
Tidak terasa 3 bulan sudah aku dan Dean berpacaran. Pria yang selalu membuat aku jatuh cinta itu sungguh pria yang hangat. Tidak hanya perhatian bahkan dia memperlakukan aku layaknya anak kecil. Ia membuat aku terbiasa dengan keberadaan dia.
Tapi hari ini Dean tidak seperti biasanya, dia tidak memberi ku kabar. Apa dia sibuk dengan kerjaannya? Bahkan sudah selarut ini belum ada kabar sama sekali.
Mata ku mulai mengantuk, aku harap besok Dean bisa memberi ku alasan untuk hari ini.
Saat aku sudah memejamkan mata..
🎵Ting Tong.. Ting Tong..🎵
Terdengar suara bel rumah.
Siapa malam-malam begini datang berkunjung? Apa mungkin Dean, tapi kenapa harus malam-malam begini. Gumam ku
Ku lihat jam menunjukan pukul 11.10 Aku turun untuk membuka pintu. Mataku masih terasa sangat berat, sambil mengucek-ngucek mata aku berjalan perlahan menuju pintu. Dan ternyata benar itu Dean.
“🎶 Happy birthday to me.. Happy birthday to me.. Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday to me.. 🎶”
Dean menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya sambil membawa kue. Aku merasa kaget, dan tak percaya.
“Dean.. Ka.. Kamu hari ini..” Ucap ku terbata
Dean masih berdiri sambil tersenyum dengan kue di tangannya.
“Maaf.. Aku benar-benar nggak tau kalau hari ini kamu berulang tahun” Lanjut ku dengan nada sedih
Aku benar-benar merasa bodoh, melihat Dean datang sendiri ke rumah ku untuk merayakan ulang tahunnya.
“Nggak apa-apa” Katanya sambil membelai rambut ku
Dia pasti menunggu ucapan ku seharian ini. Tapi aku malah menunggu dia yang mengabari ku, kenapa aku tidak bisa peka sih. Padahal dia mungkin sudah memberi ku kode.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku tidak mengetahui tanggal lahir pacar ku sendiri. Pacar seperti apa aku ini, hal sebesar ini saja aku tidak mencari tau.
“Aku benar-benar minta maaf” Ucap ku lagi
Dean langsung merangkul ku penuh kasih sayang.
Di luar terasa dingin dan berangin, aku mengajak Dean masuk ke dalam rumah. Kami duduk di ruang tv.
Aku membuatkannya secangkir teh panas dan memotong kue yang sudah di bawanya. Aku masih merasa canggung sedikit kurang enak, karna di hari ulang tahunnya ini aku tidak mempersiapkan apa-apa.
“Selamat ulang tahun ya.. Maaf aku kurang perhatian” Kata ku sambil menundukan kepala penuh rasa bersalah
“Udah jangan di fikirkan lagi” Jelasnya
Dean memegang tangan ku, seketika suasana menjadi hening. Dia menatap ku sambil tersenyum. Tatapannya semakin lama semakin dalam, dan perlahan mulai mendekati ku.
“Lagi-lagi kamu mengenakan pakaian yang tidak seharusnya” Bisiknya lembut
Dean mendorong ku perlahan hingga tersandar di sudut sofa. Ia langsung mencium bibir ku, melumatnya penuh nafsu. Tanganya memegang leher ku di bagian telinga. Tubuh ku mulai terasa kaku, dan otot-otot ku menjadi tegang.
Kali ini ia menciumi leher ku, membuat tubuh ku bereaksi tak tentu arah. Nafas Dean terdengar terengah-engah. Tangannya mulai turun ke area dada, jantung ku berdetak cepat.
“Emmh..” Tak sadar aku mengeluarkan suara
Dean semakin agresif. Ia bersikap tidak seperti biasanya, malam ini dia begitu bersemangat.
Bibirnya sudah menyentuh bagian dada ku, ia juga menarik pakaian ku keatas, sehingga celana dalam dan perut ku kelihatan.
“Cukup Dean.. Umhh...”
Dean tak menghiraukan ucapan ku. Ia masih terus menggelutiku penuh nafsu.
__ADS_1
Tangannya bermain di perut ku, sesekali mencoba menyentuh bagian intim ku dan aku menepisnya. Ia melanjutkan ciumannya ke area telinga.
“Ahh..” Jerit ku kecil tak tertahan, karna ini adalah salah satu daerah sensitif ku
Dean menggigit daun telinga ku. Nafasnya terdengar jelas, sesekali ia mengeluarkan lidah dan menjilatnya.
“Ummh... Emmh..” Desah ku
Ia kembali mencoba menarik celana ku, tersadar aku langsung menahan tangannya.
“Dean jangan..” Ucap ku
Tapi dia tetap memaksa untuk membukanya. Dengan sigap aku langsung mendorongnya, dan..
“Plakkk!!!” Tangan ku reflek menamparnya
Aku langsung berdiri dan merapikan pakaian ku.
“Kamu sudah melewati batas” Ucap ku penuh emosi
Dean hanya terdiam, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seolah menyesali apa yang baru saja dia perbuat.
“Lebih baik kamu keluar sekarang!” Lanjut ku bersikap dingin
Seperti ada bara api di dalam dada ku.
Dean terlihat mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mengambil langkah keluar meninggalkan ku, dan bahkan tak membalikkan pandangannya untuk melihat kearah ku.
Aku menangis sejadi-jadinya. Aku malu dan kecewa telah membiarkan Dean mencoba melakukan itu.
Aku menerimanya jika itu hanya sebuah ciuman, karna aku juga sangat menginginkannya. Tapi jika itu menyangkut bagian intim ku, maaf aku sangat kecewa kamu setega itu mencoba merusak harga diri ku.
__ADS_1