukan berarti dia harus tahu segalanya. Aku juga tidak memberitahunya soal teori gilaku bahwa Darma akan mengajakku tidur dengannya, motif-motif yang kuungkapkan pada Darma, atau tentang sosok misterius yang menyerupai Rajo. Tapi, ada satu hal yang ingin kuberitahu padanya.
"Kamu penasaran tidak, kenapa aku tiba-tiba mau minta bantuan ke Darma?" tanyaku ke Naya.
Naya mengangguk, lalu memandangku dengan serius. "Iya. Apa? Kenapa? Ayo ceritakan!"
"Jadi, aku didatangi makhluk halus malam Jumat kemarin. Dia punya rambut yang sangat panjang, melilit tubuhku di atas ranjang, lalu dia berdiri di hadapanku, menggunakan jari-jarinya yang seperti gunting—atau memang gunting. Lalu, mencukur poniku," ungkapku yang kemudian menunjukkan poniku yang tidak rata lagi.
Naya tampak merinding. "Serius. Seram banget!"
"Aku rasa dia itu sosok penyihir," ungkapku. "Maksudku dia penyihir yang sudah mati dan arwahnya masih gentayangan."
Naya tiba-tiba antusias. "Kamu pernah dengar cerita tentang rumah tua di daerah barat kota, tidak?" tanya Naya.
"Rumah tua?" tanyaku bingung.
"Iya. Ada sepupuku yang sekolah di daerah sana. Katanya ada anak yang tinggal di rumah tua yang besar itu. Banyak gosip yang mengatakan kalau penghuninya adalah penyihir. Nama anaknya itu Amanda dan kebetulan sekali, ibunya sudah meninggal. Jangan-jangan, yang kamu temui itu ibunya Amanda," ungkap Naya yang kemudian bergidik takut.
"Amanda dikira penyihir oleh teman-temannya, maksud kamu?" tanyaku.
"Iya. Otomatis ibunya juga, kan?"
__ADS_1
Apa benar yang dikatakan Naya. Namun, dia suka sekali termakan gosip-gosip tidak berdasar seperti itu. Lebih baik aku abaikan saja. Aku harus menunggu Darma.
"Eh, Rajo punya Nintendo, ya?" kata Naya.
"Iya. Itu dia lagi main di ruang tengah," jawabku.
"Aku ikut main dengannya ah," kata Naya yang kemudian berdiri dan menuju ke ruang tengah.
"PR-nya bagaimana?" tanyaku kesal.
Bunyi dering telepon terdengar. Aku segera berdiri dan menuju ruang tengah. Rajo dan Naya sedang bermain Nintendo bersama.
"Ayo kamu bisa kalahkan Kakak, tidak?"
"Bisa, aku kan jago!"
Aku tertawa kecil melihat Rajo yang tampak senang bermain dengan Naya. Aku pun menangkat telepon dan mengatakan kalimat awal yang selalu kami ucapkan saat menerima telepon. "Halo, dengan kediaman keluarga Barmastya di sini." Mengucapkan nama belakang ayahku menimbulkan sedikit getaran di dada—rasa nyeri yang membuatku merasa harus berdiri lebih tegap.
"Siapa, Ma?" Naya berbisik ingin tahu.
Aku hanya tersenyum kecil ke arah Naya dan kemudian membalik, agar tidak melihat temanku yang suka ikut campur itu.
"Wa 'alaikumus-salam. Ini Rema," jawabku. "Kau menelepon juga. Apa yang ingin kamu bicarakan. Apa ada sesuatu yang penting?"
"Rema," dia memanggil namaku—entah bagaimana membuatku sedikit gugup. "Sepertinya saya baru mendapatkan hal yang sangat menarik. Dari polisi yang saya kenal, ternyata pernah ada kasus serupa seperti yang sedang kamu alami di tahun 1986. Jika tidak keberatan, saya ingin bertemu langsung untuk membicarakan ini."
Ada kasus serupa? Aku menggeleng tidak percaya. Ini berarti aku sudah selangkah di jalan untuk bisa mengatasi kutukan ini. "Ka-kapan?" kataku yang masih berdebar karena cukup senang dengan berita dari Darma si detektif ini.
"Saya akan menjemputmu nanti malam, kita bicara di salah satu kafe di pinggir kota," kata dia.
"Kau bawa apa?" tanyaku. Ini sangat rasional, karena kalau dia bawa motor aku harus menolak. Rambutku harus benar-benar terlindungi.
__ADS_1
"Saya bawa mobil milik Ayah," jawabnya. "Rambutmu aman," lanjutnya yang benar-benar mengerti apa yang aku pikirkan.
"Baiklah, jam delapan bisa," kataku. Aku tidak mungkin meninggalkan Rajo sendirian di sini, Ibu biasanya sebelum jam delapan malam sudah pulang.
"Siap. Saya ke sana usai salat Isya," jawabnya.
"Aku menunggumu," kataku.
"Kenapa saya jadi deg-degan ya ditunggu sama Rema," kata dia dengan nada bercanda.
"Ada yang ingin aku bicarakan juga, soal isi buku itu," kataku.
"Wah, sepertinya malam kita akan seru," ujarnya, "membahas iblis."
"Itu Darma, ya? Kamu bilang kalau ada kemajuan dia bakal telepon, kan?" kata Naya yang masih saja usil bertanya.
"Sudah, aku tutup dulu ya teleponnya," kataku yang kemudian menutup teleponnya setelah dia mengucapkan salam dan aku menjawabnya.
Aku menoleh ke Naya. "Iya, dia yang meneleponku. Nanti malam kami mau bertemu. Dia akan menjemputku."
Naya berdiri, begitu gembira. "Kalian akan kencan!" Naya melangkah ke arahku, dan menarikku menuju kamar.
"Apa-apaan, sih!" keluhku.
"Ayo aku bantu pilih baju untuk nanti malam!" serunya kegirangan.
Kencan? Apa ada kencan yang membahas kutukan dan buku berisi pemujaan iblis? Naya ada-ada saja.
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!
__ADS_1