DEMI UANG

DEMI UANG
KEHILANGAN DOKUMEN PENTING


__ADS_3

Aku sudah berada ke meja kerjaku. Sekretaris Clarisa dan Presdir Ducan belum kembali.


Baiklah. Ayo bekerja dengan semangat lagi! Ku kepalkan tangan ke udara.


Banyak dokumen penting yang menunggu untuk aku kerjakan.


Mulai dari mana ya?


Saking banyaknya aku jadi bingung harus mulai dari mana.


Tak lama setelahnya terdengar suara langkah sepatu.


Sepertinya mereka kembali. Tapi hanya Sekretaris Clarisa yang terlihat dari arah pintu masuk.


Mana pria tua sialan itu? Bukankah tadi mereka pergi bersama?


Tunggu.. Kenapa aku mencarinya? Harusnya aku senang dia tidak kembali.


“Assistant Qeezya” Panggil Sekretaris Clarisa yang berhenti di hadapan mejaku.


“Ya..”


“Besok pagi Presdir Ducan dan saya ada meeting, bersama seluruh managemen perusahaan untuk membahas program kinerja baru anak perusahaan. Jadi saya minta tolong kamu untuk fotocopy ini. Bahan yang akan di bawa meeting besok pagi.” Menyodorkan sebuah map berwarna biru tua. “20 rangkap ya” Lanjut perintahnya.


“Baik Sekretaris Clarisa. Saya kerjakan sekarang” Aku langsung berdiri dan bergegas menuju lift.


Mesin fotocopy itu ada di ruang penggandaan di lantai 2, tepatnya di dalam ruang periklanan.


Setibanya aku di sana, terlihat ruang itu sangatlah luas. Tata ruangannya terbuka sehingga terlihat jelas ada beberapa karyawan yang bekerja secara bersamaan di ruangan tersebut tanpa adanya penyekat.


Aku berjalan perlahan menuju ruang penggandaan yang ada di sudut ruangan ini di bagian belakang tanpa menimbulkan suara.


Saat aku tiba di depan ruang penggandaan, aku mematung di sana. Terlihat dari luar ada banyak mesin fotocopy di dalamnya. Ruangan ini tidak terlalu besar, hanya berisi mesin fotocopy dan juga rak-rak kertas.


Bagaimana cara menggunakannya ya?


Aku berdiri diam. Bingung harus melakukan apa. Karna aku tak pernah menggunakan alat ini sebelumnya.


“Assistant Qeezya ya?” Tanya seorang pria yang sudah berdiri tepat di belakangku.


“Iya saya” Jawabku sambil berputar arah menghadapnya dan memberi senyuman manis.


Au.. Dia masih muda, mungkin hanya beda usia 2 atau 3 tahun dengan ku. Apa dia bekerja di ruangan ini?


“Sedang apa? Kenapa hanya berdiri di sana?”


Hahaha. Sepertinya dia memperhatikan ku.


“Saya ingin fotocopy dokumen ini” Malu-malu aku menunjukan dokumen yang ku bawa.


“Tau cara menggunakannya?”


Aku menggelengkan kepala.


“Lucu sekali kamu. Sini saya bantu”


Pria itu berjalan mendahuluiku masuk keruang penggandaan itu. Ku susul dari belakang.


“Maaf ya, jadi merepotkan anda” Ucapku setiba di depan mesin fotocopy.


“Jika butuh bantuan, jangan hanya berdiri saja. Kamu bisa minta tolong sama siapapun yang ada di ruangan ini” Tegasnya menjelaskan dengan nada bersahabat.


“Maaf..” Ucapku lagi menundukkan kepala.

__ADS_1


Pria itu hanya tersenyum mendengar kata maaf dari ku.


“Letakkan lembaran kertas dokumen itu di atas mesin ini” Perintahnya sambil menunjukkan tempat untuk aku menaruhnya.


“Semuanya?”


“Iya”


Dengan sigap aku melakukan sesuai perintahnya. Hanya menaruh lembaran dokumen itu di atas mesinnya saja, tanpa membuka atas mesin fotocopynya.


Apa seperti ini? Aku sedikit ragu. Karena yang ku tau bagian atasnya harus di buka dulu sebelum menaruh kertas yang ingin di copy.


“Kamu ingin copy berapa rangkap?”


“20” Sambil mengangkat tanganku menunjukan dua jari.


“Hemm..” Pria itu tertawa kecil.


Aku langsung menurunkan tanganku.


Oh iya, ini di kantor, tak seharusnya aku melakukan itu.


Aku ikut tertawa kecil karna malu.


“Kamu tekan ini!” Ia menunjukan salah satu tombol. “Ini total rangkap yang ingin kamu copy, tekan sampai muncul angka yang kamu butuhkan”


Aku melakukannya hingga muncul angka 20.


“Kemudian tekan tombol yang besar ini”


Aku kembali melakukannya.


Zeet.. Zeet.. Zeet..


“Ahahaha. Kamu kaget?” Ia tertawa lepas.


Hehehe. Mungkin saat ini wajahku memerah karna malu.


Hasil copynya mulai keluar dari samping mesin.


“Kamu tunggu saja sampai mesinnya berhenti”


“Baik. Terimakasih banyak ya” Ucapku sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badanku.


“Aku bukan Presdir mu. Jadi santai saja” Ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan ku.


Bukankah Presdir ku Presdir mu juga. Tunggu.. baru saja dia bicara non formal pada ku.


—————


Cahaya matahari sudah menembus jendela kamar tidur.


Kenapa malam berlalu begitu cepat. Aku bahkan baru memejamkan mata. Pikirku.


Jam menunjukan pukul 06.30.


Mati aku! Kenapa alarm ku tak berbunyi?


Aku langsung berlari menuju kamar mandi. Mungkin aku lupa sudah mesenyapkan alarmku yang biasanya berbunyi pukul 6 pas.


Setelah berpakaian rapi aku bergegas keluar dari kamar. Menuruni anak tangga sambil memasukkan handphone kedalam tas. Aku sudah memesan taxi online.


“Telat telat telat”

__ADS_1


Aku berlari setelah turun dari taxi menuju lobby dan menaiki lift menuju lantai 7 ruang kerjaku.


Di saat buru-buru seperti ini, aku merasa gedung perusahaan ini menjadi semakin luas dan juga besar.


Nafasku terengah-engah setibanya aku di dalam ruanganku. Sekretaris Clarisa belum ada di mejanya.


Huh.. Untung saja.


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ku letakkan tasku di atas meja.


Sebelum Sekretaris Clarisa tiba lebih baik aku menyiapkan dokumen yang akan di bawanya meeting pagi ini.


Ku luaskan pandangan mencari dokumen itu.


Aku meletakkannya di mana ya? Gumamku sambil mencari di sela-sela rak buku.


Kenapa tidak ada. Padahal kemarin sore aku meletakkannya di atas meja.


Aku juga membuka seluruh laci yang ada di meja kerjaku. Dan tetap tidak menemukannya.


Apa aku meninggalkannya di mesin fotocopy ya? Tidak. Aku yakin sudah membawanya. Bagaimana ini? Aa..


Aku mulai panik. Hampir 10 menit aku mencarinya, tetapi tetap tidak menemukannya. Dan akhirnya aku memituskan untuk mengeceknya di ruang penggandaan.


Aku setengah berlari menuju ruangan itu. Setibanya aku di sana, aku langsung mencari di setiap lembaran kertas yang terlihat menumpuk di sana. Dan aku juga tidak menemukannya.


Bagaimana ini? Jika aku tidak nenemukan dokumen itu segera, bisa jadi ini adalah hari terakhir aku bekerja di sini. Karena tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan aku tetap berada di sini.


Kenapa aku ceroboh sekali sih. Dokumen sepenting itu aja aku bisa lupa meletakkannya di mana. Dasar bodoh!


Aku kembali keruangan dengan wajah lesu. Aku tidak memiliki semangat lagi. Aku sudah pasrah jika harus berakhir di sini.


Deg deg deg


Jantungku berderak hebat saat Sekretaris Clarisa dan Presdir Ducan tiba di ruangan. Aku memberanikan diri menghampiri Sekretaris Clarisa setelah ku lihat Presdir Ducan memasuki ruangannya.


“Sekretaris Clarisa.. Maaf saya menghilangkan dokumen itu”


Tanpa basa-basi aku mengatakannya dengan sangat lantang. Perasaanku sudah bercampur aduk. Takut, cemas, dan rasa bersalah.


“Dokumen yang mana?” Tanyanya santai.


“Dokumen yang akan di bawa meeting pagi ini”


“Hihihi” Sekretaris Clarisa tertawa kecil.


Kenapa ia tertawa? Harusnya dia marahkan?


“Kami baru saja selesai menghadiri meeting”


“Ha?”


“Dokumen itu sudah saya ambil dari meja kamu pagi-pagi sekali sebelum kamu tiba”


Aku mematung kaget.


“Maaf ya tidak memberitahu mu” Lanjutnya sambil menepuk lenganku.


Pengen nangis rasanya. Ingat bagaimana paniknya aku tadi, hingga keluar keringat dingin.


BERSAMBUNG...


Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.

__ADS_1


__ADS_2