
Saat perjalan menuju Surya Company, di lampu merah dia melihat anak kecil yang terlihat kurus dan kelaparan, selain itu anak kecil itu juga terlihat kedinginan dan sakit. Melihat itu Weni menjadi iba dan hatinya tergerak untuk melepas penderitaan anak kecil itu, Dia langsung meminggirkan mobilnya dan keluar menghampiri anak kecil itu.
“Dek, ikut kakak yuk” ajak Weni dengan memasang senyum manisnya. Kemudian anak kecil itu hanya memandangi wajah Weni dengan tatapan polosnya
“yuk, kalau ikut kakak nanti kamu tidak akan lapar lagi, tuh kan kamu sakit, kening kamu panas yuk ikut kakak saja yuk” Weni menempelkan tangannya ke kening anak itu yang terasa panas. Kemudian anak kecil itu menganggukkan kepala dan akhirnya mau ikt dengan Weni.
Di sebuah restoran ayam goreng yang cukup terkenal Weni membelikan anak kecil itu makanan, Weni membawa anak kecil itu ke sebuah taman bermain yang tampak sepi, kemudian Weni memberikan ayam goreng yang dia beli di restoran tadi. Anak kecil itu langsung mengambil makanan itu kemudian memakannya dengan lahap, Anak kecil itu tersenyum ke arah Weni kemudian kembali memakan makanan itu hingga habis.
Selang beberapa detik saat setelah anak kecil itu memakan makan yang di berikan oleh Weni, anak kecil itu langsung tak sadarkan diri dan dari mulutnya keluar air liur yang tampak seperti busa.
“tidur yang tenang ya Dek, kamu tidak akan kelaparan dan sakit lagi, semoga kamu bahagia di dunia barumu itu” Weni tersenyum kemudian mengusap puncak kepala anak kecil itu kemudian langsung pergi dan kembali masuk ke dalam mobilnya kemudian langsung menuju perusahaan Surya.
Di perusahaan Surya. Weni baru saja sampai di perusahaan milik Zulfa menggunakan mobil Sportnya. Di sana di langsung di sambut oleh security yang membukakan mobilnya.
“selamat siang Ibu Weni” sapa security tadi sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya
“iya, selamat siang” ucap Weni tersenyum dengan manis kearah security itu. Setelah keluar dari mobil sportnya, dia langsung memasang wajah anggun dan senyum yang manis, sehingga tidak ada yang mengira jika dia sebenarnya adalah pembunuh bayaran, kemudian dia langsung masuk kedalam di dampingi dua pengawal yang sudah di siapkan temannya.
Di dalam ruangan Zulfa, Weni memasuki ruangan Zulfa sambil tersennyum dengan anggun. Melihat itu Zulfa yakin jika temannya itu telah berolahraga.
“kamu terlihat bahagia Weni, apa kamu sudah berolahraga?” tanya Zulfa yang melihat senyuman manis dari Weni
__ADS_1
“tentu saja, karena itu lah hoby ku” jawab ucap Weni yang telihat senang
“sudah aku bilang, gunakan hoby kamu itu pada tempatnya, seharusnya kamu itu bergabung di satuan militer saja” ucap Zulfa menasehati temanya itu. Kerena memang dasarnya Zulfa itu memiliki hati yang lembut, dan sangat baik hati, namun jika dia di sakiti, dia bisa berubah menjadi sekejam apa pun yang dia inginkan
“kamu tau kan, teman kamu ini mudah marah, nanti kalau aku ikut satuan militer, jika pelatihnya keras kepadaku, aku bisa membunuhnya” jawab Weni membantah nasehat dari Zulfa
“jangan dong, kamu itu sebenarnya baik, aku gak mau tau mulai sekarang kamu tidak boleh membunuh orang yang tidak bersalah lagi, hanya untuk sarana olahraga kamu. Karena aku sudah memperkerjakan dua pengawaal untuk mengawasi kamu” ucap Zulfa yang sudah memahami sifat dari Weni yang sebenarnya memiliki hati yang baik dan tulus, namun sedikit memiliki sifat sikopat, sehingga dia tidak bisa memahami hal yang baik atau yang buruk. Dia hanya bisa berfikir secara logis dan tidak mementingkan perasaan.
“oh, jadi itu tugas para pengawalku? Ayolah Zulfa, aku pikir kamu tidak sebodoh itu” ucap Weni sambil tertawa
“iya, aku tau jika itu akan percuma saja, karena kamu bisa gengan mudah keluar dari pengawasan mereka berdua. Tapi aku sekarang ingin kamu berjanji untuk tidak melakukan itu lagi” Zulfa melinkarkan kelingkinya ke jari kelingking Weni sambil memohon supaya Weni mau berjani, dia melakukan itu meskipun dia mengerti jika Weni akan sulit untuk menepati janjinnya.
“baiklah aku janji, tapi aku tidak yakin bisa menepati janji itu” jawab Weni. Setelah mengobrol begitu lama mereka memutuskan untuk kembali mengerjakan pekerjaan mereka
Mereka segera berangkat menuju perusahaan, setelah sampai di perusahaan dia langsung menuju ruang meating. Di ruang meating, sudah ada Zulfa dan beberapa pemilikk saham di Surya Company juga baru saja tiba, Weni langsung duduk di meja sebelah meja Zulfa yang sudah tertulis Wakil Direktur.
“aku senang kamu cepat terbiasa dengan kehadiran mereka berdua” bisik Zulfa sambil tersenyum ke arah Weni
“utung saja aku tidak membawa pistol, jika aku membawa, kamu pasti tau apa yang terjadi” ucap Weni lirih sambil tersenyum
“memangnya kamu membutuhkan pistol untuk membunuh seseorang” ucap Zulfa mengoda temannya itu, karena dia mengetahui jika teman sejak duduk di sekolah dasarnya itu tidak mudah mengeluarkan emosi, baik marah, sedih, atau pun senang, jika dia mengeluarkan emosi, 60% kemungkinan jika itu hanya sekenario yang dia ciptakan sendiri. Karena dalam diri Weni memiliki 60% genetic sikopat, jadi dia memang bisa merasakan sebuah emosi namun itu akan sulit baginya
__ADS_1
“aku rasa aku sudah cukup sabar, jika kamu terus menggodaku, aku akan melupakan jika ada banyak orang di sini” bisik Weni sambil tetap tersenyum
“emosi yang kamu keluarkan itu salah kawan, seharusnya kamu marah, bukan tersenyum. apa kamu benar-benar sulit mengeluarkan sebuah emosi” batin Zulfa yang merasa kasihan dengan temannya itu Yang sulit merasakan emosi
Tak lama kemudian semuanya sudah datang kemudian mereka langsung memulai rapat. Zulfa selaku CEO Surya Compani langsung memulai rapat, kemudian dia mulai menjelaskan proyek pembangunan sebuah Kafe yang super mewah yang di desain menyelaras dengan selera milenial. Pada awalnya para Investor banyak yang tidak menyetuji pembangunan Kafe itu, namun karena kepintaran Weni dalam bermain kata-kata dia berhasil meyakinkan kembali para investor untuk menyetujui pembangunan itu sehingga dapat menyalurkan saham mereka untuk pembangunan itu.
Rapat telah selesai para investor dan tamu undangan sudah pergi dari ruang rapat, kemudian Zulfa dan Weni memutuskan untuk makan siang di ruangan Zulfa. Mereka memerintahkan para Office Boy untuk mengantarkan makanan dan minuman yang dia pesan ke ruanganan Zulfa. Setelah itu mereka mulai makan siang disana mereka mengobrol-mengobrol walaupun untuk sekedar memecah keheningan.
“bagaimana Zulfa, kapan kita menyerang musuh kamu. Sedang ingin berolahraga” ucap Weni di sela-sela makan siangnya
“sabar dong, mereka pasti berniat untuk menjebak kita, kita tunggu sampai mereka sudah tampak lengah dan berfikir jika kita tidak akan pergi ke sana. Di saat itu kita akan menyerang mereka” jawab Zulfa
“baiklah, tapi tetap saja aku ingin berolahraga, entah kenapa dalam tubuhku ini seperti memiliki insting yang berbeda dengan orang pada umumnya. Apa yang terjadi denganku sebenarnya?” Weni mulai bingung dengan insting Sikopat yang ada di dalam dirinya
“kamu harus kuat Weni, aku yakin kamu bisa mengendalikan gen sikopat yang kamu miliki dari ayahmu itu. Aku akan membantumu semampuku” batin Zulfa sambil tersenyum dan melihat ke arah Weni
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏