
Pagi yang cerah. Semua orang bersemangat menyambut pagi. Tapi tidak denganku. Suasana hatiku masih sangat buruk.
Bekerja dalam suasana hati seperti ini membuat semua yang aku kerjakan menjadi terasa sulit. Untung saja saat aku mengantar kopi pria tua itu ada Sekretaris Clarisa di sana. Aku merasa sangat tertolong.
“Assistant Qeezya.” Panggil Sekretaris Clarisa yang baru keluar dari ruang Presdir Ducan.
“Iya Sekretaris Clarisa.” Jawabku spontan dan langsung melihat kearahnya.
“Kemarilah. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.” Ucapnya sembari duduk di kursi kerjanya.
“Baik.”
Aku langsung mengambil langkah menghampirinya. Berdiri tepat di samping mejanya. Sekretaris Clarisa menatapku. Wajahnya terlihat serius.
“Ada tugas penting yang akan saya serahkan ke kamu.”
“Apa itu?” Tanyaku penasaran
“Sebelumnya, saya akan cuti selama satu pekan mulai besok.”
“Cuti?” Tanyaku kaget. Aku tidak percaya apa yang baru saja ia katakan.
Terdengan seperti petir di siang bolong.
“Benar. Jadi saya minta tolong kamu gantikan saya untuk sementara waktu, selama saya tidak ada.”
Anda bercanda Sekretaris Clarisa? Saya saja masih bergantung pada anda.
__ADS_1
“Anda serius Sekretaris Clarisa?” Tanyaku memastikan keputusannya.
“Iya. Maaf mendadak, besok saya sudah harus terbang ke kota T. Karena orang tua saya sedang sakit dan akan segera di operasi.” Nadanya menurun, dan ada kecemasan di sana.
“Saya harus bagaimana? Maksudnya apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan ku terdengar seperti tidak siap menerima tugas yang ia berikan.
“Sebenarnya banyak pekerjaan dalam sepekan ini. Terutama menghadiri panggilan metting bersama Presdir Ducan di kota F selama 3 hari. Kamu harus memersiapkan diri” Jawabnya tanpa basa-basi dan penuh penegasan.
“Apa itu juga jadi tugas saya?” Sepontan aku bertanya. Menentukan nasib ku selama sepekan.
“Benar. Semua saya tugaskan ke kamu selama saya tidak ada.” Tegasnya.
Seketika kakiku terasa lemas. Aku berharap ini hanya mimpi.
Bangunlah Qeezya! Ini sama sekali tidak harus terjadi, bahkan di dalam mimpi.
Tetap saja, semua terasa berat karena pria tua itu. Jika Presdir perusahaan ini bukan dia, mungkin aku merasa terhormat bisa mendampingi Presiden Direktur perusahaan ini.
“Kalian akan berangkat besok lusa, penerbangan pertama. Karena malamnya Presdir Ducan ada acara pribadi. Meeting di laksanakan pada hari kedua dan lanjut malamnya menghadiri acara pesta ulang tahun sahabat Presdir Ducan. Kamu harus ikut mendampinginya. Dan hari ketiga kembali ke kota pusat. Selanjutnya kamu hanya harus mendampingi Presdir Ducan jika ada pertemua di luar, jika tidak ada lakukan saja pekerjaan seperti biasa. Jika ada pesan atau janji, kamu harus mengingatnya dan catat. Jangan sampai lupa.” Lanjut penjelasannya.
Bagaimana ini? Aku tidak yakin bisa melakukannya. Sekertaris Clarisa bagaimana bisa anda menyerahkan tugas seberat ini kepada saya dengan sangat mudah.
“Apa ada pertanyaan atau ada yang kurang jelas?” Tanyanya dengan tatapan serius.
“Tidak ada.” Jawab ku terdengar penuh keraguan. “Saya hanya tidak yakin bisa seperti anda.” Jawabku spontan.
“Kamu tidak harus jadi seperti saya. Cukup lakukan yang terbaik. Saya percaya kamu bisa.” Jawabnya penuh keyakinan.
__ADS_1
Perasaanku benar-benar bercampur aduk. Terutama rasa takut ku, sudah menguasai perasaanku saat ini. Seseorang yang harusnya aku hindari malah harus aku dampingi selama sepekan. Tamatlah riwayatku.
“Baik Sekretaris Clarisa. Saya akan berusaha dan bekerja dengan baik.”
Aku hanya bisa menerima apa yang sudah jadi keputusannya. Aku tidak bisa menyela ataupun menolak. Bagaimanapun ini adalah tugas dari perusahaan yang harus di laksanakan, tanpa alasan.
Aku juga tidak mungkin mengecewakan seseorang yang sudah memberikan kepercayaannya kepadaku. Apa lagi ini masalah pekerjaan, menyangkut masa depan kontrak ku juga. Semoga keputusan ini bukan bencana besar buatku.
“Saya akan tetap bantu meski tidak berada di sana. Jadi hubungi saya kapanpun jika kamu butuh bantuan, atau ada hal yang mungkin membuat kamu bingung.” Pesannya.
“Baik Sekretaris Clarisa.”
“Maaf jika tugas ini terasa berat buat kamu. Karena saya tau semua ini baru bagi kamu. Anggap ini sebagai pengalaman terbaik.” Ucapnya sambil mengelus lenganku.
“Terimakasih banyak Sekretaris Clarisa.”
“Saya akan kirim Job Description serta jadwalnya via email.”
“Baik.”
“Tolong dampingi Presiden Direktur perusahaan ini dengan baik ya.” Pesan terakhirnya.
“Siap. Saya akan bekerja dengan baik.” Ucapku sambil menundukan kepala dan tersenyum.
Aku hanya berharap pria tua itu bisa bekerja sama dengan baik selama aku melakukan tugas ini. Jangan sampai ini jadi akhir pekerjaanku di sini. Tolong kerja samanya yang mulia, nasibku ada di tangan mu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..