
Masih mengenakan pakaian tidur aku turun kebawah. Aku merebahkan tubuhku di sofa panjang depan tv. Kulihat masih jam 9 pagi. Sepertinya Kekey belum bangun, karena tadi malam dia pulang jam 3 pagi.
Masih diposisi rebahan aku menyalakan tv.
“Hoammh...” Aku kembali mengantuk.
Posisiku sekarang sudah seperti bayi panda yang sedang bermalas-malasan. Aku bahkan melupakan tv yang menyala.
Saat aku hampir kembali tak sadarkan diri..
“Sudah bangun?”
Terdengar suara Kekey yang baru saja keluar dari kamarnya, dan berjalan kearahku.
“Suara tv ku membangunkan mu ya?” Tanyaku balik.
“Nggak kok.. Aku sudah bangun 15 menit yang lalu” Jawabnya sembari duduk di sofa tepat diujung kakiku.
Aku langsung bangun dan mengambil posisi duduk yang benar.
“Cepat banget kamu tidurnya..” Ucapku.
“Tadi mamaku telpon.. Aku jadi nggak ngantuk lagi sekarang” Jelasnya.
“Ohh..” Ucapku sambil memencet remot tv mengganti siaran.
“Aku ingin cari pekerja baru..”
“Haa..” Ucapku kaget.
Aku refleks menatapnya dengan mata terbuka lebar.
“Kenapa?” Tanyaku penasaran.
“Aku pengen cari suasana baru Zya..”
“Emang tempat kerja kamu sekarang sudah nggak nyaman ya?”
“Nggak kok..”
__ADS_1
“Terus kenapa? Ada masalah?”
“Bukan begitu.. Tapi ini permintaan mamaku. Ia memintaku untuk cari pekerjaan baru. Mama nggak mau aku terus-terusan kerja ditempat seperti itu” Jelasnya dengan nada tenang. “Aku juga sudah lama memikirkan ini.” Lanjutnya lagi.
Mama kamu benar, aku juga berfikir seperti itu.
“Oo.. Begitu ya.. Terus rencana kamu mau cari kerja dimana?”
“Aku mau coba melamar di cafe-cafe atau restoran yang jam kerjanya nggak selarut seperti sekarang”
Benar! Aku rasa ini keputusan yang tepat. Karena memang nggak seharusnya perempuan bekerja sampai pagi.
“Aku mendukung keputusanmu. Semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan itu.” Ucapku memberi semangat atas keputusannya.
“Makasih ya..” Ucapnya tersenyum manis “Tapi sebelum aku mendapakan pekerjaan itu, aku masih mempertahankan pekerjaan yang sekarang” Lanjutnya dengan nada kurang bersemangat.
“Iya aku mengerti..” Aku menepuk pundaknya.
Kamu anak yang baik, aku berharap kamu segera mendapatkan pekerjaan yang baik pula.
“Oo ya.. Tadi malam kamu pulang jam berapa dari tempatku?
“Kenapa cepat banget? Aku bahkan belum sempat menemanimu, hanya melihat saja. Karena tadi malam rame banget”
“Ada sesuatu terjadi..”
“Apa?”
“Mungkin sebentar lagi aku juga bakal cari pekerjaan baru”
“Kenapa begitu? Kamu mau resign?
Aku menggelengkan kepala, dan memasang wajah sedih. Aku jadi mengingat kejadian tadi malam.
“Lantas kenapa? Bukankah kamu bilang senang bekerja disana?”
“Awalnya.. Tapi sekarang sudah nggak.” Jawabku murung. “Kamu ingat Presdir Ducan?” Lanjut Tanyaku.
“Presdir Du Can? Siapa?”
__ADS_1
Aku hanya menatap mata Kekey agar dia mengingat pria tua menyebalkan itu.
“Aa.. Tuan Ducan? Yang pernah memintamu un-tuk..”
Kekey tidak melanjutkan kata-katanya karena takut menyinggungku. Aku menarik nafas panjang dan menghembusnya dengan kasar.
“Apa hubungannya dengan pekerjaanmu?”
“Dia Presiden Direktur Flowering Group, tempat aku bekerja sekarang”
“Jadi dia memecatmu?”
“Mungkin sebentar lagi!”
“Emangnya kamu melakukan kesalahan?”
“Apakah dia mau menerima orang seperti aku bekerja di perusahaannya?” Tanyaku balik.
Aku rasa Kekey mengerti maksudku. Karena pria tua menyebalkan itu pasti mengagap aku sebagai wanita pelayan.
“Bukankah kamu sudah sepekan bekerja disana?”
“Iya.. Tapi saat itu kami belum bertemu, karena dia sedang berada diluar negri. Saat ia kembali 3 hari yang lalu, kami bertemu di ruangannya, dan aku mengenalkan diri. Tapi dia tidak mengenaliku sama sekali, membuat aku merasa aman waktu itu.” Aku kembali menarik nafas panjang. “Dan tadi malam aku bertemu dengannya di sana dalam keadaan yang mungkin membuat dia jadi mengingat siapa aku. Hiks” Aku tertunduk sedih menceritakan kejadian tadi malam.
“Iya.. Tadi malam aku yang melayani dia dan teman-temannya. Tapi bagaimana kamu tau kalau dia akan memecatmu? Dia ngomong sesuatu padamu?”
Aku menggelengkan kepala.
“Lantas?”
“Aku menangkap dari tatapan matanya yang sangat menakutkan itu. Seperti ingin mencekik ku”
Ia bahkan cukup lama berdiri disana memperhatikanku dengan sorotan mata mematikan. Persis seperti seorang pembunuh.
Jika aku seorang anak kecil, mungkin aku sudah lari terbirit-birit ketakutan karena dipelototin seorang monster. Monster yang sangat tampan, tapi mematikan.
BERSAMBUNG...
Author: Jika kalian suka jangan lupa likenya. Dan silahkan komen jika ada saran ataupun keritik agar dapat mengispirasi saya dalam membuat cerita.
__ADS_1