DENDAM HACKER CANTIK

DENDAM HACKER CANTIK
menjadi rekan Rani 2


__ADS_3

Kelas telah usai Lova yang tampak kelelahan keluar kelas, dengan langkah pincang Lova kembali kekamarnya.


"Lova ke kantin yuk" Dari belakang Agnes dan Asami merangkul leher lova


"Enggak deh, aku mau istirahat, capek" tolak Lova


"Kaki kamu kenapa?" tanya Agnes


"Keseleo tadi pas disuruh lari sama Mr Ronal" jawab Lova singkat


Di dalam kamar seperti biasa Rani selalu sibuk dengan laptopnya,


Ceklek....(anggap saja suara pintu terbuka)


Dari balik pintu Lova dengan kaki pincangnya masuk kedalam kamar. Diam diam Lova mendekat ke arah Rani yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Kamu lagi ngapain" Lova melihat kearah laptop Rani


"Aku lagi mencari tahu, siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan ibu ku. Aku mencurigai pemilik kampus ini, namun sampai sekarang aku tidak mengetahui siapa pemilik kampus ini"ucap Rani menjelaskan


"Jadi itu alasan kamu membunuh Mr Reza dan pak agus? Lalu kenapa kamu tidak menghubungi polisi saja?" Tanya Lova. Rani menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskan perlahan.


"Orang yang mebunuh ibu ku itu bukan orang sembarang, aku pernah melaporkan kasus itu ke polisi namun yang di tangkap hanya pembunuh bayarannya saja, bukan otaknya" jawab Rani menahan amarahnya


"Namun tetap saja, tindakan kamu itu tidaklah baik" Lova megelus puncak kepala Rani sehingga membuat Rani sedikit tenang.


"Sudahlah kamu membuat mood ku menjadi buruk" Rani berdiri tanpa sengaja kakinya mengenai kaki Lova yang keseleo sehingga membuat Lova meringis kesakitan.


"Kenapa kaki kamu?" Tanya Rani panik


"Enggak papa tadi cuma keseleo" jawab Lova menahan sakitnya.


"Enggak papa gimana, itu bengkak" Rani meminta Lova agar duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya yang sakit. Perlahan Rani mengurut kaki Lova yang keseleo. Sesekali Lova merengek kesakitan namun Rani tidak memperdulikannya dan terus mengurut kaki Lova yang sakit.


Di malam harinya Rani sedang berdiri bersantai di pagar balkon kamarnya. Dari belakang Lova datang dan duduk di sofa balkon.


"Gimana kaki kamu masih sakit?" Tanya Rani tanpa melihat kearah Lova


"Sudah mendingan" jawab Lova singkat.

__ADS_1


"kenapa sampai sekarang aku tidak bisa menemukan identitas pemilik kampus ini aku hanya mendapatkan inisial 'MR C', apa aku harus menghabisi semua orang disini untuk mengorek info tentang nya?" Ucap Rani yang terus memandangi bulan dan bintang di langit malam


"What? Kamu jangan aneh-aneh ya, lagi pun itu mustahil, bagaikan kamu menghancurkan seluruh bintang dilangit malam yang melindungi bulan" Lova berdiri dan berjalan kearah Rani yang masih memandangi bulan.


"Lalu bagaimana caraku meredupkan bulan itu?" Ucap Rani sedikit marah


"Kamu punya cukup ilmu hacker untuk meretas data pribadi MR C" Lova mencoba meredam amarah Rani


"Iya aku sadar itu, namun seperti ada sistem yang membentengi itu" ucap Rani


"Kalau begitu aku yakin pasti ada setidaknya dua atau lebih hacker yang melindungi data MR C" ucap Lova


"Kamu benar, aku juga berfikir seperti itu"


"Bagaimana jika kamu mengajariku tentang dunia hacker" ucap Lova bersemangat. Kemudian Rani Hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju setelah itu langsung masuk ke kamar untuk beristirahat.


Di dalam kamar Rani mulai merebahkan tubuhnya tak lama kemudian Lova datang membawa selimut dan bantal.


"Kenapa kamu?" Tanya Rani bingung


"Mau tidur" jawab Lova singkat


"Ya udah pergi tidur sana" ucap Rani kemudian Lova membaringkan tubuhnya di ranjang Rani yang sama besarnya dengan ranjang Lova.


"Nggak bisa" ucap Lova singkat


"Kenapa?" Tanya Rani


"Ranjangnya basah kan tadi kamu siram air, makanya aku harus tidur di sini" Lova langsung tidur. kemudian mau tidak mau Rani harus mengizinkan Lova tidur di sebelahnya. Namun Rani memberi sekat berupa guling yang cukup panjang. Setelah itu Rani kembali merebahkan tubuh di ranjang.


"Hey kamu, jangan menghadap ke kiri kamu membuatku canggung" ucap Rani saat wajah mereka berdua saling berhadapan


"Kenapa canggung? Biasanya galak" ucap Lova singkat


"Kamu nggak sadar ya, wajah kita itu mirip itu membuatku bingung, cepat menghadap ke kanan" ucap Rani


"Kan bagus kayak tidur sama cermin" Lova mencoba mengganggu Rani


"Kamu aku bunuh baru tau rasa kamu ya" ucap Rani kesal

__ADS_1


"Kalau kamu bunuhku, nanti rasanya seperti kamu sedang membunuh diri kamu sendiri" ucap Lova mengoda Rani


"Dasar, menebalkan, please Lova jangan tidur menghadap ke kiri, cepat menghadap ke kanan" ucap Rani lirih sambil menahan amarahnya


"Aku tidak terbiasa tidur menghadap ke kanan, kenapa enggak kamu aja yang tidur menghadap ke kiri" tolak Lova


"Ya, aku juga tidak terbiasa tidur menghadap ke kiri" jawab Rani


"Udahlah tidur pejamkan matamu dan mipi yang indah Rani" ucap Lova kemudian tidur tanpa memperdulikan Rani yang merasa canggung dengan kemiripan wajah mereka berdua.


Keesokan harinya jam 5 pagi seperti biasa Rani bangun bersiap memakai kaos olahraga setelah itu membangunkan Lova yang tidak terbiasa bangun pagi untuk latihan di atap gedung kelas yang masih kosong.


Di atap gedung yang memiliki 8 lantai, Rani mempersiapkan sebuah pistol dan senapan. Tak lama kemudian Lova datang dengan memakai kaos olahraga yang sama dengan yang dipakai oleh Rani.


"Aku sudah siap" Lova berjalan kearah Rani. Kemudian Rani menoleh kearah Lova yang sangat mirip dengannya menjadi canggung


"Hey Rani" tegur Lova saat Rani terus memandanginya.


"Kenapa gak pakek kaos olahraga yang lain aja, kamu membuatku canggung" ucap Rani kesal


"Sengaja, kalau kamu nanti membunuhku nanti kamu akan seperti melihat kamu sendiri yang mati" jawab Lova menggoda Rani


"Sudahlah aku harus terbiasa dengan ini" batin Rani sambil melihat Lova yang sekarang lebih menyebalkan.


Rani melemparkan tongkat kayu kepada Lova kemudian mulai mengajarkan teknik-teknik bela diri. Kemudian Rani mengizikan Lova untuk beristirahat lima menit saat Rani melihat wajah Lova yang tampak kelelahan, seketika hal itu ditanggapi Lova dengan sangat senang.


Mereka pun segera beristirahat sambil melihat sunrise yang sudah mulai muncul. Mereka duduk bersebelahan sambil terus memandangi mentari pagi yang mulai memunculkan sinarnya.


"Ok waktu sudah habis, ayo kita latihan menembak" Rani menarik tangan Lova


"Bentar sepuluh menit lagi, kaki ku masih pegel, please aku masih capek" ucap Lova memohon


"Dasar pemalas, ya udah lima menit" jawab Rani cuek. Mendengar itu Lova melingkarkan senyumnya kearah Rani sebagai tanda kebahagiaannya.


Saat Rani melihat senyum manis Lova Rani merasa tidak asing dengan senyuman itu.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like komen dan vote ya reader biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏


__ADS_2