DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 14


__ADS_3

Taro dan Rizki melenggang masuk ke markas Arsha dan Nadine. Mereka tidak takut ataupun gentar, bahkan tatapan dingin mereka membuat para bodyguard Arsha ketakutan.


"Selamat datang kalian berdua..., apa kabar?"sambut Arsha sumringah melihat mereka berdua. Sedangkan yang disambut menatap tajam.


"Hay Taro.., Rizki.., kalian sudah bebas dari penjara ya,"kata Nadine tersenyum sinis.


"Iyaaaa..., seperti yang kalian lihat. Apakah kami ini hantu?"sarkas Rizki.


"Wah wah..., semenjak di penjara, kau sudah banyak berubah ya Riz,"kekeh Nadine.


"Silahkan duduk donk, gak usah tegang gitu,"kata Arsha.


Taro dan Rizki duduk tegap menghadap mereka. Tatapan nya tidak bersahabat dan tetap tajam. Membuat Nadine dan Arsha tertawa kecil melihatnya.


"Tatapan kalian judes banget sih. Seharusnya kalian senyum melihat kami. Kan nanti kita jadi patner,"kata Nadine.


Arsha ingin membahas kehadiran mereka tapi dering ponselnya mengagetkannya. Dia langsung mengangkat telepon nya dengan semangat karena nomor yang sangat dia kenal.


"Hallo Hellenku sayang.., ada apa kau menelpon,"kata Arsha bersemangat.


Taro, Rizki dan Nadine hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Arsha. Dia melospeck suaranya agar terdengar mereka semua.


"Arsha.., aku cuma mau bilang kalau aku siap jadi calon istrimu,"kata Hellen di sebrang.


Seketika Arsha tersenyum senang mendengar pernyataan Hellen. Nadine tersenyum sambil bertepuk tangan kecil. Sedangkan Taro dan Rizki hanya mendengarkan.


"Oh iyaa Hel, kalau lo mau jadi calon istri Arsha. Berarti Hide juga udah siap jadi calon suami gue donk,"sambar Nadine.


Penelpon di sebrang diam seribu bahasa. Membuat mereka tak sabar mendengar perkataannya. Lalu tiba - tiba yang berucap suara pria yang di ketahui adalah Hide.


"Iyaa., gue siap jadi calon suami lo. Tapi.., jangan harap cinta lebih dari gue. Karena gue jijik mesra sama lo,"ucap Hide dengan marahnya.


"Hey..., kalian itu harus tetap baik sama kita kalau mau Rin dan Rich utuh. Ingat yaa mereka masih di tangan kami,"kata Nadine memperingatkan.

__ADS_1


"Iyaa Nad. Maafkan Hide, dia masih belum mengontrol emosinya. Aku dan dia akan mengirimkan surat cerai kami sebagai tanda bukti kalau aku dan dia sudah tak mempunyai hubungan spesial. Aku mohon jangan sakiti anak - anakku,"lirih Hellen.


Membuat Nadine tertawa lepas mendengar suaranya. Dia merasa puas sudah membuat Hellen bertekuk lutut padanya. Ternyata mudah sekali mendapatkan mereka karena kedua anak kembar kesayangan mereka masih berada di tangannya.


"Dasar bodoh.., segitu aja bisa senang,"umpat Rizki dalam hati.


"Baiklah.., ku tunggu surat bahagia itu yaa. Ingat jika kalian berbohong ku pastikan mereka tak selamat di tangan Mr. Sun,"kata Nadine.


Rizki dan Taro melirik satu sama lain sambil merogo saku kemeja mereka. Diam - diam mereka menyelipkan perekam suara.


"Ya sudah sayang.., ku tunggu kau segera. I Love You princess ku.. muachhhh...,"kata Arsha yang mengakhiri teleponnya.


Mereka tertawa lepas dan senang bahwa sebentar lagi kemenangan berada di tangan. Sangat mudah menggertak Hellen dan Hide dengan menyangkut si kembar.


...🟣🟣🟣...


KOURU RIN DERMAWAN


Entah sampai berapa lama aku harus menunggu kedatangan Bunda dan Ayah. Apa memang mereka akan menyelamatkan aku dan abang. Tapi kenapa sampai hampir seminggu ini mereka belum muncul.


Bang Rich menatapku dan mengikuti arah pandanganku. Kami sama - sama menajamkan mata kami untuk melihat cela keluar. Tapi dengan tiba - tiba pintu di depan kami terbuka. Muncullah wajah si Tante sihir dan Om gila. Itu julukan yang ku berikan pada Mereka.


"Hallo sayangnya Mamaaa...,"sapa Tante Sihir di depanku.


Ada rasa geli mendengar perkataannya itu, karena dia dan Om gila sangat pede mencap mereka sebagai orang tua kami.


"Hay jagoan dan Princes Papa .., bagaimana keadaan kalian hari ini?"tanya Om Gila yang sudah tersenyum di depan kami.


Aku dan Bang Rich hampir panas mendengar kata - kata yang di lontarkan mereka. Rasanya kupingku mau copot dan gatal luar biasa. Begitu tidak malunya mereka apa memang mereka tak punya malu.


"Cih..., kalian emang muka tembok. Gak punya otak sama sekali. Mencap diri kalian sebagai orang tua tambahan kami. Jangan mimpi!"tegasku kesal.


"HAAHAHAAAAAAHAHAAA...."

__ADS_1


Mereka berdua tertawa keras mendengar ucapanku. Melihat muka mereka ingin rasanya aku cakar - cakar.


"Princes.., jangan gak sopan gitu donk kamu sama calon Papa dan Mama. Ingat loh, Bunda sama Ayah saja sudah setuju. Jadi kalian harus setuju juga,"kata Om gila.


Membuat ku dan Bang Rich melotot sempurna. Bunda dan Ayah, kenapa mereka tidak segera menolong kami. Malah bermain - main dengan kedua orang psyco ini sih.


"Meski Bunda dan Ayah setuju pun, aku tak sudi mencap kalian sebagai Mama dan Papa. Langkahi dulu mayatku!"ketusku.


Tante sihir langsung menjambak rambutku dan hampir mencabutnya dari rongga kepalaku kalau tidak ada Om gila yang menahannya.


"Cukup Nadine. Jangan kau sakiti dia, meski begitu, mereka adalah anak Hellen. Anak Hellen adalah anakku juga. Aku tidak akan segan melakukan kekerasan padamu jika kau melanggarnya,"kata Om gila.


Dia meninggalkan kami bersama Tante sihir itu. Tante itu hanya menatapku sinis dan berbisik di kupingku.


"Awas kau, aku akan membawamu bersama Hide. Dan kupastikan kau akan tersiksa hidup bersamaku nanti,"kata nya pedas.


Dia pergi meninggalkan kami dan aku marah karena nya. Aku berteriak sebelum dia menutup pintu.


"JANGAN BERMIMPU DASAR TANTE SIHIR!!!"


BLAMM!!


Pintu di banting kasar. Membuatku kesal setengah mati karena ucapannya. Bang Rich malah tertawa melihatku yang kesal.


"Kok ketawa sih Bang. Harusnya abang bantu aku bicara tadi,"kataku semakin kesal.


"Hah..., ngapain Dek. Males banget ah ngomong sama orang - orang stres itu. Mending abang diam aja sambil cari - cari akses buat kita keluar. Dari pada ngobrol unfaedah kayak tadi,"kata Abangku yang menggeleng dan bergidik.


"Iyaa juga sih. Unfaedah banget. Muka mereka bikin aku mau muntah. Tapi .. Bang, apa benar yang mereka ucap kalau Bunda sama Ayah menyetujui permintaan mereka,"kataku sedih.


"Dek.., kamu harus percaya sama orang tua kita. Mereka tidak mungkin dengan mudah menyetujui permintaan orang - orang stres itu. Bunda sama Ayah kan saling mencintai. Mereka tidak akan melukai satu sama lain. Ini pasti taktik mereka. Yang jelas kita ikuti saja alurnya dan duduk tenang sambil berfikir untuk kabur dari sini,"jelas Abang.


Aku hanya mengangguk membenarkan perkataannya. Iyaa sih mana mungkin Ayah yang sangat bucin pada Bunda langsung menanggapi mereka. Bisa - bisa hujan berkelir.

__ADS_1


ℒ️ Bersambung ...


__ADS_2