
Aku merasa terjebak dalam cerita yang ku buat sendiri. Kebohongan yang ku ciptakan akhirnya menguasai diriku. Aku kehilangan jati diri, tidak bisa menunjukan siapa aku sesungguhnya. Hidupku di kendalikan oleh keadaan.
***
Kami sudah tiba di kota F. Sepanjang perjalanan pria tua itu hanya diam, tak berbicara sedikitpun. Membuat suasana terasa canggung.
Sebuah mobil mewah menjemput kami. Sebelum pergi kepenginapan pria tua itu memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran tak jauh dari bandara.
Padahal jam baru menujukan pukul 11.00 wib. Mungkin pria tua itu ingin langsung istirahat setelah sampai di penginapan pikirku.
Suasana macam apa ini?
Saat di meja makan, dan bahkan duduk kamipun saling berhadapan, pria tua itu tetap diam tak berbicara sepatah katapun. Berbicara saat memesan makanan saja. Aku sampai tidak bisa menikmati makananku. Semua yang ku makan terasa hambar.
Selesai makan, kami langsung menuju kepenginapan. Pria tua itu tertidur selama di perjalanan dan aku hanya melemparkan pandangan keluar jendela menikmati perjalanan kami.
Dan akhirnya kami tiba di penginapan, setelah hampir 1 jam kami menghabiskan waktu di perjalanan. Ternyata lokasinya sangat jauh dari bandara, di luar dugaanku. Pantas saja pria tua itu memutuskan untuk makan siang dulu tadi.
Ini terlihat seperti rumah, bukan hotel atau tempat penginapan lainnya.
Karena berlokasi di perumahan elite di perbukitan. Semua rumah di sini tertata rapi dan memiliki halamannya yang sangat luas. Bahkan jarak antara rumah kerumah lainnya cukup jauh. Sehingga perumahan ini terlihat sangat elite.
Sungguh impian semua orang memiliki rumah seperti ini. Pemandangan yang sangat indah, dan juga sejuk.
Di balik pagar yang tinggi seorang pria paruh baya mendorong pagar itu agar mobil kami masuk kehalaman.
Luar biasa! Sunggu impian semua orang memiliki rumah seperti ini. Walau hanya memiliki dua lantai, tapi halamannya sangat luas. Tamannya sungguh cantik dan terawat, penuh penghijauan. Ingin rasanya punya rumah seperti ini.
“Selamat datang Tuan Dukan.” Pria paruh baya itu menyambutnya dengan sangat ramah saat kami keluar dari mobil.
“Terimakasih Pak Rudi.” Pria tua itu menepuk pundaknya. “Owh ya.. Ini Assisten Qeezya.” Ia mengenalkanku singkat.
Aku memberikan senyuman manis kepada bapak itu dengan menundukan separuh badanku tanda memberi salam.
“Selamat datang Nona Qeezya. Perkenalkan saya Pak Rudi” Ia juga memberi salam sembari memperkenalkan diri.
“Terimakasih banyak Pak Rudi. Salam kenal kembali.” Aku kembali tersenyum.
Barang-barang yang kami bawa di bantu oleh supir dan juga Pak Rudi untuk membawanya masuk kedalam rumah.
Rumah ini benar-benar besar dan tertata. Semua terlihat rapi dan juga bersih. Tidak di sangka pria tua itu memiliki rumah sebagus ini di kota ini. Padahal hanya sebagai rumah singgah saja.
Pria tua itu sudah langsung naik ke lantai 2, di susul supir yang membawakan barangnya.
“Nona Qeeza, kamar anda di sebelah sana.” Pak Rudi menunjuk salah satu pintu kamar yang berada di sebelah kanan setelah ruang tamu.
Kami langsung berjalan menuju kamar itu. Pak Rudi membuka pintu kamarnya dan menaruh barangku di samping tempat tidur. Kamarnya sudah terasa dingin, Sepertinya AC di kamar ini sudah dinyalakan sejak tadi. Penyambutan dan pelayanan yang sangat bagus dari seorang pekerja menjaga rumah seperti Pak Rudi.
“Ini kamar yang biasa Nona Clarisa tempati.” Ucap Pak Rudi.
__ADS_1
“Owh begitu ya pak.”
Ternyata Sekretaris Clarisa sering kemari.
Ya iyalah, salah satu cabang perusahaan yang terbesarkan dan sukses kan di kota ini, jadi pasti sering ada kunjungan bisnis kesini.
“Selamat beristirahat ya Non, tinggallah dengan nyaman. Jika ada sesuatu yang Nona Qeezya butuhkan cari saja saya di taman depan atau di pos gerbang.
“Baik Pak Rudi. Terimakasih banyak.”
Pak Rudi langsung pergi meninggalkan ku.
Pria tua itu benar-benar orang kaya. Kamar ini cukup luas untuk di tiduri 1 orang. Kasurnya saja sangat besar, ada kamar mandi juga di dalamnya.
Aku menutup pintu kamar, berjalan menuju jendela dan membuka tirainya.
OMG.. Ada kolam renang di sana. Di belakang rumah ini. Aku bisa melihatnya.
Benar-benar rumah idaman ku. Bisa betah aku tinggal di sini.
Tidak. Tidak mungkin, betah apanya tinggal bersama pria tua itu di sini.
Hari ini tidak ada jadwal apa-apa. Setelah mengganti pakaian aku langsung memutuskan untuk istirahat.
***
“Tok Tok Tok”
“Lama..” Pria tua itu berdiri di sana.
Penampilannya terlihat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan pakaian santai dengan sandal rumah dan rambut yang tidak tertata.
“Maaf Persdir. Saya ketiduran” Ucapku.
Pria itu masih berdiri di sana, dengan wajahnya yang dingin.
“Nanti malam saya ada acara di rumah ini. Banyak tamu yang akan datang. Kamu jangan keluar dari kamar ini. Apapun alasannya. Mengerti!?” Seperti biasa memberi perintah dengan ketus.
“Mengerti..” Jawabku tertunduk.
Pria itu langsung berbalik dan kembali ke lantai 2.
Kulihat jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Lama juga aku tidur ternyata. Aku duduk di pinggir kasur sambil ngecek hp sebelum memutuskan untuk mandi.
Seperti biasa, tidak ada yang istimewa di hp ku. Sebab tidak ada yang menghubungi.
Aku sudah selesai mandi dan langsung mengenakan pakaian tidur. karena tau aku tidak akan keluar lagi dari kamar ini. Di luarpun sudah terlihat gelap.
__ADS_1
jam menunjukan pukul 7 malam. *
Aku harus ngapain jam segini.
Aku merasa haus. Tapi tidak ada minuman di kamar. Mau tidak mau aku harus keluar sebentar untuk ambil minum. Jika di tahan bisa dehidrasi nanti.
Intip dulu, apa teman-temannya sudah datang.
Terlihat sepi. Sepertinya belum ada tamu yang datang. Sebagian ruangan juga masih sangat gelap, lampunya juga belum di nyalakan. Berarti belum ada tanda-tanda tamu pria itu akan datang. Aku hanya akan keluar mengambil minum sebentar dan langsung kembali kekamar. Aku rasa tidak jadi masalah. Lagi pula ini baru jam 7 malam. Pria itu pasti masih di kamarnya.
Perlahan aku membuka pintu agar tidak terdengar. Dan bergegas berjalan penuh hati-hati agar tidak menimbulkan suara sambil mencari dapur.
Ternyata tidak jauh dari kamarku, aku hanya lurus dari pintu kamar dan sedikit belok ke kanan, tepatnya di samping kiri tangga menuju kamar lantai 2.
Aku sengaja tidak menyalakan lampu, agar tidak ketahuan. Meski tidak di nyalakan, masih bisa terlihat karena pantulan cahaya dari lantai 2.
Aku sudah menemukan dispenser airnya, hanya tinggal mencari gelas saja. Haa.. itu dia.
Lampu dapur menyala.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Aku berteriak dan langsung mengambil posisi jongkok.
“Apa yang kamu lakukan?” Terdengar suara pria tua itu.
Pakaian ku. Dia tidak boleh melihat ku dengan pakaian seperti ini.
Pakaian tidur yang aku kenakan cukup terbuka. Baju tidur tanpa lengan dengan tali yang tipis serta celana pendek yang hanya menutupi separuh pahaku.
Padahal sebentar lagi aku selesai mengambil minum. Aku hanya butuh waktu sebentar. Kenapa dia muncul sekarang.
“Apa yang kamu sembunyikan?.” Tanyanya melihat posisiku seperti ini.
Aku hanya menggelengkan kepala. Tidak berani mengeluarkan suara, bahkan berbalik badan melihat kearahnya. Aku sudah seperti seorang maling yang tepergok.
Aku menyilangkan kedua tanganku untuk menutupi dada yang sedikit terbuka. Perlahan berdiri dan langsung bergegas mengambil langkah kembali kekamar. Aku terpaksa harus menahan hausku.
Aku berjalan sedikit berlari sambil tertunduk dengan kedua tangan yang masih menutupi dada. Pria itu dengan sigap menangkap lengan ku saat aku melewatinya dan menarik kehadapannya.
“Apa yang kamu sembunyikan?” Sekali lagi ia bertanya.
Genggaman tangannya di lenganku cukup kuat. Aku tak sanggup melihat kearahnya. Aku mencoba berontak.
Ia mengencangkan genggamannya. Itu sungguh terasa sakit.
“Maaf.. pakaian saya sangat terbuka.”
Mendengar ucapanku ia langsung melepaskan genggamannya. Dengan cepat aku kembali kekamar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam menulis cerita. Terimakasih..