
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Di toko aksesoris, aku cukup kebingungan memilih apa yang harus aku hadiahkan untuk Bu Nikma. Apa yang disukai oleh seorang wanita dewasa? Dari kasus kecil ini, mau tidak mau aku jadi memikirkan Ibu. Apa yang disukai ibuku mungkin akan disukai juga oleh Bu Nikma. Ibuku sangat peduli dengan mode. Dia selalu memperhatikan fashion yang sedang tren saat ini. Dia pernah bilang jika fashion akan membuatnya terus muda. Apalagi, rukonya juga menjual pakaian dan tas wanita. Tas! Mungkin itu saja.
Aku menuju ke bagian tas. Di sini hanya ada tas-tas kecil, tetapi semuanya tampak lucu. Bu Nikma selalu suka warna yang polos dan tidak mencolok, warna yang kalem. Kurasa warna biru yang ini cocok. Aku pun segera mengambil tas tangan kecil itu dan membelinya.
Di bahu jalan, tempat Darma memarkirkan mobilnya. Aku melihatnya sedang berbicara dengan seorang pria, dia pasti sedang bertanya jalan. Aku pun segera menghampirinya.
"Terima kasih, Pak," kata Darma pada pria itu, tepat saat aku sampai di dekatnya.
Pria itu ikut menunduk saat Darma juga menunduk. Dia kemudian pergi menjauhi kami dengan ekspresi canggung.
__ADS_1
"Kau sudah tahu di mana alamatnya?" tanyaku yang sudah berada di depan Darma.
Darma mengangguk, ekspresinya sangat serius—cenderung kurang senang. Seperti ada yang tidak beres. Namun, aku memtuskan untuk tidak bertanya padanya. Aku mengajaknya untuk segera masuk ke mobil.
"Kamu jadinya beli apa?" tanyanya saat mulai menyetir.
"Tas tangan," jawabku seraya menunjukkannya.
Dia melirik. "Kelihatan bagus."
"Oh ya, lombamu kapan?" tanya dia seperti sengaja membuka topik baru.
"Tiga minggu lagi," jawabku.
"Saya yakin kamu bisa menang. Kamu dikenal sebagai anak berprestasi," kata Darma. "Banyak yang ingin belajar sama kamu, tapi mereka pada takut mendekatimu," lanjutnya yang membuatku tertarik. "Banyak lho, anak kelas saya yang kirim surat ke kamu, mereka ingin belajar bersama."
Ketika aku sedang curiga dengan gerak-gerik Darma, tiba-tiba dia mengatakan hal yang sama sakali tidak pernah terpikirkan olehku. Aku? Banyak anak yang ingin belajar bersamaku? Apakah surat-surat itu tidak semuanya surat cinta? Selama ini, aku membuang surat-surat itu tanpa membacanya.
__ADS_1
Aku merasa terbangun dari ketidaksadaran secara tiba-tiba. Darma menyadarkanku dari segala prasangka buruk. Aku selalu menganggap semua orang menilaiku sombong, mereka iri padaku, juga membenciku. Aku memang menyembunyikan sakit asmaku, tetapi apa alasan itu tidak terdengar egois?
Darma menoleh ke arahku saat di lampu merah. "Saya baru tahu dari malam itu." Mungkin maksud dia malam Jumat kemarin. "Saya benar-benar khawatir padamu."
Aku tahu maksudnya. Dia sedang mengkhawatirkan sakit asmaku. Aku mencoba tersenyum padanya. "Terima kasih sudah khawatir. Namun, kau tidak perlu memikirkannya. Aku sudah menjalani kehidupan dengan asmaku selama bertahun-tahun."
"Kamu tidak membiarkan orang lain tahu, ya?" tanyanya yang tampak intens menatapku.
"Aku hanya tidak ingin dianggap lemah," jawabku yang mengalihkan pandangan—tidak sanggup bertatapan terlalu dalam dengannya.
Dia mengangguk, lalu kembali menyetir setelah lampu kembali hijau. "Saya memiliki banyak kelemahan. Saya tidak bisa memasak, lalu saya tidak bisa bertani, padahal Ayah punya sawah yang luas. Saya sangat payah dalam pelajaran menghitung, itu kenapa saya memilih IPS," ungkapnya seraya tertawa. "Tidak hanya itu, saya juga buruk dalam sepak bola atau basket. Awalnya, banyak yang berpikir saya pandai semua olahraga, tetapi mereka akhirnya tertawa saat melihat bagaimana saya menendang bola atau melempar bola basket ke ring," lanjutnya yang kemudian tertawa kecil.
Kurasa Darma hanya ingin mengatakan jika tidak masalah orang tahu kekurangan dan kelemahan kita. Semua akan baik-baik saja. Mungkin kata-kata dia harus kupikirkan baik-baik. Aku seharusnya tidak perlu malu dengan penyakitku. Memandang laki-laki di sampingku, aku merasa aura positifnya telah menyebar padaku. Naya benar, Darma adalah sosok yang positif.
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!
__ADS_1