
Di malam harinya Rani dan Lova mengatakan kepada tiga sahabatnya untuk tidak melanjutkan rencana mereka untuk menjebak Zulfa. Mereka juga mengajak sahabatnya untuk kembali ke kota untuk mengurus beberapa bisnis di sana, kemudian rani dan lova juga mengajak tiga sahabatnya untuk sementara waktu markas mereka di ubah di kediaman rani dan lova, karena di sana rani juga memiliki beberapa komputer yang cukup canggih untuk mengendalikan kembali bisnis mereka.
Karena ajakan lova dan Rani mereka pun sepakat akan kembali ke kota asal mereka dengan menggunakan pesawat pribadi mereka. setelah itu mereka segera memerintahkan pengawal dan anak buah mereka untuk mengatur kepulangan mereka
Ke esokan harinya di bibir pantai, dua pesawat pribadi WAPTIC sudah siap untuk mengudara, mereka semua Segera memasuki pesawat pribadi mereka dengan langkah yang sedikit berat, karena mereka harus meninggalkan pulau terbaik mereka yang begitu indah. Sesekali mereka mengarahkan pandangannya ke sekeliling pulau yang memiliki cerita indah di sana.
Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat disaat ketiga temannya memandangi pulau mereka yang semakin tampak kecil dan menjauh dengan perasaan yang sedikit berat, namun Lova dan Rani memandangi pulau itu dengan memikirkan apa yang ada di mimpi mereka kemarin.
Sesampainya di bandara, seperti biasa mereka di sambut oleh para pengawal mereka menggunakan mobil Limosin mereka. Setelah turun dari pesawat mereka mulai menghirup udara luar pesawat yang terasa penuh dengan polusi dan berbeda dengan udara sejuk yang ada di pulau pribadi mereka.
Mereka segera masuk kedalam Limosin mereka Dan Segera menuju kediaman Rani dan Lova yang sekarang menjadi markas WAPTIC. Sesampainya di rumah, Rani dan Lova melihat bagian depan rumahnya yang tampak berbeda. Dan melihat penjaga rumah mereka yang sudah berganti. Dengan rasa penasaran dan sedikit curiga mereka masuk kedalam rumah mereka dan segera masuk ke ruang kerja mereka yang penuh dengan komputer yang canggih.
Di ruang kerja mereka, Rani dan Lova langsung menyetel dan melihat hasil rekaman CCTV di hari saat mereka pergi ke Island sedangkan ketiga temannya di antar oleh asisten rumah tangga mereka menuju kamar yang sudah di siapkan. Dan setelah mereka melihat hasil rekaman CCTV dengan tampak tenang, mereka berdua yakin jika Weni dan Zulfa itu nyata. Mereka pasti benar benar ingin membunuh mereka berdua.
"Bagaimana jika nanti kita berdua ke Surya company?" Tanya Lova sambil melihat ke arah Rani
"Baiklah, aku akan perintahkan empat pengawal untuk mengawal kita" jawab Rani
"Jangan, kita berdua saja, kita datang dengan hormat dan tidak untuk berperang" ucap Lova melarang
"Apakah, itu tidak beresiko untuk kita Kak? Kita punya seribu satu musuh yang ingin membunuh kita, itu sangat berbahaya" ucap Rani tidak setuju
" Ya jika kita punya seribu satu musuh, kita akan berikan nyawa kita kepada satu orang yang seharusnya tidak menjadi musuh kita itu" ajak Lova meyakinkan adiknya itu
__ADS_1
"Baiklah, tapi kita harus bawa senjata, karena itu sangat berbahaya" ucap Rani sambil memberikan pistol revolver mereka
"Baiklah, aku harap kamu tidak mudah emosi" ucap Lova kemudian langsung bersiap menuju ke Surya Company
Di Surya Company Zulfa dan Weni sedang bersantai di ruangan kerja Zulfa. Mereka sedang menikmati makanan siang mereka sambil mengobrol tentang perusahaan mereka yang sebentar lagi bisa mengungguli perusahaan Candra. Namun mereka masih belum bisa menyaingi perusahaan Wijaya yang masih berkembang begitu pesat, karena produk produk mereka yang selalu di update menjadi Yang lebih sempurna.
Triiiing triiiing triiiing suara telepon yang ada di meja Zulfa berbunyi, Zulfa Segera menghentikan pembicaraannya dan mengangkat telepon itu.
"Halo ibu Presdir, CEO Candra Company dan Wijaya Company ingin menemui anda" ucap resep sionis dengan sopan.
Zulfa merenung sejenak dan yakin jika CEO Wijaya Company dan Candra Company adalah Rani dan Lova, setelah itu Zulfa langsung melihat kearah tampilan rekaman CCTV lobi yang ada di komputernya untuk memastikan, setelah itu ternyata benar Rani dan Lova ada di lobi. Zulfa kembali merenung sambil melihat kearah Weni yang sedang memainkan ponselnya. Dia merasa bingung, kenapa mangsa datang begitu cepat kepada sang predator.
"Ibu Presdir, bagaimana?" Tanya resepsionis yang tidak mendapatkan jawaban dari Zulfa
Di lobi, resepsionis mengatakan kepada Rani dan Lova untuk datang di lain waktu, namun mereka berdua yakin jika itu hanya alasan Zulfa agar tidak menemui mereka berdua. Saat membalik badannya Rani melihat ke arah CCTV lobi, Rani tersenyum kemudian memberi kode kepada Lova, Lova yang mengerti maksud Rani langsung berbalik badan dan kembali bertanya kepada resepsionis
"Maaf mbk, saya mau tanya, apa ibu Presdir selalu memantau karyanya dari CCTV itu?"tanya Lova
"Iya Bu, semua CCTV yang ada di perusahaan ini terhubung ke komputer di ruangan ibu Presdir" jawab resepsionis sehingga membuat Rani dan Lova tersenyum seakan ada hal yang akan mereka berdua lakukan
"Terimakasih mbak, saya permisi dulu" ucap Rani kemudian mereka berdua segera keluar dari perusahaan dan masuk kedalam mobil mewahnya kemudian langsung pergi
Di ruangan kerja Zulfa, Zulfa kembali duduk bersantai dengan Weni
__ADS_1
"Kamu tahu tidak, tadi aku melihat Rani dan Lova kesini" ucap Zulfa sehingga membuat Weni bingung
"Bagaimana bisa, apa yang ingin dia lakukan, dimana dia?" Tanya Weni yang sudah siap jika di minta untuk menerkam mangsanya
"Tenang lah, aku tahu jika aku sampai tidak bisa mengendalikan diri untuk membalas dendam kematian ayahku, aku yang akan mendapat musuh baru. Tiga sahabat mereka pasti akan membalasnya, dan roda dendam dalam kehidupan ini akan terus berputar" ucap Zulfa yang sadar dengan semua itu
"Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu, aku yakin jika kamu yang akan menjadi orang yang akan menghentikan roda pembalasan dendam itu, tapi apakah kamu akan memaafkannya begitu saja?" Weni tersenyum ke arah temannya itu
"Aku tidak tau, aku ingin melupakan semua ini" jawab Zulfa kemudian sperti biasa Zulfa selalu memantau karyanya setelah makan siang dengan server CCTV yang ada di ruangannya.
Saat membuka komputernya, Zulfa tidak bisa mengakses kembali CCTV, Kemudian Zulfa mencoba berulang kali namun tetap saja tidak bisa, dengan segera Zulfa meminta pengawalnya untuk menelpon teknisi CCTV.
"Cepat hubungi teknisi CCTV" ucap Zulfa memerintahkan pengawalnya
"Baiklah ibu Presdir" ucap pengawal itu kemudian langsung keluar dari ruangan Zulfa dan langsung menelpon teknisi.
.
.
.
jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏
__ADS_1