DEMI UANG

DEMI UANG
INGIN SARAPAN 2


__ADS_3

Kata Sekretaris Clarisa toko roti itu tidak jauh dari sini. Jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja.


Hampir 5 menit sudah aku berjalan, tapi belum menemukan toko roti itu. Aku bahkan melewati Cafe yang kemarin aku kunjungi, tapi Cafe itu masih belum buka. Aku terus berjalan dan mencarinya.


Toko roti mana sih yang Sekretaris Clarisa maksud?


Aku meliarkan pandanganku. Disaat sudah hampir 10 menit aku berjalan, akhirnya aku menemukan toko roti itu.


Ini sih bukan dekat?


Hemm.. Kalau tau bakal sejauh ini aku tidak akan berjalan kaki.


Aku masuk kedalam toko roti itu. Membeli beberapa potong sandwich dengan isian telor dadar dan juga sosis. Aku rasa sandwich sarapan yang cocok untuk pria tua itu.


Setelah membayar di kasir aku bergegas kembali ke gedung perusahaan dengan menaiki taxi. Tiba di lobby aku berlari menuju lift. Tidak tau seperti apa penampilanku sekarang. Keringatku sudah membasahi sebagian kemejaku.


Aku sudah berada di pantry. Nafasku masih terengah-engah karena berlari. Dengan nafas yang masih berat aku menyiapkan sarapan yang sudah ku beli.


Aku mengatur nafasku dan merapikan sedikit pakaianku sebelum memasuki ruangannya.


Tuk tuk tuk


“Masuk!” Terdengar suara dari dalam setelah aku mengetuknya.


Aku masuk. Pria tua itu tampak berdiri di sudut ruangan menghadap jendela. Sepertinya ia sedang menatap keramaian aktifitas masyarakat di pusat kota.


“Permisi Presdir, ini sarapannya.” Ucapku berjalan masuk.


Pria itu masih menatap keluar jendela.


“Jam berapa sekarang?” Bicaranya dingin.


Bukankah dia mengenakan jam tangan, kenapa malah menanyakan padaku?


“Jam 09.15 Presdir” Jawabku setelah melihat jam di dinding ruangannya.


“Apa kamu sendiri yang membuat sarapan itu?”


“Tidak Presdir.”


“Lantas kenapa lama sekali?” Nada suaranya mulai tinggi.


“Ma,maaf Presdir.. Perusahaan ini tidak menyediakan sarapan.” Aku rasa kau juga tau itu. “Jadi saya keluar untuk membelinya. Maaf membuat anda menunggu lama” Aku menundukkan kepala.


“Apa kamu..”


Tuk tuk tuk


Ucapannya terhenti setelah mendengar ketukkan pintu. Sekretaris Clarisa muncul dengan membawa IPad di tangannya.

__ADS_1


“Presdir Ducan.” Panggil Sekretaris Clarisa setelah masuk.


Aku masih berdiri di posisiku, dan masih memegangi nampan berisi sandwich yang ku beli. Pria itu membalikkan badannya dan berjalan karah sofa tamu di ruangannya lalu duduk.


“Saya menerima email dari anak perusahaan kota F. Mereka mengirim beberapa foto sample produk baru yang akan di meetingkan bulan ini.” Ucap Sekretaris Clarisa memberi info.


“Kamu.” Ia memanggilku. “Taruh saja sarapan itu di atas meja” Ia menunjuk meja kerjanya.


“Baik.” Aku berjalan perlahan dan menaruhnya.


Setelahnya aku langsung bergegas keluar.


Hufh.. Untung saja Sekreataris Clarisa masuk keruangan itu. Kalau tidak, habis sudah aku di maki oleh Presdir gila itu. Jadi merinding.


—————


Jam menunjukan pukul 18.45


Kekey selesai memasak untuk makan malam. Ada 2 menu masakan di atas meja. Ikan saos dan juga tumis sayur. Semuanya terlihat enak. Ia memintaku untuk segera menyantap masakkannya bersama.


Hari ini Kekey sedang libur bekerja. Jadi dia sengaja memasak untuk makan malam hari ini.


“Kamu kok bisa pinter masak sih?” Tanyaku sambil menyuap makanan kemulut.


“Bakat terpendam. Hihi” Jawabnya.


“Serius?”


“Iya. Aku pengen banget bisa masak.”


“Kapan-kapan kita masak bareng ya.”


“Janji ya?”


“Iya janji”


“Asyik..”


Aku bersemangat sekali menyantap makan malam hari ini. Masakan Kekey benar-benar enak. Sampai-sampai aku nambah dua kali. Haha.


Setelah selesai makan kami lanjut duduk di kursi taman depan rumah. Sambil menikmati angin malam.


“Kamu punya pacar Key?” Tanyaku sambil menatap langit hitam di atas sana.


“Nggak ada. Kamu?”


“Sama. Ada seseorang yang kamu suka?”


“Nggak ada”

__ADS_1


“Kenapa? Kamu milih-milih ya?” Aku mulai menatap kearahnya bertanya dengan rasa penasaran.


“Haha. Nggaklah. Pekerjaanku yang seperti ini mana bisa memikirkan hal seperti itu.”


“Ia sih. Aku berharap kamu bisa segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”


“Aminn.. Kamu sendiri bagaimana, ada seseorang yang kamu sukai?”


“Haha.. Nggak ada juga”


“Tapi yang suka kamu banyakkan?”


“Wah.. Ngarang kamu. Mana ada yang suka sama aku”


“Nggak mungkin nggak ada yang suka sama cewek cantik seperti kamu” Kekey memasang wajah seperti tidak yakin dengan jawabanku.


“Haha.. Kok aku jadi geli ya dengarnya”


“Seriusan nggak ada? Teman kerja kamu?” Kekey mulai penasaran.


“Serius nggak ada. Apa lagi. Di ruangan tempatku bekerja hanya ada aku dan Sekretaris Clarisa saja. Boro-boro ada yang dekatin. Aku jarang bertemu karyawan lain, karna pekerjaanku tidak berurusan sama mereka.“ Jelasku.


“Oo begitu ya. Tapi kamu happy kan kerja di sana?”


“Happy sih demi gaji besarnya. Tapi aku nggak suka sama Presiden Direktur Perusahaan itu”


“Tuan Ducan?”


“Iya” Sambil menganggukan kepala.


“Kenapa? Oh iya, waktu itu kamu bilang dia ingin memecat mu, apa itu terjadi”


“Emm..” Mengangguk lagi “Dia benar-benar ingin memecatku waktu itu, tapi karena peraturan perusaahnnya tidak memperbolehkan memecat karyawan tanpa ada alasan yang terbukti melanggar peraturan perusahaan jadi dia tidak bisa memecatku dan kembali menarik kata-katanya. Tapi..” Aku menahan kataku.


Aku malu untuk melanjutkannya. Akan terasa menyedihkan jika aku menceritakan semuanya.


“Tapi kenapa?” Tanya Kekey penasaran.


“Dia meminta aku untuk mengundurkan diri. Tapi aku tidak mau.” Aku tertunduk. “Karna aku masih ingin bekerja di sana. Aku butuh pekerjaan itu. Aku bahkan sampai memohon padanya untuk tidak mengusirku.”


Mataku mulai terasa perih, dan berair seperti ada sesuatu yang masuk. Dadaku bahkan jadi terasa sesak.


Kok jadi sakit gini ya?


Kekey mendekatiku dan mengelus pundakku.


BERSAMBUNG...


Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..

__ADS_1


__ADS_2