
"Gak seharusnya gue bicara begitu sama Hellen. Padahal kita tahu dia lagi gak stabil,"kata Citra murung.
Dia sangat menyesal telah membuat Hellen kolaps seperti tadi. Padahal tidak ada maksud apapun. Dia hanya kesal dengan halusinasi Hellen yang tak pernah hilang. Hellen seperti melupakan jati dirinya.
Hide datang setelah tadi mengantar Hellen ke kamarnya. Dia duduk di kursi tadi dan memakan sarapan yang masih tertinggal.
"Gimana Hide.., keadaan Hellen. Baik baik aja kan dia?"tanya Citra memastikan.
"Alhamdulillah .. dia sudah tidur. Tadi sudah ku beri obat penenang. Ya Allah kapan dia bisa sadar seperti dulu lagi,"kata Hide menangkupkan tangannya seperti berdoa.
"Sabar aja Hide. Pasti Hellen akan segera sembuh dan kembali seperti dulu. Yang penting kita harus sabar,"kata Rey mengelus pundak Hide.
"Amin...."
Semua pun berdoa untuk kesembuhan Hellen. Tiba tiba Silvester kepala pelayan mereka datang sambil membungkuk.
"Mohon maaf Tuan.. Nyonyaa.. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan Hide dan Nyonya Hellen..,"kata Silvester sudah berdiri tegak di hadapan mereka.
"Siapa ..? kok pagi pagi sudah bertamu...,"kata Citra bingung.
"Dua orang itu perempuan dan laki laki Tuan.. Nyonya..,"kata Silvester lagi.
"Ya sudah. Saya akan menemui mereka,"kata Hide yang bangkit dari duduknya.
Karena penasaran Citra juga bangkit dari kursinya dan membuntuti Hide dari belakang. Disusul oleh Kenzo, Izmi dan Rey. Sedangkan Cleo, Rich dan Rin masih memakan sarapan mereka dengan lahap.
Di ruang tamu Nadine dan Loren duduk manis menunggu kedatangan orang yang akan mereka temui. Nadine harus mengontrol emosinya agar tidak mengacaukan rencananya.
Hide, Citra, Rey, Izmi dan Kenzo kaget melihat kedatangan Nadine yang sudah tersenyum sambil menitikan air mata.
Nadine langsung berlari ke arah Hide dan bersujud di kakinya.
"Dokter Hilman..., maafkan saya. Saya khilaf waktu itu. Maafkan saya Dok,"kata Nadine sambil terisak.
Hide tak bergeming sedikitpun. Citra yang melihat itu semua merasa jijik dan tak suka pada Nadine.
"Eh.. Dokter Nadine, lo ngapain lakuin hal rendah kaya gini. Gak usah berlaku kaya gini. Kelakuan yang lo lakukan dulu tetap gak akan hilang di benak kami,"kata Citra ketus.
Nadine mendonggak dan menatap Citra. Lalu dia berdiri dan berhadapan dengan Citra.
"Gue tahu kok, kesalahan gue gak akan kalian maafkan begitu aja. Gue tahu kalian terlalu sayang dengan Hellen. Makanya gue beneran mau minta maaf kok, gak lebih. Oiya.. Hellen mana?"tanya Nadine sambil celingak celinguk.
"Udah deh, lo gak usah ganggu kita lagi. Gak usah kesini lagi. Mending lo pergi aja dan jangan ketemu kita lagi. Karena bagi gue sekali mencoba menghilangkan nyawa, tidak ada maaf.,"kata Citra dingin.
"Tolong...---"
"Pi...Mi... Kami mau berangkat dulu ya,"kata Cleo yang tiba tiba muncul di hadapan mereka.
__ADS_1
Rin dan Rich juga datang dan menyalami Hide dan semua orang kecuali Nadine dan pria yang duduk di ruang tamu dengan tenang.
"Hati hati ya kalian....,"kata Izmi.
"Iyaa Tante...,"Rin dan Rich berbarengan.
Mereka langsung melenggang pergi meninggalkan semua orang dewasa yang sedang kalut dengan pikiran mereka masing masing.
...⚜⚜⚜...
KOURU RIN DERMAWAN
Saat berpamitan kami melihat tamu seorang wanita dan pria yang sedang berbicara pada Om dan Tante. Bahkan wanita itu sempat bersujud memegang kaki Ayah sambil meminta maaf. Kekepoanku memuncak dan ingin mendengar lebih banyak. Kenapa semua membenci wanita itu. Kulihat dari tatapan mereka yang sudah kesal dan malas melihat wanita itu.
"Koko...,"sapaku saat kami sudah memasuki mobilnya.
Seperti biasa aku dan Abang akan nebeng mobil Koko Cleo karena sekolah kami berbarengan satu tempat. Hanya beda tingkatannya aja. Aku dan abang SMU sedangkan Koko sudah anak kuliahan.
"Iyaa.., ada yang ketinggalan?"tanya dia melirik ke kaca spion depan sambil melihatku yang sudah duduk di belakang.
"Bukan Ko. Itu kedua tamu didalam apa kenalan orang tua kita?"tanyaku.
Sambil menyalakan mesin mobil dan mengendarainya Koko berbicara.
"Oh..., itu kayaknya Tante Nadine yang baru keluar dari penjara,"kata Ko Cleo.
"Siapa dia Ko, kenapa orang tua kita kenal sama dia,"kataku penasaran.
"Dia itu dulunya dokter sebelum di penjara. Dan dia itu pernah mencoba membunuh Bunda kalian. Itu sih yang koko dengar dari Mami,"kata Koko Cleo menjelaskan tanpa beban.
"APPAAA... MEMBUNUH BUNDAAAA!!"teriakku berbarengan dengan Abang.
"Duhhhh.., suara kalian cempreng banget sih. Udah kaya pake toa masjid tau gak. Astagfirullah... pengang ni kuping ku,"kata Koko Cleo yang mengusap telinga kirinya.
"Maaf Ko, kami kaget lah. Dia membunuh Bunda.. parah banget sih. Emang kenapa dia mau lakuin itu coba,"kataku geram.
"Yahhhh karena dia mau ngerebut Ayah kalian dari Bunda kalian. Memang gila sih caranya. Dapet perhatian enggak, dipenjara iya. Psikopat dia loh,"kata Koko Cleo menggeleng.
"Ih.., ada ya orang sableng kaya gitu. Dasar gak ada otaknya. Apalagi dia dulu dokter kan. Kok bisa punya pikiran ngebunuh orang. Sekarang gelar dokternya di cabut donk,"jelasku.
"Bukan dicabut lagi, tapi dia udah di blacklist dari bidang kedokteran. Dan semua rumah sakit gak akan bisa menerima dia sebagai dokter lagi,"kata Koko Cleo.
Memang benar sih, kita sebagai Dokter harus bisa punya rasa kemanusiaan yang tinggi karena pekerjaan kita kan menolong nyawa orang lain. Apalagi kalau kita sudah di sumpah. Aku gak habis pikir sama orang yang pikirannya sempit kaya gitu.
...⚜⚜⚜...
KOUYA RICH DERMAWAN
__ADS_1
Kami sampai di parkiran gedung sekolah yang sangat besar. Gedung sekolah kami memiliki parkiran luas seperti mall. Gedungnya pun sama seperti Mall dan ada beberapa gedung karena semua tingkatan tergabung menjadi satu di area ini.
Dari playgroup, TK, SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi. Semakin ramai dan pastinya international. Karena siswi dan siswanya tergolong orang kaya raya, anak pejabat atau artis papan atas. Dan berbagai kalangan dari beberapa negara.
"Yaudah kalian belajar yang rajin. Oiya ini hari pertama MOS yang kalian pimpin kan. Semangat ya,"kata Koko Cleo yang melambai tangannya dan pergi meninggalkan kami.
Aku dan Rin berjalan ke gedung sekolah kami. Saat memasuki lobby, ada suara teriakkan yang sangat cempreng.
"RRRIIIIIIINNNNNNNNNNNN.........."
Aku dan Rin menengok ke arah sumber suara yang menggema di lobby ini. Ternyata There dan Ikram. There adalah pemilik suara cempreng tadi. Teman dari Rin sedangkan Ikram temanku.
"Rin... Rin... Rin... astaga Rin....,"teriak There dengan heboh.
"Aduhhh Re.., lo ngapain sih teriak teriak. Berisik tahu gak. Lo kira di hutan apa,"kata Rin cemberut.
"Kalian pasti belum tahu kabar yang mencengangkan ya kan ya kan...,"kata There sambil menunjuk nunjuk kami.
Aku mengerutkan alisku sambil menengok ke arah Ikram meminta penjelasan. Dan Ikram hanya mengendikkan bahunya.
"Emang ada apa?"tanyaku datar.
"Ihhh.. balok es dasar. Eh dengerin ya. Kita punya tambahan stok cowok ganteng lagi,"kata There.
"Tambahan stok cowok ganteng? apaan sih maksud nya?"tanyaku bingung.
"ada anak pindahan dan dia gantenngggg banget,"kata There sambil tersenyum.
"Yaelah gue kira apaan. Gue udah bosen ketemu cowok ganteng,"kata Rin.
"Tapi Rin... Yang ini beda dari abang lo si es balok dan Ikram si patung pancoran. Dia tuh kayak malaikat turun dari langit yang....---"
Omongan There pun terhenti karena ada seorang cowok yang datang ke arah kami dan berjalan melewati kami. Dia sempat menyenggol Rin dengan kasar.
"Eh..., lo gak punya mata apa, main nyelonong. Pake nabrak nabrak pula. Dasar buta..,"kata Rin kesal.
"Apa... Lo bilang apa?"kata cowok itu berbalik arah. Dia menghampiri Rin dengan wajahnya yang juteg.
Dia menaikkan alisnya sambil berbicara pada Rin.
"Lo bilang apa? buta?"kata Cowok itu dengan menaikkan intonasi suaranya.
"Iyaa lo BUTA... kenapa gak terima!"tegas Rin.
Cowok itu memajukan wajahnya ke wajah Rin. Rin yang ditatap seperti itu jadi ketakutan dan memundurkan wajahnya. Tapi lehernya di cekal dan tanpa aba aba dia mencium bibir Rin membuat kami syok.
"Bibir yang nikmat, baby..."
__ADS_1
™️ Bersambung...