DENDAM HACKER CANTIK

DENDAM HACKER CANTIK
CUMI (cuma mimpi)


__ADS_3

Rani mencoba menahan rasa sakitnya kemudian mencoba berdiri, namun pengawal itu langsung menendang Rani hingga terpental hingga ke balkon.


Sedangkan Lova yang melihat itu menjadi tidak fokus melawan Zulfa dan berlari kearah Rani dan membantu melawan pengawal Zulfa yang bertubuh kekar. Saat pengawal itu ingin memukul lova, lova dengan mudah menangkisnya dan memutar tangan pengawal itu yang kemudian lova membanting pengawal itu hingga pengawal itu kehianggan tenaganya.


Pengawal itu menahan rasa sakitnya dan mengeragkan seluruh tenaga untuk membunuh Lova dengan pisau lipatnya, namun karena kehebatan Lova, lova berhasil mematahkan tangan pengawal itu dan kemudian melempar penjaga itu ke luar balkon. Namun pengawal itu masih selamat kerena pengawal itu bergantung di pagar balkon.


Saat Lova inggin menusukan pisau lipatnya ke tangan pengawal itu, dari belakang Zulfa menendang lova hingga lova terjatuh. Rani yang masih memiliki tenaga, dia menjatuhkan pengawal Zulfa kemudian mencoba sekuat tenaganya melawan Zulfa. Tak lama kemudian Lova sudah bisa berdiri langsung membantu Rani dengan memukul Zulfa dan kemudian membantingnya.


“katakan, kenapa kamu sangat berambisi untuk membunuh kita berdua?” Lova mengambil pistol pengawal Zulfa dan menempelkannya di leher Zulfa


“apa kamu tidak mengenaliku Lova?” tanya Zulfa sambil tersenyum seakan tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya ada kata dendam yang terlukis di matanya


“siapa, siapa kamu?” tanya lova kemudian menyeret Zulfa ke tepi balkon


“Zulfa Surya Anggita” ucap Zulfa sehingga membuat Lova terdiam, sedangkan Rani yang tidak mengetahui apapun tetap mengarahkan senjatanya ke leher Zulfa


“kenapa diam Lova, kamu mengingatku? Atau mengingat kematian ayahku yang mengenaskan?” ucap Zulfa membuat lova menyesal


“rani, kamu pasti bingung, siapa diriku, Aku akan katakan. Surya, itu ayahku” ucap Zulfa membuat Rani mengingat kejadian meninggalnya pak Surya


“kenapa diam Rani? Kamu tidak percaya jika aku sepupumu?” Tanya Zulfa sehingga membuat Rani berdiri menatap ke luar balkon


“apa yang kalian pikirkan, sehingga kalian terdian begitu lama. Rani apa yang kamu pikirkan rani? Pasti kalian bahagia dengan meninggalnya ayahku di tangan kotor kalian” ucap Zulfa sambil berdiri dan berjalan kearah rani.


“apa kamu kira aku bahagia membunuh ayahmu? Kamu tidak mengerti betapa tersiksanya kami setelah membunuh ayahmu” ucap Lova yang hanya bisa bertekuk lutut dan meratapi penyesalannya


“saat itu, kami dibutakan oleh dendam, dendam yang merasuki jiwa kami sehingga membuat kami melakukan kebodohan itu” ucap Rani yang meratapi penyesalannya

__ADS_1


“jadi dalang permasalahan ini adalah dendam yang merasuki jiwa kalian?” sahut Zulfa


“tidak, kami lah yang terlalu bodoh dalam mengambil keputusan, kami terlambat menyadari jika dendam dapat menimbulkan masalah yang lebih besar dari sebelumnya. Tapi kami sadar jika kami tidak bisa memutar kembali waktu, ya, penyesalan tidak bisa menyelesaikan masih” ucap Rani sambil melihat pistol yang dia bawa


“lalu apa yang kalian butuhkan untuk menyelesaikan masalah itu?" Tanya Zulfa sambil berdiri di sebelah Rani


"Maaf, aku membutuhkan maaf dari kamu, kamu bisa membunuhku jika kamu bisa memaafkan kesalanku. Lakukanlah apa yang kamu mau. Sekarang pilihan ada di diri kamu, mau memaafkan kesalanku, atau kamu akan mengikuti dendammu itu" Rani memberikan senjata yang dia bawa ke pada Zulfa.


Kemudian Zulfa mengabil pistol jenis revolver yang di berikan Rani, Zulfa mengambil satu peluru di lubang peluru pistol itu kemudian menjatuhkan semua peluru yang tersisa di pistol itu.


"Baiklah, aku tahu, jika dengan membunuh kalian aku akan merasa bersalah dan rasa sakit yang aku rasakan. aku punya hukuman yang lebih baik untuk kalian" ucap zulfa sambil memasukan satu peluru yang dia ambil tadi ke dalam lubang peluru kemudian memutarnya. Zulfa meraih tangan Rani kemudian memberikan pistol itu ke tangan Rani, Zulfa tersenyum kemudian dengan cepat dia menempelkan ujung pistol itu ke keningnya


"Aku memaafkan kalian" Zulfa menembakkan pistol yang di pegang oleh Rani ke kepalanya. Seketika zulfa langsung terjatuh dan tersenyum


"TIDAK!!!" Teriak Rani dan Lova sambil bangun dan membuka mata mereka sedingga membuat ketiga teman mereka terkejut dan segera masuk ke ruang rawat.


Rani dan lova melihat ketiga temannya yang ternyata masih baik-baik saja menjadi sadar jika itu semua adalah mimpi. Nafas mereka terengah-engah, badan mereka berkeringat karena semua itu adalah mimpi itu terasa nyata. Mereka berdua sadar yang sebenarnya terjadi adalah, mereka berdua masih berada di ruangan rawat dan cerita yang sebelumnya itu hanya sebuah mimpi dari mereka berdua, sedangkan Zulfa dan Weni juga masih ada di perusahaan mereka dan belum merencanakan kapan untuk menyerang WAPTIC.


“Zulfa, aku ingin tau siapa Zulfa yang ada di mimpiku” rani menundukkan kepala sambil memegangi kepalanya yang sakit karena kejadian kecelakannya saat bermain bugee jumping


“aku juga melihat mimpi yang sama, dan Weni, aku melihat kepala dokter rumah sakit lascar itu, kenapa aku bisa bermimpi tentang mereka berdua” tambah Lova yang tidak percaya jika kejadian itu hanya mimpinya saja, kerena semua itu tampak sangat nyata


“apa yang kalian katakan? Weni, aku ingat Weni, seorang dokter yang dulu kita sekap, tapi Zulfa? Siapa dia?” tanya Tio yang bingung daengan mereka berdua


“sudah lupakan saja, aku yakin itu hanya sebuah mimpi, apa di mimpimu itu akan ada kejadian yang buruk akan terjadi?” tambah Ridho


“iya sangat buruk, aku akan merasa tersiksa karena membunuh orang yang tidak bersalah” ucap Rani yang masih terbayang bayang dengan mimpinya itu

__ADS_1


“aku rasa, kami ingin sendiri. Tolong” ucap Lova dengan muka datarnya


“baiklah, mungkin kalian butuh waktu untuk sendiri. Kami pergi” ucap amel kemudian menarik ridho dan tio untuk keluar dari ruangan itu


Di dalam ruangan mereka berdua kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya, mereka berharap agar mimpi itu berubah menjadi yang lebih baik namun itu hanya sia-sia saja. Mereka tidak bisa merubah mimpi itu, mereka juga merasa jika itu bukanlah hanya mimpi biasa, mereka sangat bingung jika hal itu benar benar terjadi pada mereka. mereka berfikir apakah benar Zulfa yang ada di mimpi mereka adalah benar sepupu mereka atau itu hanya sebua mimipi yang tidak nyata.


“ apa yang kamu pikirkan Kak?” Rani menatap ke mata sayu Lova


“entahlah, aku di hantui dengan rasa bersalah dan rasa bingung” jawab Lova lirih tanpa melihat kearah adiknya itu”


“apa kakak juga melihat hal yang mengerikan itu?” Rani mulai mengingat kembali kejadian yang menyeramkan itu


“iya, aku benci dengan semua itu, Surya Company, kita harus ke sana” ucap Lova yang ingin memastikan kebenaran mimpinya itu


“apa yang akan kita lakukan di sana?” tanya rani


“entahlah, tapi hati kecilku mengantarku ke sana” jawab Lova yang yakin dengan hatinya


“baiklah, besok kita akan ke sana” ucap rani kemudian menutup matanya karena masih teringat dengan mimpinya itu


.


.


.


jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏

__ADS_1


__ADS_2