Dedarah

Dedarah
Episode 4


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama


○●○


"Soal itu sangat mudah, ya?" tanya seorang perempuan berwajah cantik dengan rambut bobnya yang berdiri memperhatikanku mengerjakan soal.


Aku tampak canggung. "Kurasa aku perlu bahan soal-soal untuk olimpiade matematika tingkat nasional tahun kemarin. Apa Bu Nikma punya?"


Bu Nikma mengelus rambutku. "Belum, tapi Ibu bakal carikan untukmu. Kita masih punya waktu lebih dari sebulan. Untuk sementara, kerjakan soal tingkat kabupatennya dulu saja ya. Besok, Ibu buatkan soal yang mirip-mirip dengan yang tingkat nasional."


"Baik, Bu," jawabku.


Aku kemudian kembali fokus ke soal-soal di meja yang cukup berantakan ini. Mewakili sekolah untuk ikut lomba semacam ini memang sudah biasa kulakukan. Aku cukup senang. Karena hal semacam ini membuatku menjauh dari siswa lain.


Bu Nikma duduk di sampingku. Dia tampak sedikit gelisah. Mungkin dia memiliki banyak masalah yang tidak kutahu. Namun, sejauh ingatanku dia pernah gagal menikah. Menyebut soal kecantikan, hal itu juga tampaknya tak terlalu berguna bagi Bu Nikma. Di usianya yang hampir tiga puluh, dia belum menikah. Pasti banyak orang yang membicarakan statusnya.


Dia memperhatikan soal-soal yang sudah selesai aku kerjakan. "Sebenarnya, Ibu bingung lho disuruh bimbing kamu. Sepertinya Ibu sama Rema pintaran Rema, ya," pujinya yang kemudian tertawa hangat.


"Tidak juga," jawabku yang kemudian berpura-pura meneliti soal lain lagi. "Ini bagaimana Bu?"


Bu Nikma memperhatikan soal yang kutunjukkan. "Jumlah kemungkinan persegi yang tidak kongruen yang dapat dibentuk dari titik-titik ini, ya?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Rema. Jangan pura-pura bertanya deh. Kamu kan tahu hasilnya," kata Bu Nikma seraya menatapku dengan curiga, tetapi bibirnya tersenyum.


Aku tertawa malu. Aku memang pura-pura bertanya agar Bu Nikma berhenti mengatakan bahwa aku lebih pintar darinya. Bukannya guru yang mengatakan seperti itu adalah guru yang kurang profesional. Maksudku mungkin jika kami tes IQ, aku yakin hasil tesku lebih baik darinya. Namun, itu bukan tolak ukur kepintaran. Kurasa pintar lebih dari sekadar IQ, banyaknya ilmu yang bisa digunakan sebaik-baiknya, kemampuan belajar dari pengalaman, kemampuan menyelesaikan berbagai masalah, dan kreativitas juga termasuk dalam kepintaran.


"Ibu tinggal dulu ya," ujarnya yang kemudian meninggalkanku di salah satu ruang di perpustakaan ini, sendiri.


Aku menutup buku saat sosok Bu Nikma tak bisa kulihat lagi. Aku kembali memikirkan kejadian di kelas. Surat yang isinya aneh itu mengusikku. Lalu, Hani. Dia melihatku memakai inhaler. Apa dia akan mengatakan pada orang-orang tentang itu? Aku tertawa getir menyadari bahwa tak akan ada yang bicara padanya, apalagi mempercayai omongannya.


Kau mungkin akan merasa sangat takut, sedih, dan marah. Namun, kau akan akan baik-baik saja.


Apa maksud dari kata-kata itu? Teori Gilang bahwa akan ada yang melakukan hal gila—pelecehan seksual—terhadapku tidak akan aku percaya. Tiga orang pernah dibakar masa saat ketahuan memperkosa gadis di hutan tahun lalu. Sangat bodoh jika ada yang ingin melakukan hal serupa.


Jika bukan mengenai hal itu, apakah ada hal lain? Apa yang mungkin dilakukan laki-laki yang menyukaiku agar aku bisa ketakutan? Umumnya, mereka tidak melakukan hal-hal menakutan. Sejauh ini, mereka hanya mengirim bunga, cokelat, atau kado secara sembunyi-sembunyi. Laki-laki yang lebih berani biasanya menunggu di depan gerbang sekolah untuk menarikku ke suatu tempat yang sepi agar dia bisa mengutarakan perasaannya padaku.


Tak ada yang pernah berhasil membuatku cukup ragu untuk tidak menolak. Semuanya hanya mengincar wajah dan tubuhku. Mereka tidak tahu kepribadianku, mereka tidak tahu masalahku, mereka tidak tahu keluargaku, mereka sama sekali tidak tahu aku. Aku dipandang melakui kover, bukan isinya.


Melihat jam di dinding kurasa waktu bimbinganku sudah habis. Bu Nikma tidak kembali, artinya aku harus kembali ke kelas. Merapikan buku dan kertas-kertas di meja, aku berdiri dan keluar dari ruangan ini.


Aku ada di perpustakaan yang cukup ramai. Banyak yang sedang membaca dan mencari buku. Aku tergerak untuk mencari satu dua buku sebelum kembali ke kelas. Namun, perasaanku yang sedang baik langsung turun saat melihat Dewi.


"Jangan malu-malukan sekolah ya," ujarnya yang datang menghampiriku.


Aku tertawa kecil—nyaris tanpa suara. "Jangan berharap mewakili sekolah, ya," balasku yang sukses membuatnya tampak marah.


Kulangkahkan kaki untuk menjauhinya. Apa motif dari perkataannya? Aku akan memalukan sekolah? Belum lama ini, aku menyumbangkan trofi juara kedua olimpiade fisika tingkat provinsi. Walaupun aku gagal maju ke nasional, tetapi itu pencapaian gemilang untuk sekolah ini—sekolah yang tidak cukup terkenal karena letaknya tidak berada di kota.


Dewi selalu iri atas pencapaian akademikku—dia selalu ranking dua. Aku sedikit memandangnya sederajat di atas Sari dan yang lain. Dia melihat kemampuanku bukan fisikku. Itu cukup bagus dan aku cukup senang karena ada yang iri dengan hal-hal semacam ini.

__ADS_1


Memeluk buku dan kertas matematikaku, aku berjalan di antara lemari-lemari buku. Perpustakaan ini cukup luas dan bukunya pun bisa dibilang lumayan lengkap. Ini adalah salah satu hal yang membuat sekolah ini menarik.


Sejarah Penyembahan Iblis


Buku yang berada di rak paling pojok ini benar-benar mengusikku. Baru kupandangi saja, ada perasaan aneh yang kurasakan. Rasa kaget muncul saat sebuah tangan panjang mengambil buku itu. Sontak, aku menoleh ke belakang. Seorang siswa lelaki berdiri di belakangku, membolak-balikkan buku berwarna merah itu.


Dia adalah Darma dari kelas XI IPS 2. Siswa yang cukup terkenal karena jago bermain bulu tangkis. Tidak hanya itu, dia juga punya pencapaian-pencapaian aneh yang membuatnya berbeda dari sekadar siswa idaman yang tampan dan jago berolahraga. Dia seorang maniak.


"Serius kamu ingin baca buku ini?" tanya dia padaku.


Darma memiliki pandangan yang entah kenapa membuatku agak tidak nyaman—mungkin karena jarak kami yang terlalu dekat. Dia memiliki badan tegap, mata yang tajam, dan alis yang cukup tebal. Aku tidak suka padanya. Menurutku, hal yang menjijikkan saat para siswi menjerit histeris saat melihatnya memukul kok dengan keras atau selebrasinya saat dia memenangkan pertandingan—membuka kausnya yang bersimbah keringat.


"Apa ada yang aneh dengan wajah saya? Kenapa kamu pandangi terus?" tanya Darma dengan mimik heran.


"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau tiba-tiba ada di belakangku dan mengambil buku yang sedang kuperhatikan?" tanyaku dengan geram.


"Saya rasa kamu sudah dengar gosip-gosip itu," kata Darma dengan tampang tak bersalah.


Apa yang dia maksud?


"Aku tidak ada urusan denganmu," balasku yang kemudian melangkah pergi.


Di depanku, sosok yang tampak sangat bahagia muncul. Oh tidak, Naya akan mengatakan rentetan hal menyebalkan setelah ini.


 


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2