DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 41


__ADS_3

Suho mengendap ngendap bersama Hide, Hellen dan Paris. Sambil membawa senjata mereka berjalan pelan menuju salah satu gubuk dalam hutan.


Disana terlihat beberapa penjaga dan Arsha yang sedang menelpon seseorang. Dia terlihat serius sampai tidak berkonsentrasi di sekitar.


Suho memberi aba aba untuk mengikuti dari belakang. Meski penjagaan ketat tetapi mereka lengah karena bersantai santai di gubuk itu.


"Aku dan Hide akan menyandra Arsha. Kalian bereskan anak buahnya untuk mengalihkan perhatian. Setelah Arsha beres, Hide akan mengendap melalui pintu belakang untuk menyelamatkan Rin. Aku sudah menelpon paman Lucas untuk datang secepatnya,"bisik Suho.


Hellen, Paris dan Hide mengangguk mengerti dengan intruksi Suho. Setelah mereka mengatur strategi, mereka langsung pergi untuk menjalankan aksinya.


Saat Arsha menjauh dari gubuk, itulah kesempatan Suho dan Hide untuk menyergap Arsha. Keahlian Suho tidaklah main main karena dia sudah terlatih.


Suho memberikan obat bius pada sapu tangan yang dia sediakan untuk membungkam Arsha dari belakang. Karena begitu seriusnya Arsha menelpon dia tidak mendengar langkah kaki di belakangnya.


Untung Arsha menjauh ke bagian belakang gubuk yang tidak terjaga oleh penjaganya. Jadi Suho dan Hide leluasa melakukan aksinya tanpa ketahuan siapapun.


Dalam hitungan pelan Suho dengan cepat membekap mulut Arsha dengan obat bius itu. Arsha gelagapan dan memberontak. Tetapi tenaga Suho lebih besar dari dia.


Hanya beberapa detik saja Arsha diam tak bergerak. Suho langsung meletakkan tubuh Arsha perlahan ke rumput. Dia menyuruh Hide untuk memborgol tangan dan menutup mulut Arsha memakai lakban.


"Ok sudah beres. Sekarang kita bantu Hellen dan Paris."


"Ok Kak."


Mereka semua meninggalkan Arsha dan pergi ke dalam gubuk melalui pintu belakang. Tanpa ragu Suho mendobrak pintu kayu itu sampai hancur. Lalu dia masuk begitu saja bersama Hide.


Suho mengintruksi Hide agar segera melepaskan Rin. Sedangkan dia sendiri yang akan membantu Hellen juga Paris.


Hide pergi ke ruangan yang terkunci dan mendorong pintu itu. Ternyata pintu itu terbuat dari kayu yang mudah di hancurkan.


BRAK!!!


Pintu langsung jebol dengan satu kali hentakkan. Saat masuk Hide kaget karena banyak ular di dalam ruangan yang sudah mengitari Rin. Kondisi Rin pun mengenaskan karena sudah belepotan bekas darah dimana mana. Dia terkulai di lantai dengan mata terpejam.


"Astagfirullah ... Rinnnnnn.. Dasar ular brengsek kalian. Lihatlah pembalasanku."geram Hide.


Dia mengambil kayu di luar dan mulai masuk ke dalam mendekati ular itu. Satu persatu dia pukuli dan langsung mengambil korek juga kertas yang berada di saku nya. Dia membakarnya dan mengibas ngibaskan di samping kanan kiri.

__ADS_1


Beberapa ular itu pergi karena takut api yang terkena bagian tubuhnya. Karena gubuk yang terbuat dari kayu, api mulai menjalar seisi ruangan.


Dengan cepat Hide membopong Rin dan pergi menjauh dari sana. dia melewati pintu depan dengan lenggang karena anak buah Arsha sudah kalah dari Suho, Hellen dan Paris.


"Astagfirullah sayang... Rin kenapa sampai seperti itu..?"tanya Hellen panik saat melihat Rin di gendongan Hide.


"Pertanyaan nanti saja. Secepatnya kita bawa Rin ke rumah sakit!"tegas Hide.


"Biar aku dan Paris yang menjaga disini. Kalian pergi lah dulu memakai mobilku. Nanti kami menyusul,"saran Suho.


"Baik Kak. Makasih banyak Kak Suho,"kata Hide membuat Suho mengangguk pelan.


Akhirnya Hide dan Hellen pergi membawa Rin dalam keadaan kritis karena digigit ular.


"Ya Allah... selamatkanlah Rin anakku. Selamatkanlah cucuku..,"doa Hellen.


"Kau jangan cemas Dear. Aku yakin kok kalau Rin anak yang kuat,"tenang Hide.


Mereka akhirnya menuju rumah sakit memakai mobil Suho dengan perasaan cemas dan takut.


...****...


Mereka bersembunyi di balik pepohonan besar tak jauh dari rumah itu. Terlihat dari kejauhan Adel di marahi dan di aniaya oleh dua orang.


"Jangan jangan mereka kedua orang tua Adel!"


"Kau benar Rey, mereka orang tua yang memaksa Adel menjebak Rich. Mereka orang tua yang gila harta hanya demi uang,"jelas Fersha.


"Dasar orang tua gak bermoral. Rendah sekali mereka menjadikan anak mesin uang berjalan,"kesal Citra.


"Aku sudah menaruh peledak ringan di sisi rumah. Jadi kita harus bersiap sekarang. Kalian berdua harus secepatnya bawa Adel pergi dari rumah itu sebelum ledakkan."


Perkataan Fersha membuat Rey dan Citra melotot tak percaya dengan aksi nekad ini.


"Apa Kakak yakin, kita bisa sempat membawa Adel sebelum meledak. Adel kan lagi hamil. Dia pasti susah berjalan. Gak mungkin kita seret dia,"protes Citra.


"Tenang lah Cit. Fersha tidak seceroboh itu. Kalian tahu kami siapa. Sekarang jangan ada yang protes. Ikuti saja aba aba dari kami!"jelas Isabel.

__ADS_1


Citra dan Rey terdiam dan mau tidak mau dia melakukan apa yang sudah di perintahkan Fersha. Dengan aba aba dari Fersha, mereka langsung melakukan aksinya.


Mereka berempat menyerbu secara bersamaan sambil membawa pistol di saku celana masing masing.


"Lepaskan Adel!"ketus Fersha sambil menodongkan pistol ke arah kedua orang tua Adel.


"Om .. Fersha..,"kata Adel terbata dan lemah.


"Kalian apa apaan ini!"


"Lepaskan Adel atau aku tembak kepala kalian dengan sekali tembakkan. Aku adalah Fersha Kandika dan di sampingku Isabella. Kami agen berbahaya dari Paris. Kalian kenal kami kan?!"kata Fersha penuh penekanan.


"Ap..apa... Fersha... Kandika.., Isabella... Kalian agen rahasia berbahaya yang di agungkan pemerintah itu..?"


Fersha Dan Isabel hanya menautkan kedua alisnya sambil mengangguk. Sedangkan Rey dan Citra masih menodongkan pistol mereka ke semua arah.


"Kalau kalian tak melepaskan Adel. Aku akan meledakkan bom yang sudah kami pasang di sekitar rumah kalian!"ancam Fersha.


Dia mengangkat remot kecil ke atas. Tanpa ragu dia memencet tombol on pertama dan terdengarlah bunyi ledakkan nyaring di sekitar sungai. Membuat mereka kaget dan melihat sungai yang memercikkan air keatas karena ledakkan itu.


Kedua orang tua Adel refleks melepaskan Adel karena takut. Citra dengan cepat menarik lengan Adel ke arahnya. Rey pun mengangguk dan memberi kode pada Fersha.


"Bagus.. sekarang jangan halangi jalan kedua adikku untuk membawa Adel. Kalau sampai kalian atau anak buah kalian macam macam. Aku tak akan segan memencet semua tombol agar kita mati bersama dan hancur berkeping keping!"


"Letakkan senjata kalian ke lantai!"tegas Isabel.


Tapi mereka masih syok dengan ancaman Fersha dan tak menggubris kata Isabel yang membuatnya marah.


"CEPAT LETAKKAN SEKARANG JUGA!"teriak Isabel.


Mereka akhirnya menuruti perkataan Isabel karena takut akan remot yang sudah hampir di pencet tombolnya oleh Fersha.


Rey yang melihat itu langsung membimbing Citra untuk mengikutinya. Citra pun menarik lengan Adel dan membawa nya pergi.


ℒ️ Bersambung ...


...****************...

__ADS_1


AUTHOR SIFI


Maaf yaa Readers.. mungkin ceritaku sangat belibet masalahnya. Karena saat ini masih belum fokus karena kesehatanku. Tapi sedang ku perbaiki. Semoga tetap betah membaca karya karyaku ya. Terima kasih Readers...πŸ™πŸ₯°


__ADS_2