DEMI UANG

DEMI UANG
PENGHIBUR PAGI


__ADS_3

Pagi sudah kembali. Hari ini matahari tampak bersemangat menyinari bumi. Aku sudah duduk di teras rumah menunggu taxi online ku. Tak perlu menunggu lama, yang ku tunggu akhirnya tiba. Dalam waktu 15 menit aku sudah berada di depan gedung Flowering Group.


Saat memasuki lobby. Aku dikejutkan dengan suara seorang pria.


“Selamat pagi?” Sapanya dan sudah berada di sampingku.


Langkahku terhenti.


“Ah.. Tuan fotocopy.” Panggilku refleks.


“Hey! Assistant Qeezya, aku punya nama.” Ia memetikkan jarinya di depan wajahku. ditambah dengan tatapan yang sangat tajam. Membuat aku terperanjak.


Pria ini lagi-lagi bicara non formal padaku. Padahal kami belum saling mengenal. Dia tau aku, mungkin karna aku adalah Assistetnya Sekretaris Presiden Direktur perusahaan ini.


Ini kali kedua aku dan dia bertemu setelah ia pernah membantuku di ruang penggandaan waktu itu.


“Hehe.. Maaf. Soalnya kita belum berkenalan. Nama anda siapa?” Ucapku malu-malu dan langsung menanyakan namanya.


“Mekka Ardion.” Jawabnya lantang.


Aku tersenyum mendengar ia menyebut namanya. Bersemangat sekali pria ini.


“Umur anda berapa?” Tanyaku lagi.


“Nggak usah kaku, santai saja. Umur ku 25 tahun. Masih mudakan?” Ia memainkan alisnya penuh kebanggan.


“Hehe iya. Tapi saya lebih muda 3 tahun dari anda. Harusnya saya panggil anda apa? Tuan Mekka atau Kak Mekka?” Tanyaku sambil tersenyum.


“Sudah ku bilang santai saja. Nggak usah panggil Tuan atau Kak. Panggil saja Mekka.” Ia mempertegas.


“Apa nggak sopan panggil nama?”


“Umur kita nggak jauh beda. Jadi aku lebih suka di panggil nama.”


Tapi inikan di kantor. Apa tidak apa-apa?

__ADS_1


“Emm.. Kalau begitu anda..”


Belum selesai aku bicara dia sudah menepis perkataanku.


“Jangan anda! Tapi ka-mu.” Ia sedikit membungkukkan badannya menyamai tinggi tubuhku agar wajahku bisa terlihat jelas olehnya. “Aku dan kamu.” Lanjutnya memperjelas.


Oke oke.. Dia benar-benar ingin aku ikut bicara non formal padanya. Sampai-sampai mengajariku begitu. Apa seperti ini cara dia ngajak orang berteman. Lucu sekali pria ini.


“Ehehe.. Oke. Kalau begitu kamu juga jangan memanggilku Assistant Qeezya. Panggil nama saja.” Pintaku.


Kan tidak lucu kalau hanya aku yang memanggilnya nama.


“Okey Qee..zya.”


Haha kok terdengar lucu ya. Tapi juga terdengar akrab. Aku jadi merasa terhibur pagi ini.


“Aku naik dulu ya Mekka.”


“Okey. Bye Qeezya..” Sambil melambaikan tangan.


Aku tiba di ruanganku. Sekretaris Clarisa sudah ada di mejanya.


“Assistant Qeezya.” Panggil Sekretaris Clarisa saat aku hendak duduk di kursiku.


“Ya Sekretaris Clarisa.”


“Presdir Ducan sudah menunggumu dari tadi untuk membuatkannya kopi.” Ucapnya sedikit berbisik.


Ha? Pria tua itu sudah berada di ruangannya sepagi ini. Tak biasanya.


Aku langsung bergegas ke pantry dan membuat kopi untuk pria tua itu. Perasaanku mulai di rasuki rasa tidak enak.


Pria tua itu pasti akan marahiku lagi. Apa pagiku selalu seperti ini? Hufh..


Tubuhku gemetar setelah mengetuk pintu ruangannya. Aku menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa takutku.

__ADS_1


“Masuk!” Teriaknya dari dalam.


Ku buka pintunya dan menutup kembali dengan sangat pelan. Pria itu sedang duduk di sofa tamu dengan posisi kaki seperti biasa ia lakukan, sambil memegang sebuah berkas dan juga pena. Aku berjalan menghampirinya.


“Kopi anda Presdir.”


Ia tak merespon ucapanku, melirikpun tidak.


Kapan ia pernah meresponnya.


Meja tempat ia duduk saat ini tingginya hanya sedengkulku, membuat aku harus jongkok saat menaruh kopi untuknya. Ia masih tampak serius membaca lembaran kertas yang ia sandarkan diatas pahanya.


Saat berada di bawah seperti ini, wajah pria tua itu jadi terlihat sangat jelas. Seperti ada cahaya terang dari belakang punggungnya.


Padahal aku sedang tidak ingin melihatnya. Tapi mata ini tak bisa menahan untuk tidak memperhatikannya. Pria tua itu memiliki aura yang bisa menarik pandanganku.


Saat sedang seperti ini, kenapa wajahnya terlihat tampan ya? Tidak. Dia memang sangat tampan. Aku pernah mengakuinya juga waktu itu. Ditambah lagi setelan jas bewarna navy yang ia kenakan sekarang ini, membuat dia semakin terlihat sempurna. Tapi sayang, hatinya tidak sesempurna penampilannya.


Kenapa aku jadi terus memperhatikannya? Ah, lebih baik aku segera keluar dari sini sebelum ia menyadari dan memarahiku.


Aku kembali berdiri.


“Bawakan sarapan seperti kemarin!”


Ha.. Lagi?


Bukankah kau tau aku membelinya diluar. Kau ingin aku keluar untuk membelinya lagi?


Kau benar-benar pria tua menyebalkan..


“Baik Presdir.” Aku menundukan kepala karena kesal.


BERSAMBUNG...


Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..

__ADS_1


__ADS_2