
Setelah itu mereka segera masuk dan membiarkan Rani untuk beristirahat, sedangkan pak Candra tidak jadi ke perusahaannya. Di kamar pak Candra, pak Candra memerintahkan empat pengawalnya untuk mengawal kemanapun Lova pergi, pak Candra juga memerintahkan anak buahnya untuk mengurus kuliah Lova yang tertunda di universitas KUSUMA. Tanpa banyak protes pengawal itu langsung pergi dan melaksanakan tugas mereka.
Setelah semua anak buahnya pergi pak Candra kembali mengingat kejadian disaat dia membunuh Lova yang dia anggap sebagai Rani. Pak Candra kembali mengambil foto bayi yang membuatnya mengalihkan air matanya kemarin. Pak Candra kembali mengingat wajah wanita yang dia bunuh waktu itu.
"Rani" ucap pak Candra saat mengingat kemiripan Lova dengan Rani.
"Apa dia putriku?" Pak Candra kembali melihat kearah foto dua bayi kembar itu.
"Rani, RANI....." pak Candra kembali meneteskan air matanya mengingat kekejamannya saat membunuh Lova yang dia anggap Rani.
"Jika dia benar putriku, betapa kejamnya diriku ini yang senang ketika melihat putrinya mati perlahan, yang tertawa bahagia melihat ke matian putrinya" pak Candra menangis kesegukan.
Pak Candra membaringkan tubuhnya di ranjangnya dan menatap kosong kearah langit langit kamarnya. Kejadian itu menjadi terbayang kembali seakan baru kemarin kejadian itu terjadi, telinga Pak Candra bisa mendengar jeritan kesakitan putrinya itu yang dia anggap sebagai musuh saat itu.
"RANI" teriak pak Candra sambil menutup telinganya yang terus terngiang-ngiang suara jeritan putrinya.
Di luar pengawal pak Candra yang mendengar suara pak Candra memutuskan untuk masuk kedalam kamar Pak Candra.
"Tuan tuan kenapa?" Tanya seorang pengawal mengejutkan pak Candra
"Pergilah aku ingin sendiri, jaga putriku itu" ucap pak Candra mengusir pengawalnya. Pengawal itu langsung pergi keluar kamar dan langsung bergabung dengan pengawal lainnya. Di kamar, pak Candra mengabil obat tidur dan meminumnya sehingga dalam hitungan menit pak Candra sudah tertidur
Di kamar Lova, Rani Teringat dengan buku harian milik Rani. Rani merasa aneh ketika membaca buku itu, Rani mulai merasa kalau memang dialah yang menulis buku harian itu. Rani juga merasa ketika dia membaca buku harian milik Lova dia tidak mengingat sesuatu.
"Sebenarnya siapa aku? Siapa Rani dan siapa Lova? Apa yang terjadi dengan ku sebelum aku hilang ingatan" Rani bertanya pada dirinya sendiri
Tok tok tok. Suara pintu kamar Lova diketuk sehingga membuyarkan lamunannya, kemudian Rani mengizinkan masuk. Dari balik pintu empat pengawal pak Candra datang membawa dokumen yang berisi tentang kuliah Lova yang tertunda di universitas KUSUMA.
"Nona, kami adalah pengawal setia ayah nona, dan sekarang kami di tugaskan untuk menjaga nona" ucap salah satu pengawal dengan hormat
"Baiklah, aku tidak keberatan" Rani menyetujuinya
"Dan ini nona, dokumen dari universitas KUSUMA, nona harus melanjutkan kuliah nona yang nantinya nona lah yang akan memegang kendali perusahaan Candra" pengawal itu memberikan dokumen itu kemudian pergi ke luar kamar.
__ADS_1
Setelah membukanya Lova merasa tidak asing dengan tempat itu.
"Di sini kah aku dulu kuliah, aku memang merasa familiar dengan tempat ini. Tapi kenapa aku merasa malas untuk kesana ya, memang apa yang terjadi dengan ku dulu sehingga membuat aku malas untuk kuliah di sana" Rani membaringkan tubuhnya di ranjang
"Oh kenapa, setelah melihat gambar universitas KUSUMA mood ku menjadi begitu buruk" Rani merasa malas dan memutuskan untuk tidur.
Di markas WAPTIC. Mereka semua merasa bosan karena telah kehilangan kedua sahabatnya.
"Kenapa aku merasa malas" ucap Mega yang tidur di sofa
"Aku juga begitu" ucap Amel yang duduk di depan tv sambil memakan cemilan
"Kenapa markas terasa sepi ya, padahal kita berempat ada di sini" ucap Ridho yang membaringkan tubuhnya di sofa depan Mega
"Apa kita bakar aja ya ini markas, biar rame" ucap Tio malas
"Hahaha, lucu ok aku ketawa" ucap Mega malas
"Yuk keluar" ajak Tio
"Nggak tau" jawab Tio membuat teman-temannya kembali merebahkan tubuhnya.
"Ke kafe yuk, ke kafe satria" ajak Amel mencoba membangkitkan kemalasan temannya.
"Ya udah yuk berangkat" ucap Ridho kemudian mereka sege berang ke kafe
Saat perjalanan menuju kafe, tiba tiba ada mobil di depan mobil Ridho yang mengerem mendadak. Ridho yang sadar dengan itu langsung mengerem mobilnya namun karena mobil Ridho yang melaju dengan kencang mobil Ridho pun menabrak bagian belakang mobil yang ada di depannya.
"Kalian gak papa?" Tanya Ridho
"Nggak papa, itu mobil depan kenapa?" Ucap Tio
Mereka pun keluar dari mobil dan melihat bagian depan mobil mereka. Dari dalam mobil depan Ridho keluar dua pria yang tidak asing lagi bagi mereka.
__ADS_1
"Maaf, saya tadi melihat kucing yang tiba-tiba melintas, akhirnya saya mengerem mendadak" ucap Dimas meminta maaf
"Kita akan ganti rugi kerusakan mobil kalian" ucap Reyhan
"Udah nggak papa kok, ini masih ada garansinya" Ridho melihat mobilnya yang tidak terlalu parah.
"Ngomong ngomong kita kayak pernah ketemu" ucap Tio
"Iya, kalian geng WAPTIC kan? Kita ketua geng SHATY" Reyhan dan Dimas menjabat tangan mereka. Mereka pun saling berkenalan dan melupakan kejadian tadi.
"Ya udah, kalau begitu kita cabut dulu, kita mau nganter temenku kuliah" Reyhan menunjuk kearah wanita yang ada di kursi belakang mobil. Setelah itu Reyhan dan langsung pergi ke arah universitas KUSUMA. Sedangkan geng WAPTIC langsung ke kafe satria.
Sesampainya di kafe mereka segera memesan beberapa makanan dan minuman. Tak lama kemudian pesanan mereka datang mereka segera menyantap makanan yang tersaji.
"Eh guys, kalian ingat tidak wanita yang ada di kursi belakang mobil Reyhan?" Tanya Mega
"Iya ingat, kenapa?" Tanya Tio
"Kayaknya kita juga pernah lihat wanita itu deh" Mega mengingat ingat.
"Sudahlah, mungkin karena kita baru saja kehilangan dua sahabat kita, kamu jadi ngerasa pernah kenal orang lain" ucap Ridho sambil menyantap makanannya
"Mungkin juga sih, tapi sudahlah" Mega melupakan hal itu.
Di kamar pak Candra. Pak Candra bermimpi tentang kejadian meninggalnya putrinya. Dalam mimpinya pak Candra melihat kejadian yang sama disaat dia menyiksa putrinya, hingga pada akhirnya pak Candra bangun saat dalam mimpinya itu memperlihatkan tembakan terakhir pak Candra yang mengenai perut putrinya.
Jantung pak Candra berdetak lebih kencang, keringat membasahi tubuhnya, nafasnya terasa berat dan wajahnya tampak pucat. Pak Candra masih merasa bersalah dengan hal itu. Pak Candra bangkit dari tidurnya dan melihat dirinya di cermin.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote biar author semakin semangat berkarya dan selamat membaca 🙏 dan terima kasih yang sudah mau mengikuti alur cerita ini