DEMI UANG

DEMI UANG
BALKON CAFE


__ADS_3

Ini bukan kencan Qeezya. Kenapa kamu berpenampilan seperti ini? Lihat pakaian dan dandananmu, kau seperti ingin menemui pacar. Kau terlalu bersemangat merias dirimu malam ini.


Aku berdiri di depan cermin panjang yang menampilkan seluruh penampilanku. Atasan sabrina hitam lengan panjang dengan bawahan rok a-line hitam. Rambut sebahu tertata rapi. Sedikit riasan makeup.


Apa ini terlihat berlebihan?


———


Taxiku sampai di tempat tujuan. Dean sudah menungguku di balkon cafe lantai dua. Tadi ia memberitahuku dengan mengirimkan pesan saat aku masih dalam perjalanan.


Deg deg deg.


Jantungku tiba-tiba berdetak cepat saat akan menaiki anak tangga.


Dean sudah berdiri di sana, menyambutku dengan hangat. Sofa minimalis dengan meja kaca persegi berada di sisi balkon. Kami duduk saling berhadapan.


“Malam ini kamu cantik.” Dean membuka kata.


Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya.


Waiter cafe datang menyodorkan dua menu dengan sangat ramah. Kami menerima dan membukanya. Banyak menu tertulis di sana. Aku hanya melirik pada daftar minuman.


“Saya pesan Caffe latte” Ucapku pada pria yang siap mencatat pesanan kami. Aku kembali menutup menu.


“Kamu tidak makan?” Tanya Dean.


“Nanti saja.” Jawabku sambil tersenyum.


Dean terdiam. Membalas senyumanku. Lalu ikut menutup menu.


“Saya Espresso.” Sambil mengembalikan menu.


Pria itu berlalu setelah mencatat pesanan kami.


“Maaf memintamu datang kesini.” Dean kembali membuka kata.


“Apa yang ingin kamu katakan?” Tanyaku langsung pada intinya.


“Sebenarnya aku..” Mengambil sesuatu dari samping duduknya. “Ingin memberikan ini.” Menyodorkan amplop silver di ikat pita pink.


Aku menerimanya, dan ku lihat.


Undangan pernikahan.


Dean & Ranni.

__ADS_1


Kamu akan menikah?


Terdiam tanpa ekspresi.


Kamu memanggiku ke sini hanya untuk memberikan ini? Aku bahkan sampai bersemangat untuk datang kesini.


“Maaf tidak mengantarkannya langsung kerumah mu. Dan malah memintamu datang kesini.”


Ada yang sakit, tapi tak berdarah. Di sini di dadaku.


“Aku pikir, jika aku mengantarkannya kerumahmu, kita tidak akan duduk seperti ini. Bicara berdua seperti ini.”


Apa lagi yang ingin di bicarakan. Undangan ini sudah mematikan semua kata-kataku. Tak ada lagi yang bisa aku katakan.


“Terimakasih sudah memberi kesempatan padaku untuk mencintaimu walau cuma sebentar. Kebodohanku menyadarkan betapa besar kesalahan yang pernah aku lakukan padamu. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku.” Ucapnya lirih.


Apa sekarang kamu ingin membuat sebuah pengakuan dosa sebelum menikah?


Aku menarik nafas panjang. Masih menatap amplop di tangan.


“Siapa wanita beruntung itu?” Tanyaku, ada getaran di sana.


“Teman 1 kerja ku.”


“3 bulan ini.”


Setelah 2 bulan kita berpisah.


“Secepat itu kamu memutuskan untuk menikah?” Ku beranikan diri untuk menatapnya.


“Iya.. Karna aku tidak ingin kembali melakukan kesalahan, dan ingin langsung serius.”


Mata kami saling menatap. Semakin dalam.


“Kenapa harus wanita itu yang mendapatkan keseriusanmu?” Aku menarik nafas penuh sesak “Kenapa tidak kamu lakukan waktu masih bersama ku? Apakah aku memang untuk di rusak?”


Air mataku sudah tak dapat ku tahan lagi. Biar saja Dean melihat seberapa hancurnya perasaanku.


“Jangan berbicara seperti itu. Maafkan aku Qeezya.. dulu bukan aku tak ingin, aku hanya belum berani”


“Jahat kamu.. Padahal jika waktu itu kamu mengajak ku untuk serius, aku tidak akan menolak mu. Karna aku sudah sangat nyaman bersama kamu.”


“Maafkan aku Qeezya.. Aku benar-benar tidak tau kalau kamu serius dengan ku”


“Jadi waktu itu kamu menganggap aku bercanda? Hanya main-main?” Aku menangis lebih terisak. “Aku memang pernah punya salah karna kurang perhatian sama kamu. Tapi apakah kamu tau.. setiap kali aku berada di samping kamu jantung ku selalu berdetak cepat. Kamu membuat aku terus merasa jatuh cinta padamu, bahkan hampir setiap hari.” Air mataku terus mengalir. Aku menahan emosi hingga dadaku penuh sesak. “Aku hanya tidak pandai mengungkapkannya.”

__ADS_1


“Maafkan aku Qeezya.. aku benar-benar tidak tau” Ada raut penyesalan di sana.


“Berkata jujur sekarang rasanya sudah percuma. Undangan sudah ada di tanganku. Aku janji akan menghadirinya. Aku akan mengatakan selamat pada wanita beruntung itu.”


“Qeezya..” Dean memegang tanganku.


Tatapannya seakan tak tega melihat kesedihanku.


“Bolehkah aku memeluk mu untuk terakhir kalinya?” Pintaku.


Dean meanggukan kepalanya, lalu berdiri dan duduk di sampingku. Ia membuka kedua tangannya.


Aku memeluknya dengan sangat erat. Aku merasakan kembali hangat tubuhnya. Aku tak menyangka hangat tubuh ini tidak akan pernah aku rasakan lagi setelah ini.


Dean mencium kepala ku. Aku semakin erat memeluknya. Aku belum ingin melapas pelukan ini. Biarkan seperti ini dulu, ini terlalu nyaman untuk ku.


“Terimakasih Dean..” Aku mengatakannya dengan sangat manja, dan semakin membenamkan kepalaku di tubuhnya.


“Semoga kamu segera mendapatkan pria yang baik, yang menyayanyi mu dengan tulus.” Kembali mencium kepalaku.


“Jangan katakan itu. Itu hanya akan menyakiti perasaanku”


“Aku minta maaf..” Mengelus rambutku.


“Emm...”


“Kenapa kamu jadi sangat kurus? Apa pekerjaan kamu sekarang membuat mu tak memiliki waktu untuk makan?”


Aku melepaskan pelukanku, dan meanggukkan kepala.


“Jangan terlalu berlebihan dalam bekerja. Perhatikan juga dirimu. Jangan sampai jatuh sakit.”


Iya aku tau. Aku juga tidak ingin sakit setelah tidak lagi bersama kamu. Karna aku tau tidak ada lagi yang akan merawatku. Aku benar-benar sudah menjadi wanita mandiri sekarang. Wanita kuat, wanita tahan banting.


“Kalau begitu malam ini kamu harus makan bersamaku.” Dean menatapku galak.


Ia memesan begitu banyak makanan. Bahkan sampai memperhatikan makanku. Ia juga memaksaku untuk menghabiskan semua makanan yang ia pesan. Gila dia. Haha.


Ini malam terakhir kami bersama. Dean mengantarku pulang. Sebenarnya aku masih belum ingin pisah. Masih ingin terus sama-sama.


Dean benar-benar menghargaiku sebagai seorang wanita. Dia memperlakukanku dengan sangat lembut dan hangat. Aku terlalu nyaman bersamanya. Aku tidak yakin bisa menemukan orang seperti dia nantinya.


BERSAMBUNG...


Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..

__ADS_1


__ADS_2