DENDAM HACKER CANTIK

DENDAM HACKER CANTIK
memaafkan itu sulit


__ADS_3

Setelah itu pengawal itu masuk kembali ke ruangan Zulfa dan memberi laporan jika teknisi akan sampai dalam waktu lima menit. Setelah itu Zulfa kembali bersantai dengan Weni karena di hari itu semua pekerjaan mereka sudah di handle dengan para karyawan mereka.


Lima menit kemudian pengawal Zulfa masuk kedalam ruangan Zulfa.


"Ibu Presdir, teknisi CCTV sudah sampai" ucap pengawal itu


"Baiklah persilahkan mereka masuk" jawab Zulfa kemudian pengawal itu keluar dan mempersilahkan dua wanita yang berseragam layaknya teknisi, dan memakai topi dan masker untuk menyamakan wajah mereka, ya seperti yang sudah kita duga jika kedua wanita itu adalah Rani dan Lova yang sedang menyamar.


"Mari, mbak silahkan" ucap Zulfa mempersilahkan dengan nada yang lembut dan sopan


Kemudian Lova segera menuju server CCTV dan mulai memperbaikinya, dengan cepat dan sangat mudah, Lova dapat mengembalikan sistem CCTV yang di rusak oleh Rani tadi. Melihat itu Zulfa terkesan dengan mereka berdua, karena biasanya para teknisi memperbaiki servernya membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun mereka berdua bisa menyelesaikan itu hanya dalam hitungan detik. ya Tentu saja itu mudah bagi mereka, karena mereka berdua lah yang merusak CCTV sehingga mereka tau dimana letak kejanggalan itu.


"Wah, terimakasih mbak anda sangat hebat" ucap Zulfa memuji mereka berdua


"Terimakasih ibu Presdir" Jawab mereka berdua yang masih menyamakan wajah mereka


"Mari Silahkan duduk" ucap Weni mempersilahkan Rani dan Lova duduk di sova tempat mereka bersantai.


Kemudian Lova dan Rani menundukkan kepalanya dan langsung duduk di sofa bersama dengan Zulfa dan Weni.


"Kalian Sudah lama ya, menjadi teknisi?" Tanya Weni yang kagum dengan Rani dan Lova


"Tidak, kami baru, satu hari ini menjadi teknisi" jawab Rani jujur


"Kelihatannya kalian sangat hebat, apakah kalian bisa hacking?" Tanya Weni


"Tentu saja, itu salah satu keahlian kami" jawab Lova


"Oh ya, apa kalian bisa merusak sebuah sistem keamanan?" Tanya Weni

__ADS_1


"Tentu saja, itu tidaklah sulit bagi kami" jawab Lova


"Wah kebetulan, aku butuh kalian, apa kalian mau bekerjasama dengan kami?" Tanya Zulfa


"Tentu saja, tapi kami ingin imbalan yang tidak mudah bagi anda" ucap Rani mencoba mengungkapkan siapa mereka berdua secara halus


"Memang apa yang kalian inginkan? Berapa uang yang kalian inginkan, aku akan berikan" ucap Zulfa


"Ini bukan soal uang, kami berdua lebih kaya dari anda, jadi ini bukan soal uang. Tapi yang kami inginkan adalah sebuah maaf yang tulus" tambah Lova, sehingga membuat Weni dan Zulfa bingung


Mendengar itu Weni sedikit bingung, dia mengambil diam diam pisau buah yang ada di sampingnya dan mulai berfikir jika mereka berdua pasti musuhnya atau musuh Zulfa. Tanpa Weni sadari ternyata Zulfa mengetahui jika Weni mengabil pisau buah dan dia pun juga mengerti apa yang akan di lakukan oleh temannya itu, dengan cepat Zulfa menepuk lengan Weni untuk memberikan kode untuk tidak langsung mengambil keputusan. Setelah mendapat kode itu Weni mengerti dan langsung menaruh kembali pisau buah yang dia pegang.


"Siapa kalian? Kenapa kalian membutuhkan maaf dariku, apa yang kalian perbuat?" Tanya Zulfa yang belum menyadari jika kedua wanita di depannya adalah Rani dan Lova


"Kami adalah seorang pembunuh, kami telah membunuh orang yang telah membunuh ayah kami dengan kejam" ucap Rani mengingat kematian ayahnya itu


Setelah itu Lova memberikan rekaman yang di ambil Tio saat pak Surya membunuh pak Candra dengan cara membakarnya. Kemudian Weni mengabil rekaman itu dan menunjukkan rekaman itu kepada Zulfa.


"Apa kami salah dengan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan paman Surya kepada ayah kami" untuk Rani ketika melihat Zulfa meneteskan air mata karena melihat rekaman itu


"Ya, kalian salah, karena kalian bukanlah Tuhan yang bisa menghukum seseorang dengan seenak kalian" ucap Zulfa sambil menyeka air matanya.


Kemudian Rani dan Lova mulai membuka masker dan topinya, karena Zulfa dan Weni sudah mengerti jika mereka berdua adalah Rani dan Lova.


"Maaf, kami tidak kebetan jika kalian menghukum kami" ucap Rani yang melihat Weni memegang pisau buah yang ada di sampingnya


"Aku pikir darah kalian akan mengotori ruangan ini" ucap Weni sambil menaruh pisau buah yang dia bawa ke atas meja


"Ya, aku pikir aku tidak mempunyai hak untuk menghukum kalian, serahkan diri kalian ke polisi, dan terimalah hukuman kalian" ucap Zulfa yang memiliki hati yang tenang

__ADS_1


"Baiklah, kami pergi, mungkin kami akan mendapatkan hukuman seumur hidup, tolong katakan kepada ketiga sahabat kami untuk tidak mencari kami lagi" ucap Lova tersenyum ke arah Zulfa kemudian langsung pergi


"Rani, Lova, apa kalian lupa sesuatu" ucap Weni menghentikan langkah mereka berdua


"Apa maksud kamu?" Tanya Lova membalikkan badannya


"Apakah, itu cara kalian bertiga melakukan perpisahan? Bukankah kalian adalah sepupu Zulfa" ucap Weni memberi kode kepada temannya Zulfa


Kemudian Lova dan Rani yang mengerti maksud dari Weni langsung berjalan kearah arah Zulfa dan memeluknya. Mereka bertiga tampak akur seakan semua masalah sudah selesai, Zulfa yang sudah memaafkan Rani dan Lova langsung memeluk erat mereka berdua.


"Kalau begitu, kami akan pergi, terimakasih atas maafnya" ucap Rani melepas pelukannya


"Ya, tapi maaf, aku belum sepenuhnya memaafkan kalian" ucap Zulfa yang sedikit berat memaafkan Rani dan Lova


"Iya, kami faham dengan itu, kami pergi sekarang" ucap Lova kemudian mereka berdua pergi dan langsung menuju kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Keesokan harinya di kediaman Rani dan Lova. Tio, Ridho dan Amel merasa aneh karena Lova dan Rani tidak ada kabar, mereka mulai menelpon dan mencoba melacak SIM card milik mereka berdua, namun mereka berdua seakan menutup akses untuk ketiga sahabatnya untuk menghubungi mereka.


"Aku khawatir pasti ada sesuatu yang terjadi dengan mereka, karena mereka pergi hanya berdua dan tidak mengatakan dia mau kemana" ucap Amel yang gelisah dengan hilangnya kedua sahabatnya


"Iya benar, aku juga berfikir seperti itu. Sebentar, kalian ingat tidak saat Rani dan Lova tiba-tiba mengajak kita kembali ke sini" ucap Tio mulai mengkaitkan kejadian di saat di pulau


"Iya, bukankah mereka berdua ingin mencari Zulfa dan dokter Weni" tambah Ridho yang masih menyangka jika Weni adalah seorang kepala dokter rumah sakit lascar


"Kita harus cari tahu tentang dokter Weni, setelah itu aku yakin jika Zulfa ada hubungannya dengan dokter Weni" ucap Amel yakin.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏


__ADS_2