
Setelah kepergian kedua orang tuaku, aku menolak untuk di dampingi seorang wali. Sejak kapan mereka punya empati terhadapku. Setelah Papa dan Mama ku tiada?
Aku terbiasa hidup tanpa keluarga besar semenjak orang tuaku memutuskan untuk pindah ke pusat kota, setelah di anggkat sebagai wakil ketua departemen keuangan di suatu perusahaan. Waktu itu aku berusia 6 tahun.
Sejak saat itu tidak ada satupun keluarga dari mama yang perduli dengan kami. Mereka terkesan asing.
Waktu itu papa tidak bisa membantu banyak saat salah satu dari mereka ingin bekerja di perusahaan tempat papa bekerja. Mereka menganggap papa sombong, dan sengaja tidak ingin membantunya.
Papa tidak bisa berbuat banyak. Papa juga tidak ingin keluarga mama membencinya. Papa selalu berusaha melakukan yang terbaik agar mereka bisa mengerti posisi papa. Tapi mereka tetap bersikap asing.
Mama tidak ingin melihat papa selalu terpojokkan di keluarganya. Pindah kerumah ini adalah keputusan dari mama. Mama ingin keluarga kami hidup bahagia tanpa terbebankan.
Papa memang terlahir dari keluarga yang berada sejak lahir, dan menjadi anak tunggal sama seperti ku. Ibu Papa meninggal saat aku berusia 3 bulan. Ayahnya memutuskan menikah lagi setelah aku berusia 4 tahun dan pindah ke kota tempat asal istri barunya.
Meski mereka tinggal beda kota, tapi mereka sering mengunjungi kami, begitu juga sebaliknya. Opa dan Oma sangat baik dan sayang denganku.
Ternyata umur tidak ada yang tau. Opa akhirnya meninggalkan kami juga untuk selamanya karena penyakit asma yang ia derita sejak lama. Saat itu aku sudah duduk di bangku SMA.
Hingga saat ini hanya Oma yang ku punya. Orang yang tidak menurunkan darah dagingnya kepada ku itu masih sering memberi kabar. Meski dia sudah tidak muda lagi, tapi dia masih mengingatku. Menganggap ku sebagai cucu kandungnya.
***
Ini adalah hari pertama aku bekerja tanpa Sekretaris Clarisa. Ruangan ini jadi terasa hampa. Aku sampai bisa mendengar udara yang keluar dari mulut AC.
Jam menunjukan pukul 09.40
Tumben pria tua itu belum ke kantor jam segini. Selalunya jam 9 dia sudah duduk di ruangannya.
Masa bodoh. Baik aku cek email dari Sekretaris Clarisa dan mempelajarinya.
“Ehemm..”
Suara itu mengagetkan ku hingga terperanjat, membuat pahaku membentur keras bibir bawah meja saat aku berdiri secara tiba-tiba.
“Presdir.. Selamat pagi.” Ucapku sambil menahan sakit.
Kenapa pria tua ini tiba-tiba ada di depan mejaku. Sejak kapan dia masuk.
“Ke ruangan saya!” Perintahnya.
“Baik..”
Aku langsung membuntutinya dari belakang.
__ADS_1
Tiba di ruangannya.
“Mana kopi untuk saya?”
“Maaf Presdir, saya belum membuatnya. Tadi saya fikir ada sesuatu yang ingin segera anda katakan. Jadi maksud saya, saya akan membawakannya setelah ini.” Jelasku.
“Sudah. Tidak perlu. Saya akan keluar sebentar lagi.”
“Baik Presdir. Sekali lagi saya minta maaf.” Sambil menundukan setengah badanku.
Syukurlah.
“Tugas yang di berikan Sekretaris Clarisa sudah sangat jelaskan?”
“Sudah Persdir.”
“Tolong jangan buat kesalahan. Tapi.. jangan terlalu bekerja keras untuk ini. Kamu taukan.. kamu tidak akan lama di sini?.”
Iya iya saya tau yang mulia. Tanpa anda ingatkan juga saya sudah mencatatnya besar-besar di otak saya.
“Iya Presdir.. Baik.”
“Itu saja. Keluar!”
Sampai membuat saya sekaget itu, hanya untuk mengatakan ini. Lama-lama ini orang ngeselin ya. Tidak ada Sekretaris Clarisa malah semakin nyakitin. Semoga Sekretaris Clarisa selalu di beri kesabaran punya pasangan seperti orang ini.
“Baik Persdir.”
Aku langsung bergegas keluar dari ruangan itu.
“Ya tuhan.. Lindungilah aku dari setan yang terkutuk, seperti orang di dalam sana.”
Aku kembali duduk ke kursiku. Paha ku terasa berdenyut. Aku lalu mengangkat sedikit rok ku untuk melihatnya.
Ya ampun.. kenapa bisa jadi memar begini? Apa benturannya tadi sekeras itu, sampai meninggalkan bekas biru kemerahan sebesar ini.
Setelah melihat memar di pahaku, aku jadi merasakan sakitnya. Padahal tadi tidak apa-apa, terasa sakit hanya saat pas kejadian saja. Kenapa malah jadi terlihat mengenaskan begini.
Apa ini perlu di obatin ya?
Sepertinya tidak perlu, bentar lagi juga membaik. Sakitnya paling hanya sebentar, memarnya saja yang aku rasa butuh waktu lama untuk hilang.
Jam menunjukan pukul 10.30 wib.
__ADS_1
Katanya mau keluar. Kenapa masih di dalam sana.
“Biarkan saja. Persetan dengan urusan dia.”
Hari ini cukup banyak telpon yang masuk, dan memberi pesan untuk Sekretaris Clarisa. Aku langsung mengirimkan pesan itu lewat email dan memberi tahunya via chat.
Tidak terasa sudah masuk jam istirahat siang. Tapi pria tua itu belum keluar juga dari ruangannya.
Jika aku tinggal untuk makan siang, takut nanti pria tua itu tiba-tiba mencariku.
Baiknya aku memberitahunya dulu.
Aku mengetuk pintu ruangannya.
“Tuk Tuk Tuk”
Tidak terdengar suara dari dalam. Biasanya dia langsung merespon.
Aku kembali mengetuk untuk kedua kalinya.
“Tuk Tuk Tuk”
“Masuk..” Terdengar suara dari dalam.
Aku langsung membukanya. Pria itu tersandar di kursi kuasanya. Perlahan menegakkan tubuhnya sambil merapikan rambut.
Sepertinya pria tua ini sedang tidur, dan terbangun setelah aku mengetuk pintu ruangannya.
“Maaf Presdir menggangu. Sudah masuk jam istirahat makan siang. Saya izin untuk istirahan. Sebelumnya apa anda butuh sesuatu?.”
“Tidak.. Sudah sana.. Keluar!”
“Baik.”
Aku keluar dan kembali menutup pintu ruangannya.
Apa pria tua itu tidak tidur tadi malam?. Sampai harus tidur di kantor.
Emhh.. Sudahlah urusan dia. Yang penting aku merasa tidak di repotkan hari ini.
Hari ini berjalan di luar dugaan ku. Syukurlah, terimakasih untuk kerja samanya hari ini.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..