
Aku keluar dari ruang neraka itu. Berjalan kikuk menuju meja kerjaku. Tubuhku masih terasa gemetar.
Aku melakukan gerakkan kecil untuk melemaskan otot-otot ku yang dari tadi tegang karna ketakutan.
“Assistant Qeezya..” Panggil Sekretaris Clarisa dari meja kerjanya.
“Ya..” Jawabku dan menghampirinya. “Ada apa Sekretaris Clarisa?” Tanyaku saat tiba di hadapannya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya. Saya baik-baik saja”
“Syukurlah..” Ia tersenyum.
Sepertinya Sekretaris Clarisa mencemaskan ku. Terlihat dari raut wajahnya.
“Saya tidak tau persis masalah apa antara kamu dan Presdir Ducan. Kalian pasti memiliki masalah pribadi. Saya tidak akan menanyakan apa itu.” Ucapnya dengan nada tenang. “Apa yang saya katakan di dalam tadi bukan untuk membela kamu, tapi ini sudah menjadi peraturan perusahaan. Saya tidak ingin seorang Presdir melakukan kesalahan, dan bertindak seenaknya pada seorang karyawan” Lanjutnya.
Dewasa sekali cara bicaranya. Tidak seperti pria tua sialan itu. Untung saja dia memiliki Sekretaris pintar seperti Sekretaris Clarisa.
“Iya saya mengerti Sekretaris Clarisa. Terimakasih banyak” Aku menundukkan kepala.
“Bekerjalah dengan baik. Jangan melakukan kesalahan yang akan membuatnya merasa tersinggung.”
“Baik Sekretaris Clarisa. Saya akan bekerja lebih baik lagi.
Ia tersenyum manis mendengar jawabanku.
“Kamu tidak perlu merasa takut, itu hanya prinsipnya dalam bekerja. Saya tau seperti apa sifat aslinya, karena saya selalu mendampinginya setiap hari”
Bagaimana mungkin aku tidak merasa takut. Lihat saja seperti apa pria tua sialan itu meneriakiku. Sudah seperti macan buas yang ingin menerkam mangsanya. Bahkan sampai saat ini teriakannya masih terngiang-ngiang di telinga ku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum agar tidak terlihat kesal.
“Sudah waktunya makan siang. Kamu boleh istirahat sekarang. Sebentar lagi saya juga akan keluar bersama Presdir Ducan.” Ucapnya sambil merapikan lembaran kertas di atas mejanya.
“Baik Sekretaris Clarisa.”
Terkadang aku berfikir, wanita seperti Sekretaris Clarisa tidak seharusnya menjadi pacar seorang pria seperti Presdir Ducan. Karna Sekretaris Clarisa terlalu baik. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa sabarnya Sekretaris Clarisa saat menghadapi Presdir sinting itu.
Eh, kenapa aku jadi memikirkan hubungan mereka.
Aku bergegas mengambil tas dan turun menggunakan lift. Aku berhenti di depan kantin perusahaan, dan masih berdiri di sana.
Sebenarnya aku tidak memiliki selera untuk makan hari ini. Tidak tau apakah karna suasana hatiku yang kurang baik, atau karna aku yang merasa bosan karna setiap harinya harus makan di kantin ini.
Tapi apa yang bisa aku lakukan. Keuanganku yang buruk mengharuskan aku untuk makan di kantin ini setiap harinya.
Aku ingin sekali bisa makan di luar seperti sebagian karyawan lainnya. Tapi, jika aku pakai uang ku untuk makan di luar hari ini, aku tidak yakin uangku akan cukup sampai akhir bulan sebelum tanggal penerimaan gaji.
Tapi jika hanya untuk secangkir kopi, aku rasa tidak akan membuat keuangan ku menipis banyak kan?
Dan akhirnya aku memutuskan untuk menikmati secangkir kopi sebuah cafe yang kebetulan tidak jauh dari sini.
Hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit aku tiba di cafe itu. Aku duduk di bagian depan dekat jendela. Memesan secangkir cappucino panas dan sepotong roti.
Andai bisa seperti ini setiap harinya. Keluar di jam istirahat untuk makan siang atau sekedar duduk santai menikmati secangkir kopi seperti ini. Hemm.. Damai sekali rasanya.
Tanpa sadar aku sudah senyum-senyum sendiri.
Memalukan. Untung tidak ada yang memperhatikan ku.
Tiba-tiba aku mengingat sesuatu yang ku simpan di dalam tasku. Aku mengeluarkannya.
__ADS_1
Ini amplop yang tadi pagi di lempar sama pria tua sialan itu.
Ini uang apa ya? Aku bahkan baru sepekan kerja di sana. Apa ini bonus mingguan?
Ahh.. tidak mungkin. Baik sekali dia memberikan bonus mingguan pada karyawannya. Apa lagi aku.
Tunggu sebentar.. Pria tua itu mengatakan bahwa ia tidak ingin berhutang pada ku.
Jadi ini uang aku? Tapi uang apa?
Masih dengan rasa penasaran aku membuka amplop itu. Banyak rupiah di sana.
Banyak sekali.
Sejenak aku terdiam.
Aku tau ini uang apa! Pasti uang bayaran untuk pelayanan ku terakhir kali saat menjadi teman wanitanya di sebuah karaoke malam itu.
Ya, tidak salah lagi. Ini pasti uang itu. Karena di lihat dari totalnya, sama persis dengan yang pernah ia kasih saat pertama kali aku menjadi teman wanitanya.
Ternyata dia masih mengingatnya. Padahal aku sudah melupakan uang ini.
Pekerjaanku yang sekarang sudah membuat aku melupakan semua itu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tapi pria sialan itu malah kembali mengingatkanku dengan uang ini.
Aku sudah tidak membutuhkan uang ini lagi. Meskipun uang peganganku sekarang ini sudah semakin menipis, tidak tau bisa bertahan sampai tanggal nanti waktu penerimaan gaji atau tidak. Aku tetap tidak akan menggunakannya.
Mengingat dari mana aku menghasilkannya saja membuat aku merasa malu pada diriku sendiri.
BERSAMBUNG...
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.
__ADS_1