
Apa aku salah pernah menjadi teman wanita bayaran mu waktu itu?
Bukankah kita tidak pernah saling bercumbu. Apa tidak ada toleransi sedikitpun untukku.
Biarkan aku bekerja di sini seperti seorang karyawan pada umumnya. Lagi pula keberadaan ku tidak mengganggu mu sama sekali bukan?
“Presdir Ducan...”
“Sekretaris Clarisa.. Apa tujuan kamu kesini?”
Aku belum selesai berbicara, ia malah memotong perkataanku dan menanyakan maksud kedatangan Sekretaris Clarisa ke ruangannya.
“Ini ada surat panggilan meeting dari kota F. Mereka ingin menunjukkan sample produk baru untuk proyek mereka tahun ini”
“Baik.. Kamu letakkan saja di sana!” Ia menunjuk meja kerjanya “Kamu boleh keluar sekarang” Lanjut perintahnya.
Ternyata dia ingin Sekretaris Clarisa keluar dari ruangannya. Pasti dia ingin mencaciku lagi.
Tapi kenapa tidak langsung di depan Sekretaris Clarisa?
Apa dia tidak ingin Sekretaris Clarisa tau bahwa ia pernah menjadikan ku teman wanitanya?
Apa dia merasa malu?
Jika memang iya, syukurlah.. Berarti tak hanya aku yang menghindar agar tidak di ketahui orang lain.
Setelah Sekretaris Clarisa keluar dan menutup kembali pintu, pria tua ini berjalan kembali ke kursi mewahnya dan duduk dengan wibawanya.
“Cara apa yang sudah kamu pakai agar bisa di terima bekerja di sini? Suara dan wajahnya kembali dingin. “Apa wanita seperti kalian tidak memiliki rasa malu?” Lanjutnya bertanya.
Tidak, jika aku jawab dia pasti akan semakin marah. Lagi pula aku harus jawab apa. Bukankah dia juga tau, seketat apa seleksi kerja di perusahaannya.
Aku hanya semakin menciut di tempatku berdiri. Tidak berani bergerak sedikitpun. Aku bahkan menarik nafas pelan tanpa menibulkan suara.
__ADS_1
“Segera berikan surat pengunduran itu!” Ucapnya sinis.
“Persdir Ducan.. saya masih ingin bekerja di sini. Tolong jangan paksa saya untuk mengundurkan diri. Karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini” Ucapku kembali memohon.
“Ternyata nyali kamu besar juga ya!”
Apa lagi yang bisa aku lakukan selain memohon pada mu, aku hanya ingin mempertahankan posisiku saja.
“Kamu tenang saja, saya akan tetap membayar semua gaji kamu sesuai kontrak yang sudah kamu tandatangani, kamu hanya tidak perlu bekerja lagi”
“Tolong jangan seperti itu Presdir. Saya tidak ingin menerima gaji buta. Izinkan saya tetap bekerja di sini sesuai kontrak. Saya akan keluar jika kontrak kerja saya sudah selesai. Saya janji tidak akan membuat masalah dan akan bekerja keras. Saya mohon jangan usir saya”
Tak henti-hentinya aku memohon belas kasihan darinya. Berharap dia tidak mengusirku secepat itu sebelum masa kontrak ku selesai.
Gaji buta hanya alasanku saja. Yang aku butuhkan bukan cuma gaji, tetapi juga pengalaman kerja.
Aku bahkan baru sepekan bekerja di sini. Belum banyak pengalaman yang aku dapat. Jika aku keluar sekarang aku tidak memiliki cukup modal untuk mencari pekerjaan baru di luar sana. Aku butuh pengalaman kerja, mempermudah aku cari pekerjaan baru.
Aku juga tidak ingin kembali berdiam diri di rumah lagi seperti bodoh. Itu akan membuat aku semakin stres. Tidak ada pemasukan sama sekali.
Tetapi apa akan ada orang yang seperti Presdir Ducan nantinya. Membayar tapi tak menyentuh.
“Oke baiklah. Kamu saya izinkan tetap bekerja di sini selama masa kontrak.”
Wah... Serius dia menerima permohonanku, dan mengizikanku tetap kerja di sini. Aku tidak salah dengarkan?
“Terimakasih Presdir Ducan. Terimakasih..” Aku membungkukkan separuh badanku.
“Tapi ada satu tugas tambahan untuk mu!”
“Iya?”
“Mulai sekarang pekerjaan kamu tidak hanya menerima tugas dari Sekretaris Clarisa. Kamu juga harus melakukan apa yang saya perintahkan. Apapun itu!”
__ADS_1
Tidak jadi masalah. Bukankah tugas dari Sekretaris Clarisa juga pekerjaan dari anda. Yang jelas saya masih bisa bekerja di sini.
“Baik. Saya akan melakukan apapun yang Presdir Ducan perintahkan.” Jawabku bersemangat. “Sekali lagi terimakasih banyak sudah memberi saya kesempatan. Saya akan selalu bersemangat dalam bekerja. Saya tidak akan mengecewakan anda” Janjiku
“Kita lihat saja.. Sampai kapan kamu bisa bertahan dengan pekerjaan ini.”
Ternyata dia masih tetap ingin aku untuk keluar dari perusahaan ini.
“Jika kamu sudah tidak tahan, segera serahkan surat pengunduran diri itu!”
Baiklah. Aku akan bekerja dengan keras, aku akan menunjukkan kinerja baikku. Aku tidak akan pernah menyerahkan surat pengunduran diri itu. Aku hanya akan keluar jika kontrak kerjaku sudah selesai.
“Silahkan keluar dari ruangan ini! sebelum saya berubah pikiran”
“Baik.. Saya permisi” Ku bungkukkan lagi badanku.
“Tunggu!” Perintahnya lagi dengan nada tinggi. Membuat aku terperanjak dan langsung nenahan langkahku.
“Ini ambil uang mu! Saya tidak ingin memiliki hutang dengan orang seperti mu”
Ia melempar sebuah amplop dengan sangat keras di atas mejanya hingga terlepar kesudut meja dan hampir terjatuh. Amplop itu baru saja ia ambil dari laci mejanya.
Hutang apa? Kapan Presdir Ducan berhutang pada ku. Aku bahkan belum sebulan bekerja di sini. Uang apa ini?
“Cepat ambil dan pergi dari sini!”
Suaranya sudah memenuhi ruangan.
“I-Iya baik..”
Aku terima aja dulu, nanti saja aku pikirkan lagi uang apa ini?
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.