
Aku kembali setelah keluar membeli sarapan untuk Presdir Ducan. Waktu yang aku habiskan hanya 15 menit, karna pergi dan pulangnya aku menggunakan taxi.
Saat masuk ke ruangannya ku lihat pria tua itu masih duduk di posisi yang sama saat aku mengantarkannya kopi tadi pagi. Aku menaruh sarapan itu dimeja yang sama didepan cangkir kopinya. Ku lihat kopinya masih sangat banyak, baru berkurang sedikit. Pasti sudah dingin kena suhu ruangan.
Apa berkas yang ia baca sepenting itu? Lihat ekspresi wajahnya saat bekerja. Serius seperti anak SMA sedang ujian.
“Apa yang kamu lihat?”
Pertanyaan yang tiba-tiba membuat aku yang sedang jongkok terperanjak dan hampir menjatuhkan nampan yang ku taruh di pinggir meja.
“Ah.. Eh, tidak. Saya tidak melihat apa-apa.”
“Jelas-jelas mata kamu menatap kearah saya. Apa kamu memperhatikan saya?” Dengan sorotan mata yang sangat tajam.
Bagaimana dia bisa tau. Bukankah dia sedang serius membaca berkas yang ada di tangannya. Apa dia memiliki tiga mata?
“Ti,tidak. Saya tidak mungkin memperhatikan anda.” Aku tertunduk malu dan mengambil sikap berdiri sambil memeluk nampan yang tadi kubawa.
“Keluar!” Nadanya dingin. Seperti raja mengusir rakyat jelatanya. Huhu.
“Baik..”
Dengan cepat aku keluar dari ruangan itu.
Bodoh bodoh bodoh.
Kenapa bisa sampai ketahuan sih. Kan jadi dimarah lagi. Lagian kenapa juga aku memperhatikan pria tua itu. Harusnya setelah menaruh sarapannya aku langsung berdiri dan keluar. Kenapa jadi memperhatikan dia. Mata sialan.
Aku kembali kepekerjaanku yang sesungguhnya. Duduk di depan komputer, mengerjakan tugas yang diberikan oleh Sekretaris Clarisa.
Aku lebih nyaman bekerja seperti ini, membuat laporan atau merekap beberapa berkas penting yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, yang kadang membuat mataku sampai terasa pegal dan juga berair. Tapi aku bahagia menjalaninya dibandingkan melayani pria tua menyebalkan itu walau hanya membuatkannya secangkir kopi.
—————
Esok harinya.
Aku sudah berada diruang pria tua itu. Menjalankan tugas rutinku setiap pagi. Menyuguhkannya secangkir kopi.
“Presdir. Kopi anda” Ucapku manis seperti biasa. “Apa anda ingin sarapan?” Lanjut tanyaku sopan, sebelum dia memintanya.
“Tidak!” Jawabnya cuek.
Syukur. Aku jadi bisa bernafas lega pagi ini.
“Baik. Kalau begitu saya permisi.”
Dengan penuh semangat aku keluar dari ruangan itu. Seperti mendapati surat cuti dari atasan. Iya cuti untuk tidak membelikannya sarapan pagi ini. Seperti ini saja membuatku sangat bahagia.
Aku sudah duduk di meja kerjaku.
🎶 Zeet..zeet.. Zeet.. 🎶
Handphone ku bergetar. Kulirik pesan masuk dari nomor tak di kenal. Aku membukanya.
“Qeezya.. Malam ini kamu ada acara?”
Siapa? Dari pertanyaannya seperti bukan orang asing. Tapi kenapa nomornya tidak tersave di handphone ku.
“Siap? Maaf nomor anda tidak tersimpan. Hehe” Balas pesan dariku.
__ADS_1
Hanya beberapa detik masuk balasan dari nomor itu.
“Dean” Balasnya singkat.
Dean?
Deg deg deg. Seketika jantungku berdetak cepat.
Orang yang selama ini aku coba lupakan kenapa kembali menghubungiku?
Dan apa maksud dari pertanyaannya? Apa dia ingin menemuiku? Dan memintaku untuk kembali menjalin hubungan dengannya?
Banyak prasangka yang muncul tiba-tiba.
“Tidak ada” Balasku singkat.
Aku ingin bersikap cuek padanya. Menunjukan bahwa aku sudah tidak peduli lagi dengannya.
“Ada yang ingin aku bicarakan. Apa kamu bisa menemuiku malam ini?”
Menemuinya? Maksudnya aku mendatanginya? Kenapa tidak dia saja yang mendatangiku jika ingin bicara.
“Dimana?” Tanyaku.
Apa seperti ini cara bersikap cuek? Gagal! Aku bahkan tidak bisa menolaknya. Dan malah menanyakan dimana aku harus mendatanginya.
“Cafe yang pernah kita kunjungi di sudut kota waktu itu.”
“Baik.”
Aku hanya membalas pesannya dengan kata singkat. Sama sekali tidak menunjukan sikap seakan tidak peduli lagi dengannya. Aku benar-benar menyetujui ajakannya, dan pasti akan menemuinnya malam ini.
“Iya saya.” Jawabku.
“Presdir Ducan memintamu keruangannya.”
“Aa..? Ah iya.” Aku langsung memasukkan handphoneku kedalam tas lalu bergegas menuju ruangan Presdir Ducan.
Ada apa lagi sih. Jangan bilang dia baru ingin sarapan sekarang.
Aku masuk setelah mengetuk pintu ruangannya. Aku berdiri tepat di depan mejanya.
“Iya Presdir. Anda memanggil saya?” Tanyaku dengan sangat sopan.
“Kopi mu mengotori kemeja saya.”
Kotor? Dimana?
Aku maju selangkah mendekati mejanya mencari dimana noda itu.
Oh. Hanya ketetesan sedikit dibagian kancing dadanya. Lagian itu bukan salahku. Salah anda sendiri, kenapa bisa sampai menumpahkannya disitu.
“Maaf.”
Kata pertama yang harus aku ucapkan agar dia tidak memarahiku. Meski itu bukan perbuatanku, tapi noda itu berasal dari sesuatu yang aku buat. Jadi aku harus menganggapnya bahwa itu kesalahanku. Itukan yang dia inginkan.
“Apa perlu saya membersihkannya?” Tawarku mengambil sikap jika dia menginginkannya.
“Tidak perlu. Saya sudah suruh sopir saya mengambilkan kemeja baru dari rumah saya.”
__ADS_1
Terus kenapa anda memanggil saya kesini, kalau anda sudah memerintahkan orang untuk membawakan kemeja ganti. Anda benar-benar hanya ingin memberitahu kalau ini salah kopi saya. Biar ada alasan memarahi saya hari ini. Tidak bisakah sehari saja tidak melihat kesalahanku.
“Cepat kamu turun kebawah. Ambil kemeja itu sekarang.”
Oh.. Jadi itu maksudnya. Kirain..
“Baik Presdir. Saya segera kebawah mengambilkannya.”
Dengan sigap aku melangkah keluar dari ruangannya dan menuju lift.
Aku sudah berada di lobby. Kulihat tidak ada mobil yang terparkir di depan pintu masuk. Bahkan tak ada seseorang yang datang membawa bungkusan atau semacamnya.
Ah.. mungkin sopirnya belum tiba. Tapi pria tua itu memintaku untuk cepat. Sial dia pasti mengerjaiku.. Mungkin dia juga baru memerintahkan sopirnya. Aku bahkan sampai berlari.
Setelah 10 menit aku menunggu, barulah ada seorang pria separuh baya berpakaian sapari berjalan masuk sambil membawa goodie bag.
Tidak salah lagi pasti bapak ini. Aku berjalan menghampirinya.
“Permisi..” Sapaku.
Pria itu menghentikan langkahnya.
“Maaf.. Bapak sopir Presdir Ducan?” Tanyaku sopan.
“Ah.. Iya. Ada apa ya?” Wajahnya sedikit bingung.
“Saya Assistant Sekretaris Presdir Ducan. Saya diminta Presdir Ducan untuk menjemput kemejanya dari bapak.”
“Oh.. Iya ini kemejanya.” Dengan sangat sopan bapak itu memberikan goodie bag yang ia bawa.
“Terimakasih pak.” Aku mengambilnya sambil menundukkan kepala “Maaf nama bapak siapa?” Tanyaku.
“Pak Toni.”
“Oo.. Saya Qeezya. Sekali lagi terimakasih Pak Toni.”
“Sama-sama.”
“Kalau begitu saya permisi ke atas.” Pamitku sambil tersenyum. Pak Toni membalas senyumanku.
Aku kembali berlari menuju lift. Dan tibalah di ruangan Pria tua itu dengan nafas sedikit ngos-ngosan.
“Presdir, Ini kemeja anda.”
Ku taruh goodie bag itu di atas mejanya. Lagi-lagi dia tak merespon perkataanku.
Jika tidak bisa mengatakan terimakasih atau berkata YA sekalipun. Setidaknya tersenyumlah sedikit menghargai kinerjaku.
“Kamu ingin melihat saya mengganti pakaian?” Ia sudah mengambil goodie bagnya.
“Ehh.. Ti-tidak” Aku terperanjak.
“Jika tidak kenapa masih berdiri di situ?”
“Maaf. Saya permisi.”
Aku pikir kau masih ingin memerintahku. Lagian siapa juga yang ingin melihatmu. Aku tidak semesum itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..