
Tok.. tok.. tok.. suara pintu kamar Lova diketuk sehingga mengganggu konsentrasi Rani yang sedang membaca buku harian Lova.
"Masuk" Rani mempersilahkan masuk. Dari balik pintu seorang pelayan mengatakan makanan untuknya. Namun Rani menolaknya dan ingin makan di kafe dan sekedar mencari angin segar. Pelayan itu langsung memanggilkan seorang pengawal dan seorang supir untuk mendampingi Rani menuju kafe yang dia inginkan.
Di kafe satria. Rani keluar dari mobilnya dan langsung masuk kedalam kafe, saat masuk kedalam Rani merasa tidak asing dengan kafe itu, dia merasa seperti sering mengunjungi kafe itu. Setelah itu Rani langsung duduk dan memesan beberapa makanan dan minuman.
Saat Rani sedang sibuk dengan Android yang baru saja di berikan oleh pak Candra sambil menunggu makanannya sampai. tiba-tiba ada empat teman Rani baru saja masuk kedalam kafe tersebut. Saat memilih meja makan tanpa sengaja Ridho melihat kearah Rani berada sehingga membuat Ridho sangat terkejut dan bahagia.
"Rani" ucap Ridho yang sangat tau betul perbedaan Rani dan Lova.
"Rani? Dimana?" Mega melihat sekeliling ruangan
"Di meja sudut ruangan" jawab Ridho yang tetap memandangi Rani. Melihat itu mereka berempat langsung berjalan menuju kearah Rani
"Kamu itu ya bikin kita khawatir, udah ngilang Sampek satu Minggu, terus kita dapat kabar kalau kamu di rumah sakit, dan sekarang kamu malah enak enakan nyantai disini" Mega langsung duduk di sebelah Rani dan memarahi Rani
"Iya kamu jahat banget sih, bikin kita takut" tambah Tio
"Kalian siapa?" Rani memandangi teman temannya yang memarahinya dengan wajah bingung
"Apa? Kalian siapa?" Amel terkejut
"Heh Rani, kamu jangan bikin kita takut ya" ucap Ridho dengan marah. Mendengar itu semua Rani tiak menjawab apapun dan terus memandangi wajah teman-temannya yang tidak dia kenali dengan pandanan bingung.
"Kamu tahu tidak, kita hampir berurusan Dengan preman karena mencari kamu" ucap Mega terus memarahi Rani
"Iya benar, kamu kemana coba selama ini?" Tanya Ridho dengan nada marah
"Asalkan kamu tahu kita tidak bisa melanjutkan projek untuk membuat sebuah aplikasi serba guna karena hilangnya kamu" ucap Tio tak kalah marahnya.
"Guys sebentar, aku mulai takut, aku merasa aneh dengan Rani saat ini" ucap Amel membuat teman-temannya menghentikan memarahi Rani. Kemudian keempat teman-temannya duduk di meja bundar bersama Rani yang terus memandangi wajah Rani dengan tatapan bingung.
"Ka-kalian kenapa melihatku seperti itu" ucap Rani dengan gugup sambil melirik kearah keempat temannya yang memandangnya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Kamu Rani kan?" Tanya Amel sambil terus manatap Rani
"Aku? Oh ya, kenalin aku Lova, Lova Candra lestari putri tunggal keluarga Candra" Rani mengulurkan tangannya.
"Lova?" Ucap mereka berempat dengan bingung dan terus menatap tajam Rani
"Sekarang aku benar benar takut" ucap Amel tidak percaya karena mereka berempat kenal sekali dengan Rani sejak duduk di bangku sekolah dasar
"Jika kamu Lova apa kamu tidak mengenal kami?" Mega menatap lurus ke arah Rani
"Lalu kemana Rani?" Tanya Ridho
"Apa kamu juga tidak mengenal Rani?" Tanya Tio menambah bingung Rani
"Maaf tapi aku di benar benar tidak mengingat apapun tentang kalian atau Rani, namun sepertinya aku berteman baik dengan Rani, karena entah kenapa aku merasa tidak asing dengan nama itu" ucap Rani dan tersenyum kearah mereka berempat.
"Ayo ikut kami" Ridho menarik tangan Rani
"Sudah jangan banyak bicara, ayo ikut" mereka berempat membawa Rani dengan paksa karena Rani selalu melawan.
Di parkiran mobil pengawal Lova dan supirnya yang melihat itu langsung mengejar mereka. Ridho dan Tio langsung menghadapi pengawal dan supir Lova, sedangkan Mega dan Amel memasukan Rani kedalam mobil dan segera pergi dari sana
Didalam mobil Rani terus memberontak dan mencoba menghentikan mobil itu.
Dor... Mega meluncurkan tebakannya ke atas untuk membuat Rani takut dan tidak lagi melawan. Ketika mendengar suara tembakan itu kepala Rani langsung terasa sakit Rani mengingat sesuatu kejadian yang tiba tiba ada di pikirannya. Rani berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Mega kamu apakan dia, apa Kamu menembaknya? Jangan bodoh kamu"tanya Amel yang sedang menyetir
"Tidak, aku cuma melayangkan tembakan ke udara saja" ucap Mega. Sedangkan Rani masih berteriak kesakitan dan memegangi kepalanya. Mega yang sudah bingung mau apa lagi Mega mengabil obat bius dan membekap mulutnya. Selang beberapa detik Rani berhasil di taklukkan.
Di cafe satria. Ridho dan Tio mulai kewalahan menghadapi pengawal Lova karena empat pengawal lainnya tiba dan ikut melawan mereka berdua. Setelah beberapa menit para pengawal Lova yang juga sudah mulai kewalahan menembak lengan Tio sehingga Tio tidak bisa menyerang dan hanya bisa bertahan. Dan selang beberapa menit kemudian mereka semua berhasil ditangkap. Mereka berdua di masukkan kedalam mobil dan dibawa ke sebuah tempat.
Di gedung milik MR C atau milik pak Candra. Pak Candra sedang sibuk rapat dengan para klien yang ingin menginvestasikan beberapa harta mereka untuk bergabung bekerja sama dengan pak Candra. Setelah rapat selesai pak Candra kembali ke ruangannya yang dijaga oleh dua pengawalnya. Di dalam ruangan pak Candra bersandar di kursi kebesarannya sambil meminum kopi.
__ADS_1
Tok...tok..tok.. suara pintu ruangan pak Candra di ketuk.
"Masuk" pak Candra mengizinkan masuk. Dan dari balik pak Adi dan Hendra hacker dan orang kepercayaan pak Candra masuk kedalam ruangan.
"Tuan, saya mohon maaf, pengawal tuan yang tuan tugaskan untuk menjaga nona Lova tidak becus dalam melaksanakan tugas tuan berikan untuk menjaga nona Lova, sehingga membuat nona Lova diculik" ucap pak Adi
Pyaar.... Pak Candra membanting cangkir kopinya
"Tuan namun kami berhasil menangkap kedua penculiknya dan kedua penculik lainnya berhasil kabur membawa nona Lova"ucap pak Hendra menenangkan pak Candra.
"Bawa aku ke sana" pak Candra mengabil pistolnya yang ada di meja lemarinya kemudian mereka segera berangkat ke ruang bawah tanah, tempat yang sama saat Rani dan Lova pernah di sekap.
Sesampainya di ruangan bawah tanah, pak Candra langsung masuk dan mendekati Tio dan Ridho yang di ikat di kursi besi. Pak Candra menatap lurus ke arah mereka berdua.
Dor...pak Candra meluncurkan pelurunya ke bawah untuk menggertak Tio dan Ridho.
"Kalian tidak tahu siapa saya, katakan dimana putriku sekarang?" Pak Candra menarik baju Ridho dan menempelkan pistolnya di pelipis Tio
"Tidak tahu" ucap Tio berbohong. Mendengar itu pak Candra merasa kecewa dan memelantiaskan kekecewaannya dengan memukul kepala Tio sehingga membuat Tio pingsan.
"Kamu, jika kamu tidak menjawab dengan jujur, nasibmu akan seperti dia" pak Candra mencengkram dagu Ridho.
"Lepaskan aku, aku berjanji akan mengembalikannya kepadamu" ucap Ridho
"Baiklah aku akan melepaskan kalian jika putriku sudah kembali, ini telpon teman kamu dan lepaskan Lova" pak Candra melemparkan ponselnya. Kemudian pak Candra memberikan kode kepada pak Adi untuk membuka tali yang mengikat tangan Ridho.
.
.
.
jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏
__ADS_1