Dedarah

Dedarah
Episode 11


__ADS_3

Dedarah


a Novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Dokter Ndaru sudah mengecek asmaku. Dia memasang ekspresi yang tampak kurang senang. "Asmamu sering kambuh akhir-akhir ini, ya?"


Aku mengangguk. "Dalam dua hari, saya sudah mengalami tiga kali se...," aku berhenti berucap, bukan tiga, hanya dua. Satu serangan asma hanya terjadi di mimpiku. Bagaimana mungkin aku tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi? "Maksud saya, dua kali, Dok. Padahal, minggu sebelumnya, saya hanya sekali kena serangan asma."


"Saya resepkan tablet teofilin untukmu ya," kata pria paruh baya yang berkacamata itu. "Bisa ditebus di depan."


"Baik, Dok," jawabku seraya mengambil catatan resep darinya.


"Makan sehat secara teratur, berolahraga, dan banyak minum air putih, ya," pesannya sebelum aku keluar dari ruangannya.


Aku ke kliniknya sepulang sekolah. Jadi, aku membawa Rajo. Untung saja, dia tidak banyak bertingkah. Klinik ini berada di kota. Sebenarnya, aku ingin mampir ke ruko milik Ibu, tetapi ada rasa enggan yang membuatku malas ke sana.


Bersepeda di jalanan kota memang cukup menyenangkan. Di sini cukup ramai, banyak hal menyenangkan yang ada di sini. Tidak seperti daerahku yang sepi dan hampir tidak ada hiburan, di sini punya banyak tempat tujuan untuk membuang penat. Aku menunjuk banyak tulisan di jalan agar Rajo bisa membacanya.


"Itu bacanya apa?" tanyaku menunjuk ke salah satu bangunan kecil dengan beberapa Vespa tengah terpakir di depan sana.


"Bengkel Vespa," jawab Rajo.


"Kalau itu?"


"Toko mas dan perak."


"Sebelahnya?"


"Toko bangunan Sanjaya."


Saat kami melewati gedung bioskop, aku melihat ada iklan yang menampilkan jadwal film yang sedang diputar di sana. Si Kabayan Cari Jodoh, itu yang main Dedi Petet dan Desy Ratnasari, kayaknya film yang lucu. Tidak jauh dari bioskop ada toko piringan hitam. Aku ingat Ayah punya pemutarnya di lantai dua.


"Rajo, kita mampir ke sana, ya," kataku pada Rajo yang duduk di kursi belakang sembari berpegangan di pinggulku.


"Jangan lama-lama," jawabnya yang kurasa sadar kalau sekarang sudah cukup sore.


"Sebentar kok," kataku yang kemudian berhenti di depan toko.

__ADS_1


Setelah memarkirkan sepedaku, aku pun melangkah ke toko itu. Dari jendela kaca yang besar, aku bisa melihat banyak orang sedang memilah-milah piringan hitam yang ingin mereka beli di sana.


"Rajo, habis ini Kakak belikan es krim, mau?" tanyaku pada Rajo yang ada dibelakangku.


Saat aku menoleh ke belakang, ternyata aku salah. Dia tidak ada di belakangku. Rajo hilang! Aku langsung panik. Kupanggil namanya berkali-kali. Aku semakin terkejut saat menyadari dia sedang menyeberang jalan raya.


Keringat dingin langsung kurasakan mulai muncul di wajahku. Rasa khawatirku memuncak saat terdengar suara mobil yang akan lewat.


"Rajo!" teriakku yang kemudian berlari ke arahnya.


Aku berhasil menariknya ke bahu jalan, tepat sebelum sebuah mobil Toyota berwarna putih lewat dengan kecepatan cukup tinggi.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Aku mencoba untuk tidak membentaknya.


Dia diam, wajahnya sangat pucat.


"Ayo pulang!" ajakku yang kemudian menarik tangannya kembali ke seberang.


"Kak Rema!" teriak seorang anak kecil yang berada di depan toko. "Tidak jadi masuk?" Rajo menunjuk ke pintu kaca.


Aku membisu. Tanganku merinding. Di sampingku tidak ada siapa-siapa.


Kami sudah berhasil mengumpulkan semua tulisan anak-anak di kelas kami. Aku mendapatkannya dari Bu Nikma. Ini adalah kumpulan lembar jawab ulangan minggu lalu. Saat latihan, aku meminta hasil ulangan itu padanya dengan alasan aku ingin membantu membagikannya.


"Danu tidak mungkin, tulisan cowok itu hampir saja tidak bisa dibaca," kata Naya. "Tulisan Ajeng juga."


"Tulisan Gilang cukup mirip, tetapi penulisan huruf g miliknya sangat unik berbeda dengan yang ada di surat ini," ungkapku.


"Banyak yang mirip, tetapi tidak ada yang sama persis," ujar Naya yang tampak frustrasi. Lalu, dia membuka tasnya mengambil sebuah kertas.


Ada suara yang bisa kudengar di atas langit-langit. Aku menoleh ke atas.


"Suara apa itu?" tanya Naya.


"Pak Salman, tetangga yang sedang membantu mengganti genting," kataku yang ingat kalau tadi pagi Ibu minta bantuan pada Pak Salman.


"Rumahku juga bocor, ah musim hujan memang tidak menyenangkan," kata Naya.


Aku lebih fokus pada kertas yang dipegang Naya. "Kertas apa itu?" tanyaku.


"Tulisan Darma," kata Naya seraya mengamati tulisan di surat dengan tulisan di kertas yang dia pegang. Naya memang tidak bisa dinasihati.

__ADS_1


Sebenarnya ada satu orang yang tidak ada lembar jawabannya di tumpukan hasil ulangan ini. Milik Hani. Mungkin lembar jawabannya terselip di tempat Bu Nikma. Namun, aku pernah melihat tulisan anak itu. Sangat jauh berbeda dengan yang ada di surat.


"Sama sekali tidak sama," kata Naya yang tampak senang.


"Lalu, apa?" tanyaku.


"Aku tahu kamu anak cerdas Rema, tidak perlu pura-pura tidak tahu," kata Naya. "Apa yang kita lakukan sekarang sangat naif. Kamu sadar kan, kita tidak pernah berususan dengan hal-hal semacam ini? Kenapa kamu memilih buta akan kesempatan yang jelas ada? Cowok itu punya portofolio, dia punya bakat untuk menemukan pelakunya.


Satu hal yang aku pelajari darinya adalah bahwa Darma tidak pernah menyerah sekali pun. Kasusmu akan terus dia selidiki sampai pelakunya tertangkap!" jelas Naya yang tiba-tiba membuatku sedikit ragu.


"Tidak."


"Aku tahu, kamu enggan untuk percaya dengan orang lain selain aku," kata Naya yang kini menghadap ke depan, lalu dia menoleh ke arahku. "Aku rasa kamu bisa sedikit terbuka padanya."


"Non!" teriak seseorang yang kutahu adalah Pak Salman.


Aku melongok ke jendela kamar yang memang sedang dibuka. "Iya, Pak?"


"Gentingnya sudah diganti, ya," infonya seraya menunjuk ke atas.


"Baik Pak, terima kasih, ya," kataku.


Dia pun pamit sembari membawa tangga bambu miliknya.


"Lembar jawaban ini, nanti aku saja yang bawa. Aku yang membagikannya, ya," kata Naya.


"Baiklah," jawabku yang kemudian merapikan tumpukan lembar jawaban itu.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.


Suara adzan terdengar dari mushola yang tak jauh dari sini.


"Ke mushola, yuk, Ma," ajak Naya.


"A-aku...," aku ingin menolak, tetapi susah.


"Ya sudah, aku sholat di sini aja. Nggak enak kalau nggak ada temannya ke sana," kata dia yang kemudian turun dari ranjang.


Aku memperhatikannya berjalan di lorong menuju sumur untuk berwudhu. Kata-kata Naya membuatku mulai memikirkan tentang Darma. Apa dia bisa?


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2