DEMI UANG

DEMI UANG
TUDUHAN PRESDIR DUCAN


__ADS_3

Pagi kembali cerah. Semua orang bersemangat menyambut pagi. Tapi tidak denganku. Suasana hatiku masih sangat buruk. Tidurku bahkan tidak nyenyak. Bekerja dalam suasana hati seperti ini membuatku tak bersemangat.


Sekretaris Clarisa dan Presdir Ducan datang secara bersamaan. Sepertinya mereka baru selesai menghadiri sebuah meeting di luar. Aku langsung berdiri dan melangkah menuju pantry, melakukan tugas rutinku.


Aku menaruh kopinya di atas meja kerja tempat pria tua itu duduk sekarang. Anehnya ia terus menatapku. Memperhatikanku sedari aku masuk. Membuat aku jadi salah tingkah. Tidak biasanya ia melihatku. Selalunya acuh tak menganggap kedatanganku setiap kali aku masuk keruangannya.


Sesekali aku melirik wajahnya dengan sekali kedipan. Memastikan apakah dia masih memperhatikanku. Mengerikan. Mata pria itu bahkan tak berkedip sama sekali.


Ada apa dengan pria tua itu? Kenapa dia terus menatapku. Apa ada yang aneh dengan penampilanku hari ini?


Ku perhatikan sepatu dan pakaianku. Sampai merapikan rambutku juga.


Tidak ada yang salah. Tapi kenapa dengan tatapannya? Seperti tidak suka.


Emang kapan dia pernah suka?


Sudahlah biarkan saja.


Aku melangkah mundur, lalu membungkukkan sedikit badanku sebelum meninggalkan ruangan itu.


“Tunggu!” Perintahnya menahanku.


Ia berdiri. Berjalan mendekatiku.


“Kamu masih melayani seorang pria?”


Malayani seorang pria? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Apa maksudnya?


“Maaf Presdir. Saya tidak mengerti.”


“Tadi malam kamu sedang bersama seorang pria bukan?”


Bersama seorang pria? Tadi malam?


Tunggu.. Apa dia melihat aku bersama Dean tadi malam?


“Benar Presdir..”


“Jadi benar kamu masih melayani seorang pria?” Nadanya mulai tinggi.


Ia sudah berdiri tepat di hadapanku. Berjarak satu meter. Matanya terus menatapku. Aku hanya berani menatapnya sebentar lalu menundukan kembali kepalaku.

__ADS_1


“Tidak Presdir. Maksud saya, saya benar bersama seorang pria tadi malam. Tapi saya tidak melayani.” Aduh.. bagaimana cara menjelaskannya. “Saya dan pria itu..”


Belum selesai aku menjelaskan pria tua itu kembali berbicara tinggi.


“Saya tidak ingin orang-orang tau bahwa saya mempekerjakan wanita seperti kamu di perusahaan ini.”


“Maaf Presdir. Saya benar-benar tidak melakukan hal seperti itu lagi. Saya dan pria tadi malam itu, kami berteman. Kami hanya makan malam” Jelasku sedikit terbata.


“Teman? Apa sedekat itu? Teman tidur maksudnya?”


“Tidak Presdir Ducan, saya..”


“Berhenti beralasan.”


Ia tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.


“Saya akan memaksa kamu dengan sangat kasar keluar dari perusahaan ini jika kamu ketahuan masih menjadi wanita pelayan.”


Wanita pelayan. Aku malu mendengar kata-kata itu. Aku menyesal pernah mengenal pekerjaan itu.


Aku tertunduk diam. Tak bisa berkata apa-apa.


Jadi tuduhan ini maksud dari tatapannya tadi.


“Keluar!” Ia mengusirku.


Aku menundukan kepala sebelum melangkah keluar.


“Tunggu.”


Apa lagi?!!


“Ambil ini.”


Ia meletakkan sebuah goodie bag dengan sangat kasar di atas mejanya.


Apa itu? Perlahan aku mendekat dan mengambilnya.


“Kamu cuci kemeja itu sampai bersih.”


*Kemeja?* Aku mengintip goodie bag itu. Oh. Kemeja kemarin kotor karna kopi buatanku.

__ADS_1


“Baik Presdir. Saya akan mencucinya.”


Sampai bersih sebersih-bersihnya. Hingga tidak ada noda yang tersisa seperti otakmu.


Aku langsung bergegas keluar dari ruangan itu. Semakin lama didalam sana, leherku akan keluar bisul besar (Gondok).


Aku kembali kemejaku. Ku lempar goodie bag itu di bawah meja dan menginjaknya.


Sehari saja tidak membuatku kesal apa pria tua itu tidak bisa?


“Assistant Qeezya, bisa tolong kamu ketik ulang agenda ini.” Perintah Sekretaris Clarisa yang datang memberi sebuah agenda kemejaku.


“Baik Sekretaris Clarisa.”


“Setelah selesai kamu email ke saya!”


“Baik..”


“Terimakasih ya.” Ucapnya sambil tersenyum. “Oh iya. Tadi malam saya melihat kamu bersama seorang pria. Apa dia pacar kamu?”


“Tadi malam?”


“Iya. Di sebuah cafe.”


Sekretaris Clarisa juga melihatku. Jadi mereka berdua ada di cafe itu juga. Apa mereka sedang kencan disana?


“Tidak Sekretaris Clarisa. Kami hanya teman.” Jawabku sambil tersenyum, walau hatiku sedang buruk.


“Tapi hubungan kalian terlihat hangat. Saya tidak yakin kalian hanya berteman.” Sekretaris Clarisa mencoba menggodaku.


“Sungguh. Kami hanya teman. Pria itu sudah ingin menikah.” Jelasku.


“Oo.. Maaf. Saya pikir dia seseorang yang istimewa. Ternyata saya salah.”


Anda benar Sekretaris Clarisa, Dean memang seseorang yang istimewa. Yang salah adalah perasaanku yang masih menginginkannya.


“Tapi saya suka melihat pertemanan seorang wanita dan pria seakrab itu. Terlihat manis.”


Lebih senang menjelaskan pada orang yang memiliki hati. Dia akan tidak akan pernah menyakiti perasaan seseorang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Makasih..


__ADS_2