DENDAM HACKER CANTIK

DENDAM HACKER CANTIK
mengembalikan rani


__ADS_3

Seketika pipiku dibasahi dengan air mata, aku melihat berita meninggalnya Presdir perusahaan Wijaya.


"Ibu" aku terus memandangi wajah cantik ibuku. Seketika aku kembali mengingat kejadian dimana saat ibu ku di bunuh. Aku mengusap air mata di pipiku, aku mulai bangkit, aku akan mencari dan membunuh orang yang berani membunuh ibuku.


Rani kembali mengingat sesuatu, kepala Rani tersa sakit di merasa pusing, dia berteriak kesakitan sehingga membuat teman-temannya yang menunggu di luar menjadi khawatir. Rani yang sudah tidak tahan kemudian jatuh dan pingsan


Teman-teman Rani yang melihat itu langsung panik dan membawa Rani ke ruang santai kemudian Ridho segera memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa kondisi Rani


"Bagaimana Dok, apa yang terjadi pada sahabat kami Rani?" Tanya Ridho ketika dokter sudah selesai memeriksa Rani.


" Untuk saat ini kondisi Rani baik baik saja. Mungkin benturan keras yang pernah terjadi kepadanya telah mempengaruhi ingatannya, sebaiknya jangan memaksa Rani mengingat sesuatu, itu akan membuat otaknya cidera semakin parah"ucap dokter itu.


Mendengar itu mereka merasa bersalah dengan Rani, mereka merasa egois karena memaksakan ingatan Rani untuk mengingat sahabatnya itu. Setelah itu dokter memberikan beberapa obat untuk Rani kemudian langsung pergi.


Di markas milik pak Candra, pak Candra marah besar kepada anak buahnya yang tidak bisa menyelamatkan Lova dan menangkap para penculik putrinya itu. Pak Candra merasa gelisah memikirkan keadaan Lova, dia sampai tidak ingin makan karena masih teringat dengan putrinya itu.


"Kalian saya bayar mahal mahal jaga satu anak saja tidak becus" pak Candra memarahi anak buahnya


"Kamu, kesini" pak Candra menunjuk kearah satu pengawal Lova. Kemudian pengawal itu maju ke arah pak Candra berdiri.


Dor... Pak Candra menembak kepala pengawal itu. Sehingga membuat pengawal itu mati seketika.


"Ini contoh buat kalian yang tidak becus"pak Candra menunjuk ke arah pengawal Lova

__ADS_1


"Aku kasih kalian waktu 24 jam untuk menemukam Lova, jika kalian gagal, itu akibatnya" pak Candra menunjuk pengawal Lova yang sudah mati. Kemudian anak buah pak Candra langsung pergi keluar dari ruangan dan langsung berpencar mencari Lova. Sedangkan pak Candra memutuskan untuk pulang ke rumah mewahnya.


Sesampainya di rumah pak Candra langsung masuk kerumah, saat melewati kamar Lova langkah pak Candra terhenti. Pak Candra teringat kepada putrinya itu yang sangat dia sayangi. Pak Candra melangkah masuk kedalam kamar itu, saat melihat ranjang Lova pak Candra mengingat saat pak Candra menidurkan Lova. Mengingat itu tanpa sadar air mata keluar dan membasahi pipinya.


karena tidak ingin larut dalam kesedihannya Pak Candra keluar dari kamar Lova dan langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Di dalam kamarnya pak Candra langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang mencoba untuk tidur. Namun Pak Candra merasa kesepian dan tidak bisa menutup matanya, saat dia menutup matanya dia selalu mengingat Putri ya itu.


Pak Candra bangun dari ranjangnya dan melihat ke arah rak bukunya, pak Candra mendekati rak tersebut dan melihat buku yang berisi foto memori keluarga Candra. Pak Candra memandangi sampul album tersebut yang berdebu seakan tidak pernah di sentuh, pak Candra mengabil album itu kemudian duduk di ranjangnya.


Pak Candra dengan perlahan membuka lembar demi lembar album foto itu. Pak Candra terpaku pada foto Lova disaat di masih berumur 7 tahun, air matanya mengalir jatuh membasahi foto Lova.


"Nak, bersabarlah, anak buah ayah sedang mencarimu dan mencoba menyelamatkan kamu" batin pak Candra


Pak Candra kembali membalik lembar album foto itu, dia melihat sebuah foto yang terdapat foto dua bayi kembar yang sama cantiknya. Dan kalian pasti sudah menduganya jika bayi itu Adalah Lova Candra lestari dan adiknya yang bernama Rani Keysa Wijaya. ya benar, Rani adalah adik Lova, mereka terpisah karena perceraian antara pak Candra dan ibu Keysa. Melihat itu air mata pak Candra mengalir lebih deras karena mengingat hal itu pak Candra mengusap foto itu dan memandangi bayi di dalam foto tersebut.


"Dimana kamu sekarang nak? Ayah merindukanmu, kamu pasti juga cantik seperti kakak kamu. kamu pasti kesepian hidup sendiri di rumah ibumu. Nak, sekali saja temui ayahmu yang berdosa ini yang merenggut nyawa ibu yang melahirkan mu itu. Ayah macam apa aku ini tidak bisa mengetahui bahkan membayangkan wajah putrinya, bahkan aku tidak mengetahui nama anakku itu" pak Candra mengeluarkan seluruh emosinya dan Ari matanya sambil memandangi wajah kedua bayi itu.


"Rani, apa kamu sudah ingat jika kamu itu Rani?" Amel duduk di sofa sebelah Rani mendengar itu Rani menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskan dengan kasar.


"Sudah aku bilang aku itu Lova, Lova Candra lestari" ucap Rani dengan kesal


"Sudahlah Mel, jangan paksa dia untuk mengingat kembali" ucap Ridho


"Iya, Ridho benar, aku yakin lambat laun pasti ingatannya kembali" tambah Tio.

__ADS_1


Mereka segera berangkat menuju rumah pak Candra. Sesampainya di sana Mega dan Tio bertugas untuk menembakkan bom asap sehingga rumah pak Candra tertutup dengan asap, kemudian Ridho menancap gas nya hingga masuk ke dalam pagar rumah pak Candra. Amel dengan segera menutup matanya Rani dan meninggalkannya disana kemudian mereka langsung pergi dari rumah itu tanpa ada yang menghambat.


Di kamar pak Candra. Pak Candra sedang bersiap untuk ke perusahaannya. Tok tok tok. Suara pintu kamar pak Candra di ketuk, kemudian pak Candra mempersilahkan masuk. Pak Adi masuk kedalam kamar dan mengatakan jika ada banyak sekali bom asap yang di luncurkan ke rumahnya, sehingga rumahnya tertutup oleh asap. Mendengar hal itu pak Candra langsung turun dan keluar dari rumah dan melihat asap yang masih terlihat banyak.


Pak Candra memerintahkan enam pengawalnya untuk berjaga di dekatnya, tak lama kemudian asap mulai hilang dan dari kejauhan pak Candra melihat putrinya dengan tangan terikat dan matanya di tutup dengan kain.


"Lova" Pak Candra segera berlari ke arah Rani dan langsung memeluk putrinya itu.


"Ayah"ucap Rani lirih saat merasakan ada tubuh yang kuat Sadang memeluknya.


"Iya nak ini ayah" pak Candra membuka penutup mata Rani dan membuka tali yang mengikat tangan Rani.


"Aku takut ayah" Rani memeluk erat tubuh pak Candra


"Apa kamu terluka sayang?" Pak Candra masih memeluk putrinya


"Tidak ayah, penculik itu mengatakan jika aku adalah Rani teman mereka dan bukan Lova putri ayah" ucap Rani


"Sepertinya mereka adalah teman Rani yang dulu aku bunuh, mungkin mereka ingin merebut Lova dariku untuk membalas kematian Rani, mereka pasti memanfaatkan Lova yang sedang hilang ingatan. Tidak aku tidak mau kehilangan Lova, aku harus mengambil tindakan" batin pak Candra yang tidak ingin kehilangan Lova.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏


__ADS_2