
Dor... Pak Candra menembakkan pelurunya kearah kaki kiri Lova sehingga membuat Lova meringis kesakitan. Melihat itu Rani menjadi khawatir dan langsung berlari ke arah Lova untuk melindunginya. Namun pak Candra sudah terlanjur yakin jika Lova adalah Rani kemudian pak Candra memerintahkan anak buahnya untuk memisahkan mereka berdua.
"Lova, dia adalah Lova dan akulah yang bernama Rani" teriak Rani sambil melepaskan diri dari ke empat anak buahnya pak Candra. Namun pak Candra tidak memperdulikan hal itu, pak Candra berjalan kearah Lova yang dia anggap Rani kemudian dengan sengaja menginjak bekas tembakan yang di luncurkan ke kaki kiri Lova sehingga membuat Lova semakin berteriak kesakitan. Melihat itu Rani hanya merengek dan terus mengatakan jika dialah Rani yang sebenarnya. Sedangkan pak Candra benar benar tidak memperdulikan hal itu.
"Apakah ini sakit?" Pak Candra masih menginjak bekas tembakan di kaki Lova sambil tersenyum menikmati rasa sakit yang di rasakan Lova.
"Hentikan itu, dia bukan Rani" teriak Rani sambil menangis kesegukan. Mendengar rengekan Rani itu pak Candra menjadi merasa terganggu.
"Sebenarnya aku sangat menikmati suasana ini, namun aku harus mengakhiri ini" ucap pak Candra sambil mengarahkan tembakannya kearah kaki kanan Lova kemudian kedua tangan Lova dan yang terakhir tepat di perut Lova. sehingga pak Candra dapat menikmati kematian Lova yang dia anggap Rani dengan perlahan dan menyakitkan.
Di sisi lain Rani yang melihat hal itu merasa bahwa dirinya lah yang tertembak karena kemiripan wajah mereka. Seketika tubuh Rani melemas dan langsung jatuh kelantai sambil terus melihat kearah Lova yang terbaring tak berdaya. Lova yang mengetahui jika Rani terus melihat kearahnya kembali memandang Rani sambil tersenyum kearah Rani seperti janji yang pernah dia katakan kepada Rani jika akan tersenyum untukmu menenangkan hati Rani bahkan jika dirinya sedang merasakan sakit. Rani yang melihat senyum manis Lova tanpa sadar air mata mengalir deras dan beberapa menit kemudian Rani pingsan.
Satu Minggu kemudian Di sebuah ruangan yang terlihat tidak asing baginya Rani membuka matanya. Rani melihat sekeliling ruangan yang tampak sepi. Saat Rani mencoba bangkit, Rani baru sadar jika tangannya tertancap jarum infus sehingga menghambat pergerakannya, hal itu membuat Rani sadar jika dia ada di rumah sakit.
Rani merasa sangat bingung dengan keadaannya sekarang, Rani benar benar tidak mengingat kejadian apapun yang menimpanya. bahkan kejadian meninggalnya ibu Keysa, orang yang melahirkan. Rani benar benar tidak mengingat apa pun seakan pikirannya sudah di riset.
Rani duduk di ranjangnya dan melihat ada sebuah buket bunga tulip di atas meja setelah ranjangnya. Rani mengambil buket itu dan mencium bau bunga tulip itu, saat mencium bau bunga tulip itu Rani melihat sebuh kertas yang ada di dalam bunga itu. Rani membuka kertas itu yang ternyata adalah kertas surat kemudian Rani pun membacanya.
"Untuk Lova putriku yang tercinta. Bangunlah sayang, ayah merindukan kamu, kalau kamu mau bangun ayah akan segera datang menjemput dan membawamu pulang. Ayah Candra" baca Lova dalam hati. Membaca itu Rani mencoba mengingat sesuatu namun kepalanya malah terasa sakit dan usaha itu gagal
Tak lama kemudian ada seorang pria paru baya yang tiba-tiba masuk kedalam kamar pasien miliknya. Dari wajah pria itu tersenyum manis kearah Rani dan membawa buket bunga tulip yang lebih besar dari yang di bawa Rani.
__ADS_1
"Sayang akhirnya kamu sadar juga, aku membawakan bunga ini untuk kamu" pak Candra merangkul Rani.
"Maaf bapak siapa ya? Dan apakah bapak tau siapa saya?" Tanya Rani bingung
"Ada apa dengan kamu? Kamu adalah Lova, putri tunggal ku" ucap pak Candra bingung dan kemudian menyadari bahwa rani yang dia anggap sebagai Lova itu telah hilang sebagian ingatannya.
" ayah?" Ucap Rani menyentuh wajah pria paru baya itu. Pak Candra menggenggam tangan halus Rani yang menyentuh pipinya.
Setelah itu pak Candra membawa Rani kerumahnya dan menunjukkan kamar Lova dengan harapan jika wanita yang di kira putrinya itu dapat mengingat sesuatu. Namun karena yang di bawa pak Candra itu adalah Rani dan bukanlah Lova sehingga Rani tidak mengingat apapun.
"Ya udah ayah pergi kerja dulu ya, nanti kalau kamu ingin apa apa bilang saja sama pelayan disini" ucap pak Candra mengelus puncak kepala Rani
"Ini untuk kamu, nanti kalau ingin telpon ayah nomernya sudah ada di sana" pak Candra memberikan handphone limited editionnya
" Iya ayah. Makasih" Rani mencium tangan sedikit keriput milik pak Candra, kemudian pak Candra membalas dengan mencium kening Rani dan langsung pergi untuk bekerja.
Di kamar Rani yang masih hilang ingatan, dan masih meyakini jika dia adalah Lova dia memandangi rak buku yang cukup besar milik Lova. Mata Rani tiba tiba Tertuju pada sebuah buku harian milik Lova, Rani melihat itu menjadi penasaran dan mengambil kemudian membaca buku itu. Di dalam buku itu menceritakan secuil kisah hidup Lova
Aku Lova Candra lestari, putri kesayangan keluarga Candra karena akulah satu-satunya penerus keluarga Candra. Pada saat usiaku 10 tahun aku melihat teman-temanku yang setiap pagi di siapkan sarapan oleh ibunya. Aku iri dengan mereka semua. Suatu hari setelah pulang dari sekolah aku di jemput oleh pak Aryo, supir kepercayaan ayahku yang sudah aku anggap seperti ayah keduaku.
Sesampainya di rumah aku langsung berlari kearah ayahku kemudian ayahku langsung memeluk, menggendong dan mencium ku dengan bibir manisnya.
__ADS_1
"Ayah, ayah Lova ingin makan di suapi ayah" minta Lova memohon dengan nada ala anak kecil
"Iya, Ayuk kita makan" ucap pak Candra dan menggendong Lova menuju meja makan. Pak Candra dengan telaten menyuapi makan Lova, setelah beberapa suapan Lova bertanya kepada ayahnya itu
"Ayah, teman-temanku setiap sarapan pagi selalu di suapi sama ibunya, aku juga ingin di suapi ibu, ibuku kemana ayah?"tanya Lova dengan polosnya. Mendengar itu pak Candra menjadi diam seribu bahasa.
"Ayah, jawab ayah, ibu kemana?" Lova terus merengek menanyakan kemana ibunya.
"Ibu, sudah pergi jauh nak, dan ibu tidak akan bisa kembali lagi" ucap pak Candra yang bingung mau menjawab apa
"Ayo Lova sekarang makan lagi ya" pak Candra menunjukkan sesendok makanan
"Tidak mau. Aku mau ibu" ucap Lova cemberut. Melihat itu pak Candra yang sudah bingung mau apa lagi memberi kode kepada pengasuh Lova untuk mencoba membuat Lova tidak menanyakan ibunya lagi.
.
.
.
jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏
__ADS_1