DEMI UANG

DEMI UANG
INGIN SARAPAN 1


__ADS_3

Setelah mengetahui keberadaan dokumen itu rasa cemasku memudar.


Kembali kerutinitasku. Hal rutin pertama yang harus aku lakukan adalah membuat kopi untuk Presdir Ducan setelah ia tiba di ruangannya.


Seperti biasa ia bersandar santai di kursi empuknya, dengan posisi kaki kanan yang selalu berada di atas kaki kirinya. Posisi seperti inilah yang selalu ku lihat setiap kali masuk keruangannya.


“Kenapa lama sekali?” Tanyanya saat aku menaruh secangkir kopi di atas mejanya.


“Maaf..” Ucapku menundukkan kepala.


Hanya itu yang bisa aku katakan, dan pria tua itu pun tak memberi respon. Setelahnya aku pamit keluar dari ruangannya.


“Tunggu!”


Aku mengurungkan langkahku yang sudah meraih gagang pintu.


“Saya ingin sarapan.” Katanya singkat.


Hah! Sarapan? Maksudnya bagaimana? Aku memasang wajah bingung.


Apa ini juga termasuk tugas yang selalu Sekretaris Clarisa lakukan selain membuatkannya kopi? Emang perusahaan ini menyediakan sarapan?


“Plakk!!” Ia menggebrak meja. Membuat aku terperanjak. Mungkin ia melihatku melamun.


“Ba,baik, akan saya siapkan” Aku langsung bergegas keluar dari ruangannya. Huh.. Tidak bisa pelan sedikit apa?


Aku menutup kembali pintu ruangannya setelah keluar. Ku hampiri Sekretaris Clarisa yang sedang duduk di meja kerjanya, untuk menanyakan sarapan apa yang harus aku siapkan untuk laki-laki menyebalkan itu. Sekretaris Clarisa pasti sangat mengerti karna sering melakukan ini sebelumnya.


“Sekretaris Clarisa, maaf mengganggu sebentar. Presdir Ducan ingin sarapan, saya harus melakukan apa?”


“Sarapan?”


Aku menganggukan kepala sambil tersenyum.


“Tidak biasanya. Emangnya dia ingin sarapan apa?”


“Hah?” Tidak biasanya? Jadi Sekretaris Clarisa juga tidak tau? Terus bagaimana?

__ADS_1


“Presdir Ducan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengatakan ingin sarapan saja.” Jelasku.


“Kamu tidak menanyakannya juga?”


Aku menggelengkan kepala.


“Lebih baik kamu kembali keruangannya, dan tanyakan apa yang Presdir Ducan inginkan”


Kembali ruangannya, lagi? Umm.. Malas banget, yang ada ntar aku di marahin.


“Baik..” Aku tertuduk lemas tak bersemangat.


Lagian kenapa aku bisa bodoh banget sih. Jadi sok tau gini. Kan tidak semuanya Sekretaris Clarisa harus tau tentang Presdir Gila itu. Harusnya aku juga tidak selalu bergantung padanya.


Bodoh bodoh bodoh..


Ku kumpulkan nyaliku untuk kembali masuk keruangan itu. Seperti masuk ke dalam wahana rumah hantu. Harus benar-benar memiliki nyali yang besar untuk bisa masuk keruangan ini.


Pintunya sudah ku buka. Pria itu masih duduk di posisinya dengan handphone di tangannya.


“Ma, maaf Presdir Ducan.. Saya lupa menanyakan ini. Apa yang anda inginkan untuk sarapan? Eh.. maksudnya sarapan apa yang anda inginkan?”


Tenang Qeezya.. dia nggak gigit kok.


“Kenapa baru menanyakannya sekarang?” Nadanya dingin.


Sudahku bilang kalau aku lupa. Emangnya kau nggak dengar.


Haha aku sudah bisa bicara kasar padanya sekarang meskipun hanya dalam gumaman.


“Maaf.. Saya lupa” Terpaksa ku ulangi.


“Apa saja, asal bisa di makan” Ucapnya singkat.


Apa saja? Bukan itu jawaban yang aku harapkan. Emang aku tau selera mu apa. Kertas juga bisa di makan. Emangnya mau aku kasih itu?


Jika aku salah lagi nanti kau pasti akan memarahiku. Dasar!

__ADS_1


“Baik Presdir..” Aku bergegas melangkah keluar


Kalau ku tau bakal itu jawabannya, aku tidak akan masuk untuk bertanya. Menyebalkan..


“Bagaimana? Apa yang Presdir Ducan inginkan?” Tanya Sekretaris Clarisa setelah aku keluar dari ruangan itu.


“Apa saja, yang penting bisa di makan. Itu katanya”


“Hehem..” Sekretaris Clarisa tertawa kecil mendengar jawabanku.


Dia tidak selucu itu.


Hemm.. Mungkin karna pria itu adalah pacarnya jadi hal seperti itu di anggapnya lucu.


“Sekretaris Clarisa, apa kantin di sini menyediakan sarapan juga?” Tanyaku.


“Tidak”


Lantas bagaimana?


“Ada toko roti tidak jauh dari sini. Kamu bisa keluar sebentar untuk membelinya.”


Membeli roti keluar?


Hemm.. Apa aku benar-benar harus melakukannya?


Tapi kalau bukan aku siapa lagi? Tidak mungkinkan Sekretaris Clarisa.


Kenapa jadi merepotkan seperti ini sih? Huhu..


“Ini uangnya..” Sekretaris Clarisa memberiku uang yang baru di ambil dari tasnya.


Aku menerimanya “Baiklah, saya akan keluar sekarang untuk membelinya.”


Apa lagi yang bisa aku katakan selain berkata baiklah. Hiks.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.


__ADS_2