
“Dean..” Panggilku
Ia menghentikan langkahnya, dan melihat kearahku. Wajahnya terlihat bingung, seperti tidak mengenaliku. Aku berjalan mendekatinya dan ia masih tetap melihat kearahku.
Aku berdiri tepat dihadapannya. Aku menatap kedua matanya penuh arti. Banyak yang ingin aku tanyakan padanya.
Sepertinya Dean sudah mengenaliku. Ia langsung menundukan kepalanya tak ingin melihat wajahku.
"Kamu kemana saja?" Tanyaku
Seketika mata ku terasa perih, seperti ada sesuatu disana.
"Maaf.." Ucap Dean singkat
"Maaf untuk apa?" Tanyaku lagi
Dean tak menjawab pertanyaan ku. Mataku sudah mulai berkaca-kaca. Dia masih saja tak ingin melihat kearahku.
“Kenapa kamu diam saja” Ucapku sedikit berteriak sambil memukul dadanya “Katakan Dean.. kenapa kamu meninggalkan aku?” Lanjutku semakin berteriak
Aku sudah tidak peduli dimana posisiku berada saat ini.
Air mataku tak bisa ku tahan lagi, dengan derasnya ia keluar membasahi pipiku. Dadaku penuh sesak, aku menahannya dengan kedua tanganku. Sakit sekali rasanya.
“Maafkan aku Qeezya..” Ucapnya lagi
Kali ini ia menatap wajahku. Ada penyesalan di raut wajahnya.
“Maaf.. Maaf apa yang kamu maksud?” Nada bicaraku sedikit mereda
__ADS_1
“Aku tak ingin membuat kamu kecewa. Malam itu aku benar-benar menyesal sudah melakukan itu ke kamu. Aku tidak tau bagaimana cara menunjukan rasa sayangku” Jelasnya dengan sangat tenang penuh penyesalan
“Hehh.. Kamu bilang menyesal? Tapi kenapa semenjak malam itu kamu tak pernah menghubungiku lagi?”
“Aku tak ingin merusak dirimu. Aku takut malam itu akan terjadi lagi jika aku masih menghubungimu” Jawabnya tegas
Aku kecewa mendengar jawaban Dean. Aku tak mengerti kenapa ia mengatakan itu. Apa benar itu alasannya?
Aku sungguh tak percaya itu alasan dia meninggalkan aku. Tapi aku tidak punya pertanyaan lagi untuk memperjelas maksud dari perkataannya.
Kenapa harus itu alasan kamu meninggalkan aku? Aku masih sayang sama kamu Dean.. Aku masih ingin bersama kamu
Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dengan sangat kasar.
“Kenapa kamu lama sekali?” Tanya pemilik tangan ini
Aku langsung melihat kearahnya.
Aku kaget saat melihat pria tua ini tiba-tiba datang menarik lenganku. Ia membawaku menjauh dari Dean. Dan sampailah kami didepan room 215, Dean sudah tidak terlihat lagi.
Pria tua ini mendorongku hingga tubuhku membentur dinding, membuat aku tersentak kaget.
Ia sedikit membungkukan badannya menyamai tinggi tubuhku agar wajahnya bisa terlihat jelas olehku.
“Kamu datang kemari untuk melayaniku, kenapa kamu masih menggoda pria lain?” Tanya pria tua ini sedikit berteriak menggertakku
Wajahnya berada tepat didepan wajahku. Tatapannya sangat tajam seakan ingin menusuk kedua bola mataku. Ia terlihat begitu marah.
“Saya tidak menggoda pria itu” Jawabku sambil mengelus lenganku yang masih terasa sakit karna cengkramannya tadi yang begitu kuat
__ADS_1
“Meskipun aku tidak menyentuhmu, tapi aku tetap membayarmu dengan harga dirimu 1 malam” Ucap kasar pria tua ini “Apa itu belum cukup untuk wanita seperti kamu?” Lanjutnya merendahkanku
Seketika aku merasa seperti ada sesuatu yang menusuk didadaku. Ucapan pria tua ini benar-benar membuat aku sakit.
Aku terdiam tak memberi respon apa-apa. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Rasanya aku ingin pulang saja, aku sudah tak sanggup berada disini.
Aku menyesal sudah mengambil keputusan untuk datang kesini. Aku sudah menghina diriku sendiri dengan beradanya aku disini.
Pria tua ini kembali menarikku, dan membawaku masuk kedalam ruangan itu.
Aku hanya duduk tak melakukan apa-apa. Pria ini memintaku untuk menuangkan minuman kegelasnya, akupun melakukannya.
Sudah 8 gelas minuman yang aku tuangkan. Aku takut pria ini nantinya akan menjadi mabuk.
Dan benar apa yang aku takutkan, pria tua ini benar-benar mabuk. Aku bingung harus berbuat apa. Aku harus minta bantuan siapa? Sedangkan acara mereka sudah selesai dan semuanya sudah bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan ini.
“Permisi tuan.. Pria ini mabuk, saya harus mengantarkannya kemana?” Tanyaku pada salah satu teman pria tua ini yang keadaannya masih sangat stabil
“Ahahaha.. Presdir kita mabuk juga akhirnya” Ucap pria itu menertawakannya “Ikut saja bersama kami, saya akan membukakan kamar untuk kalian” Lanjut pria itu yang sedang merangkul teman wanitanya
“Apa! Membukakan kamar untuk kami?” Gumanku
Itu berarti aku dan pria tua ini akan tidur dalam 1 kamar! Oh tidak.. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut akan terjadi apa-apa.
Tunggu sebentar.. Apa yang harus aku takutkan, sedangkan pria tua ini dalam keadaan tidak sadar. Aku hanya harus mengantarkannya kekamar itu, kemudian aku bisa langsung pulang. Bodoh.. Kenapa pikiranku mesum sekali.
Aku ikuti saja dulu perkataan teman pria ini. Selanjutnya lihat saja nanti setelah sampai dihotel.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
[Up 2-3 hari]