
Aku masih mematung di depan meja Presdir Ducan.
Pria itu duduk bersandar di kursi empuknya. Aku tak berani menatap wajahnya, aku kembali menundukan kepalaku.
Tubuh ku gemetar, kakiku terasa lemas tak bertenaga. Aku takut kalau pria tua itu akan mengusirku. Karna yang dia tau aku adalah wanita penghibur yang pernah ia bayar.
“Presdir Ducan ini Nona Qeezya Assistant baru saya” Ucap Sekretaris Clarisa memperkenalkan ku “Assistant Qeezya silahkan perkenalkan diri” Lanjut berbisiknya padaku
Aku menganggukkan kepala dan menarik nafas pelan tanpa menimbulkan suara. Kembali ku beranikan diri untuk menatapnya pria tua itu.
Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah aku memperkenalkan diri. Jika memang harus di maki-maki di sini, apa yang bisa aku perbuat. Aku hanya akan malu pada Sekretaris Clarisa. Meskipun aku bukan wanita seperti itu, tetapi tetap saja aku pernah di bayarnya untuk hal semacam itu.
“Nama saya Qeezya Aileen, saya bekerja sebagai Assistant Sekretaris Clarisa” Ucapku singkat memperkenalkan diri
Pria tua itu hanya diam tak merespon sedikitpun, membuat aku semakin merasa gelisah. Mata ku masih menatapnya penuh wanti-wanti. Aku menunggu apa yang akan dia katakan padaku.
Tiba-tiba saja ia berdiri sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana. Mataku beralih mengikuti langkah kakinya yang berjalan mendekati kami. Ia berhenti tepat di hadapan ku dan bersandar sedikit duduk di sudut mejanya. Aku semakin menciut dan mengeluarkan keringat dingin di telapak tanganku.
“Berapa usiamu?” Tanyanya
Kenapa dia bertanya usia? Bukankah dia sudah pernah menanyakan ini sebelumnya. Apakah dia ingin memastikan lagi?
“23 tahun Presdir.. Du.. can” Jawabku terbata
__ADS_1
Ku lihat dia tersenyum mendengar jawabanku. Aku malah semakin takut, senyumnya seperti ingin membunuhku.
“Pasti kamu belum memiliki banyak pengalaman” Ucapnya membuat aku kaget.
Apa Presdir Ducan bercanda? Dia berbicara seolah aku benar-benar orang yang baru saja ia kenal. Atau.. jangan-jangan dia memang tidak mengenaliku? Bukankah sudah terlihat sangat jelas, aku yang sedang berdiri tegap di hadapannya penuh rasa takut ini adalah wanita yang pernah di bayarnya waktu itu.
“Kamu harus banyak belajar dari Sekretaris Clarisa. Sering-seringlah bertanya padanya. Karena posisi kamu sangat berarti di sini” Lanjutnya memberi saran
Benar, Presdir Ducan tidak mengenali ku. Apa yang aku takutkan ternyata tidak terjadi. Perasaanku sedari tadi gelisah akhirnya mencair setelah mendengar ucapannya barusan.
“Baik Presdir Ducan. Saya akan bekerja keras dan selalu belajar dari Sekretaris Clarisa” Ucapku bersemangat sambil membungkukkan sedikit badanku
“Kalau begitu kamu boleh kembali bekerja, dan Sekretaris Clarisa kamu tetap di sini ada sesuatu yang ingin saya bicarakan” Lanjut perintahnya
Akhirnya bisa bernapas lega. Seperti habis keluar dari kandang buaya, yang tadinya takut bakal di makan hidup-hidup.
Aku langsung berlari ke toilet terdekat dan becermin. Apa sesusah itu mengenaliku. Ku perhatikan wajahku dengan seksama.
Aku rasa tidak ada yang berubah dari wajahku. Apa karena gaya berpakaian ku hari ini? Atau karena make up ku?
Tapi apa bedanya dari yang kemarin. Aku juga berpakaian sexy hari ini, hanya saja waktu itu aku mengenakan dress bukan kemeja dengan rok pendek seperti sekarang. Tapi kan sama-sama pendek. Kalau soal make up, aku juga mengenakan make up hari ini.
Apa karena lipstick merah pemberian dari Kekey?
__ADS_1
Benar aku rasa gara-gara lipstick itu, yang membuat penampilanku jauh berbeda dari sekarang.
kalau benar karena itu, syukurlah aku jadi bisa bernafas lega. Tak ada lagi yang perlu aku cemaskan. Hanya saja aku tidak akan pernah mau lagi mengenakan lipstick itu.
Aku kembali ke meja ku, ku lihat Sekretaris Clarisa sudah ada di mejanya. Ia terlihat senyum-senyum sendiri, seperti orang yang sedang berbunga hatinya. Terlihat jelas dari rona pipinya yang memerah.
Bukankah dia baru saja keluar dari ruangan Presdir Ducan. Apa yang mereka bicarakan? Sampai-sampai Sekretaris Clarisa tersenyum seperti itu. Atau jangan-jangan mereka punya hubungan sepesial.
Kenapa aku jadi memikirkan masalah pribadi orang lain. Apa hubungannya dengan ku. Meskipun itu benar, biarkan saja mereka. Lagi pula itu hal yang wajar, karena mereka selalu bersama. Tidak salah jika muncul perasaan satu sama lain.
Sekretaris Clarisa wanita yang cantik dan juga pintar, sedangkan Presdir Ducan pria yang sempurna, mereka benar-benar pasangan yang cocok.
“Assistant Qeezya.. Laporan kerja anak perusahaan dari kota P apa sudah selesai kamu input? Tanya Sekretaris Clarisa dari meja kerjanya
“Hampir selesai Sekretaris Clarisa” Jawabku
“Bagus.. Segera kamu selesaikan ya, karena laporan itu akan di meetingkan 3 hari lagi” Jelasnya
“Baik.. Segera saya selesaikan” Jawabku tegas
Aku masih saja bersikap kaku pada Sekretaris Clarisa. Padahal ini sudah hari ketiga aku bekerja dengannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Autor: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.