
Hari ke empat aku bekerja
Pukul 09.00 - Gedung Pusat Flowering Group
“Assistant Qeezya.. Bisa tolong buatkan kopi untuk Presdir Ducan?” Ucap Skretaris Clarisa yang baru saja datang menghampiri meja ku
“Bisa Sekretaris Clarisa, akan saya buatkan” Jawab ku langsung berdiri
“Tunggu sebentar..” Tangkis Sekretaris Clarisa saat aku akan melangkah menuju pantry “Kamu belum tau takaran kopi untuk Presdir Ducan bukan?” Lanjutnya
Benar! Hihihi.. Bisa-bisanya aku dengan sigapnya ingin langsung menuju pantry.
Aku terlalu bersemangat saat tau di kasih sebuah perintah. Karena aku sangat menyukai pekerjaan ini, jadi apa pun perintahnya akan langsung aku laksanakan.
“Presdir Ducan tidak menyukai kopi terlalu menis, kamu cukup memasukan gula setengah sendok saja. Dan jangan sampai terlalu pahit” Jelas Sekretaris Clarisa
Aku mendengarkannya penuh seksama. Aku juga meanggukkan kepala tanda mengerti penjelasannya.
“Kamu bisa menggunakan mesin pembuat kopi kan?” Lanjut tanyanya
“Bisa..” Jawab ku
Dulu aku sering menggunakaannya saat di rumah. Mama yang mengajari ku, waktu itu aku ingin sekali membuatkan kopi untuk papa.
“Bagus kalau begitu” Ucap Sekretaris Clasrisa tersenyum
“Saya akan membuatkannya sekarang” Ucapku mengambil langkah
“Sebentar.. Ada satu hal lagi”
Lagi-lagi Sekretaris Clarisa menahan langkahku
__ADS_1
“Mulai sekarang tugas ini akan saya serahkan kepada kamu. Setiap kali Presdir Ducan memintanya kamu harus langsung membuatkannya” Ucap Sekretaris Clarisa memberi tambahan tugas untukku
Aku tau selama ini Sekretaris Clarisa yang membuatkan kopi untuk Presdir Duca. Tapi kenapa sekarang ia menyerahkan tugas ini padaku. Bukankah Presdir Ducan sudah terbiasa minum kopi buatannya.
Jika tugas membuat kopi Presdir Ducan sekarang menjadi tugasku, berarti aku akan sering memasuki ruangan itu. Padahal ini sesuatu yang paling ingin aku hindari. Aku tidak ingin sering bertemu dengan Presdir Ducan, karna aku takut dia akan mengenali ku.
“Baik Sekretaris Clarisa” Jawabku menerima perintahnya
Aku tidak mungkin menolak perintah dari Sekretaris Clarisa. Karna dia adalah atasan ku. Aku bekerja untuk dia, jadi apa pun yang ia tugaskan itu sudah menjadi tanggung jawabku.
“Presdir Ducan tidak minum kopi setiap hari, ia akan minta jika ingin saja” Jelasnya lagi
Syukurlah.. Berarti aku tidak akan terlalu sering masuk ruangan itu.
Aku langsung mengambil langkah ke pantry yang terletak tak jauh dari ruangan ini. Ini adalah pantry yang di buat khusus untuk Presdir Ducan dan Sekretarisnya. Mungkin aku juga termasuk.
Aku langsung menyalakan mesin pembuat kopi dan membuatnya sesuai yang sudah di jelaskan oleh Sekretaris Clarisa.
Saat aku tiba di depan pintu ruangan Presdir Ducan, Sekretaris Clarisa tampak tersenyum memperhatikan ku. Membuat aku semakin merasa gemetar. Aku mengambil nafas panjang dan mengetoknya.
“Masuk..” Terdengar suara dari dalam
Aku langsung membukanya. Presdir Ducan sepertinya baru selesai berbicara di telpon. Karna saat aku masuk Presdir Ducan baru saja menutup telpon yang ada di mejanya.
“Presdir ini kopinya. Silahkan di minum” Ucapku lembut dan soapn
Aku benar-benar harus menjaga sikap agar bisa memberikan kesan yang baik pada atasan, apa lagi pada seorang CEO seperti Presdir Ducan.
Setelah meletakkan kopi di atas mejanya, aku langsung pamit keluar.
“Tunggu!” Perintahnya menahanku
__ADS_1
Aku yang sudah mendekat dengan pintu langsung menghentikan langkah.
Deg.. Deg.. Deg.. Jantungku langsung berdetak cepat
Ada apa lagi? Hatiku jadi bertanya-tanya
“Saya akan memastikan dulu, apakah kopi ini sesuai dengan selera saya” Ucapnya membuat suasana menjadi tegang
“Baik..” Jawabku menurut
Ia langsung mengangkat cangkirnya dan menegung sedikit isinya. Tidak ada ekspresi yang aku temukan di raut wajahnya. Aku bahkan tidak bisa menebak apakah dia menyukainya atau tidak. Dia orang yang tidak bisa berekspresi dengan baik.
“Kamu harus membuatnya setiap hari” Ucapnya membuat aku terperanjat
Setiap hari?
Apa kopi buatan aku seenak itu? Padahal aku membuatnya sesuai resep yang di berikan oleh Sekretaris Clarisa. Mungkin rasanya juga sama seperti yang buatkan Sekretaris Clarisa selama ini, kenapa sekarang ia meminta aku membuatkannya setiap hari?
“Kamu juga tidak harus menunggu perintah dari saya dulu untuk membuatnya. Jika saya sudah tiba di ruangan ini, kamu harus langsung membawakannya” Lanjut perintahnya
“Baik Presdir Ducan. Akan saya lakukan” Jawabku kurang bersemangat
Huhh.. Berlagak sekali dia.
Kenapa tiba-tiba aku jadi merasa kesal ya. Padahal ini sebuah perintah dari atasan tertinggi. Harusnya aku merasa senang, berarti Presdir Ducan menyukai kopi buatanku. Tapi kenapa aku malah menjadi kesal karena di perintah olehnya.
Apa mungkin karena aku tidak menyukainya? Harusnya aku tidak boleh membawa masalah pribadi kesini. Bagaimana pun juga dia adalah bosku, yang harus aku patuhi, demi kelangsungan statusku di perusahaan ini.
Jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya, mungkin aku akan merasa sangat bahagia bisa melayani seorang Presdir seperti ini.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.