
Di hutan kecil belakang vila WAPTIC Weni merasa ada mangsa yang sedang bersembunyi disana. Weni tersenyum senang kemudian dia langsung bersembunyi di balik pohon yang cukup besar dan mulai melihat dengan mata tajamnya untuk mencari mangsanya. Tak lama kemudian sebuah tembakan di luncurkan menembaki pohon tempat persembunyian Weni. Merasakan itu Weni tersenyum senang dan keluar dari pohon itu dan meluncurkan seluruh pelurunya dengan membabi buta, sehingga dia mampu membunuh empat pengawal Lova tanpa terluka sedikitpun, sehingga membuat jiwa sikopat Weni menjadi puas
Dor, satu tembakan lagi di luncurkan oleh Ridho tepat mengenai lengan Weni. Merasakan itu, Weni tersenyum senang dan menembak senjata Ridho hingga terpental, setelah itu Ridho bersembunyi di balik pohon sambil mengabil pisau lipatnya yang ada di jaketnya.
“sepertinya, tidak seru jika aku membawa senjata sedangkan musuhku tidak” Weni membuang senjatanya kemudian berjalan ke arah Ridho
Saat Weni melihat di balik pohon ternyata Ridho sudah tidak ada di sana, Dari belakang Ridho menempelkan pisau lipatnya ke leher Weni hingga berdarah, hal itu tidak membuat Weni takut namun membuat Weni senang karena baru kali ini ada yang berhasil membuatnya tidak bisa bergerak dan tidak bisa melakukan apapun.
“lepaskan dia atau aku akan menembak mu” ancam Zulfa sambil memusatkan senjatanya ke arah Ridho
“baiklah, aku tidak akan melawan, aku akan lihat seberapa berani kamu menembak musuh mu, aku tidak akan menyesal jika kamu gagal menyelamatkanku” batin Weni sambil tersenyum ke arah Zulfa
“cepat lepaskan dia atau aku tidak akan bertanya lagi untuk membunuhmu” ancam Zulfa yang sudah terlihat kesal
“benarkah? Bagaimana jika aku melakukan ini” Ridho menarik pisau lipatnya dan menancapkan pisau itu ke perut Weni, sehingga membuat Weni kesakitan
Melihat itu dengan cepat Zulfa melayangkan tembakan ke lengan Ridho sehingga membuat ridho jatuh terpental. Kemudian Zulfa berlari kearah Ridho dan melantiaskan kekesalannya sehingga membuat Ridho tak sadarkan diri. Setelah itu Zulfa berlari kearah Weni yang menahan rasa sakitnya, Zulfa langsung membawa Weni ke Vila, ternyata di dalam Vila Zulfa menemukan seorang dokter yang sedang bersembunyi di sebuah kamar.
“kamu akan dapatkan hidupmu jika kamu bisa mengobati temanku” Zulfa menodongkan senjatanya kearah Dokter Joko. Kemudian Dokter Joko langsung membawa Weni ke kamarnya dan mengambilkan beberapa peralatan di ruang rawat. Sedangkan Zulfa duduk di samping ranjang tempat Weni berbaring, setelah itu Dokter joko segera memeriksa kondisi Weni dan ternyata luka yang ada di perut Weni tidak terlalu dalam sehingga Dokter Joko hanya harus menjahit luka itu saja. Tak lama kemudian Dokter joko sudah selesai mengobati luka-luka Weni, namun karena efek dari obat bius, Weni masih tidak sadarkan diri
__ADS_1
Tak lama kemudian lima anak buah Zulfa datang menemui Zulfa yang masih ada di ruangan tempat Weni di rawat, lima anak buah itu juga membawa tiga sahabat Rani dan Lova dengan tangan terborgol dan pengamanan yang ketat.
“Ibu presdir, kami hanya bisa menangkap tiga anggota WAPTIC saja” ucap salah satu anak buah Zulfa
“bagaimana bisa hanya tiga? Dimana yang lainnya, anggota WAPTIC sekarang tinggal lima, segera cari yang dua lagi. Aku yakin jika mereka berdua orang yang aku cari” ucap Zulfa yakin
“sekarang katakan, dimana kedua sahabat kalian?” Zulfa menodongkan senjatanya ke kepala Tio
“apa kamu tidak mengerti makna dari persahabatan? Bunuh saja aku, ayo tembakkan ke kepalaku. Aku tidak akan mengatakannya” Tio tersenyum kearah Zulfa yang sedang menodongkan senjatanya. Mendengar itu Zulfa teringat dengan Weni, dia melihat kearah Weni sambil mengingat kebaikan Weni kepadanya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.
Zulfa kembali mengingat, sejak dulu dia hanya memiliki satu orang teman, itu adalah Weni, dia menjaga Zulfa bagaikan kakak untuknya dan dia sering menggangu Zulfa bagaikan adik untuknya. Sahabat, mungkin Weni sudah bukan seperti sahabat, namun sudah seperti saudara baginya, karena itu Zulfa sangat menyayangi Weni dan tidak ingin kehilangannya. Zulfa juga mengingat di masa SMP dia selalu di buly oleh preman kelas, dan tidak ada yang berani membantu Zulfa.
“ibu presdir, kami sudah menemukan mereka” ucap anak buah Zulfa membuyarkan lamunan Zulfa, kemudian dia mengantar Zulfa dan mereka semua ke ruang rawat.
Di ruang rawat, tak lama kemudian rani mulai membuka matanya dan tak lama kemudian Lova juga sudah sadar, kemudian anak buah Zulfa segera memborgol dan mengamankan mereka berdua. mereka berdua bangun dan melihat seorang wanita cantik sedang menodongkan senjata kearah mereka berdua. Selain itu mereka berdua juga melihat tiga sahabatnya yang di borgol dan tubuh penuh luka, melihat itu Rani dan Lova yakin jika Wanita itu orang yang seharusnya mereka jebak, namun nasib tidak berpihak pada mereka berdua.
“Rani” ucap Zulfa sambil melihat kearah Rani dan lova, karena masih bingung untuk membedakan mereka berdua
“kenapa? apa masalahmu dengan kami? Kenapa kamu meneror kami” apa salah kami?” tanya Rani yang tangannya sudah di borgol
__ADS_1
“apa yang kamu tanyakan? Kamu sedang menjawab semuanya” jawab Zulfa yang tampak kesal
“Rani, Lova, aku ingin membunuh kalian” Zulfa menempelkan dua pistolnya ke kening Rani dan Lova
“aku ingin berbicara berdua dengan kamu” ucap Rani memasang wajah seriusnya
“tidak aku juga ikut” sahut Lova
“baiklah, ayo” ucap Zulfa kemudian Zulfa bersama satu pengawal kepercayaannya keluar dari ruang rawat dan pergi ke lantai dua agar tempat lebih sepi
Dengan tangan yang masih terborgol dengan liciknya Lova mengambil kunci borgol yang ada di saku belakang pengawal itu, dengan cepat lova membuka borgolnya kemudian memberikan kunci itu kepada Rani. Setelah Rani membuka borgolnya, dia langsung menendang senjata yang di bawa oleh pengawal Zulfa kemudian dia langsung melawan pengawal Zulfa yang ternyata juga hebat, sedangkan Lova yang kemampuan beladiri nya lebih hebat dari Rani langsung menyerang Zulfa.
Saat Rani mencekik leher pengawal Zulfa. Dengan dengan mudah pengawal itu melepas cengkraman Rani dari lehernya kemudian membanting rani, sehingga membuat Rani kesakitan.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏