DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 16


__ADS_3

Hide sudah jengah melihat pemandangan panas di depannya. Arsha sangat keterlaluan dengan merangkul pundak Hellen mesra. Membuatnya cemburu dan sesak napas.


Begitu pun Hellen yang melihat Nadine menyender di dada bidang suaminya. Dia begitu marah dan ingin mengacak wajah Nadine sampai tak berbentuk.


Mereka berdua belum bisa berkutik untuk saat ini, karena Alex suami Nadine plus sahabat lama mereka belum mengabari keadaan disana.


Ponsel Arsha tiba - tiba berdering dan mengagetkan kami semua. Dia mengerutkan keningnya karena yang menelpon adalah Mr. Sun.


"Hallo.., iya Mr. Ada apa anda menelpon?"tanya Arsha tersenyum.


Beberapa menit kemudian senyumnya hilang dengan mata yang membulat dan menahan marah. Dia menatap tajam Hellen dan Hide bergantian.


"Kalian menipu kami!"tegasnya sambil melotot.


Arsha menodongkan pistol ke kepala Hellen. Tapi Hide pun tak mau kalah dengan menodongkan pistolnya ke Nadine.


Mereka berdua menatap penuh amarah dan kebencian. Membuat orang takut melihatnya.


"Hide..., apa apaan ini. Lepaskan aku!"kata Nadine yang syok.


"Jika lo ingin gue lepasin. Suruh Arsha buang senjatanya!"tegas Hide.


"Gak akan gue buang. Memangnya kalian bisa membodohi gue!"geram Arsha.


"Heh.., memang lo bisa di bodohin kok. Buktinya kali ini kalian tertipu dengan mudah,"kata Hide pancing amarah Arsha.


"Lo jangan macem - macem, karena Hellen masih bersama gue!"tegasnya.


"Kau yang jangan macam - macam. Lepaskan Hellen atau saya tembak mati!!"


Arsha menengok ke arah penodong pistol dia adalah kakek Marino. Melihatnya mata Arsha membulat ketakutan. Yang dia tahu bahwa Marino telah mati.


"Andaaaa... Bukankah anda telah mati!"kata Arsha terbata - bata.


Hellen yang melihat Arsha melonggar langsung menonjok wajahnya dan membantingnya kebelakang.


Arsha langsung kaget dan tak sempat membalasnya. Pistol di tangannya di ambil alih oleh Hellen. Sebelum dia bangun, Hellen menginjak punggungnya dan menodongkan pistolnya ke kepala Arsha.


"Jangan bergerak atau ku tembak kau!"tegas Hellen.


Melihat Arsha tak berkutik, Nadine meronta minta di lepaskan. Dengan satu pukulan keras di pundaknya membuat Nadine terkulai pingsan.


Hide langsung menyingkir dan membiarkan tubuh Nadine tergeletak bebas di lantai. Dengan kesal dia mengibas kibaskan jasnya seperti sedang membersihkan debu.


Paman Lucas dan beberapa anak buahnya datang dan mengambil alih mereka berdua dari tangan Hide dan Hellen.


Mereka di borgol dan di bawa pergi, Hellen dan Hide pun saling berpelukkan mesra.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah mengijinkan lelaki lain untuk menyentuh mu lagi, ini yang terakhir kalinya. Aku janji Dear..,"kata Hide.


Hellen hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. Dia juga mengakui hal yang sama dengan Hide. Dia hampir kalap melihat Hide di pegang dengan mesra.


"Bundaaaaa.... Ayaaaaaahhhhhh...."


Teriakkan kencang mengagetkan mereka berdua dan melepaskan pelukkan mereka. Dari kejauhan Rin dan Rich berlari ke arah mereka dan langsung berpelukkan.


...🟣🟣🟣...


KOURU RIN DERMAWAN


2 Tahun kemudian ...


Aku menatap kesal Koko Cleo di depanku. Memang dia itu idola kampus. Tapi dia sudah menjadi suamiku. Seharusnya dia tidak perlu menebar senyum untuk cewek - cewek lain disini. Mereka jadi kegeeran 'kan.


Abang yang melihatku cemberut dari tadi mengetahui perasaanku. Dia merangkulku dan berbisik.


"Udah donk jangan cemberut gitu. Cepet tua loh, liat saingan lo banyak Dek,"katanya yang tersenyum jail.


Aku hanya mengerucutkan bibirku seperti bebek. Kami sudah sampai di area parkir kampus.


"Nah besok kalian sudah bisa kuliah disini,"kata Koko Cleo yang menatap kami.


Dia heran melihat muka ku yang cemberut sejak tadi. Bukannya bertanya padaku malah melirik abangku.


"Biasaa Ko.., dia cemburu sama lo. Makanya jangan suka tepe - tepe. Kasian 'kan adek gue, bisa - bisa bakal tua lebih cepet sebelum waktunya,"kekeh Abang.


"Aduuuhhh..., ih kok nyubit sih,"lirihnya sambil menggosok perutnya yang terkena emposku.


Aku tak menggubris perkataannya dan langsung masuk ke mobil dalam mode diam. Sungguh kedua makhluk ini membuatku kesal.


Di dalam mobil sampai perjalanan menuju rumah kami, aku tetap diam dan tak menggubris ledekkan mereka. Ku pakai headseat dan nyalakan musik yang ku kencangkan. Memejamkan mataku seketika. Agar bisa meredakan emosi yang telah membara di hatiku.


Lambat laut karena lantunan musik aku pun tertidur.


...🟣🟣🟣...


CLEO SAPUTRA WIBOWO


Melihat Rin cemburu seperti itu membuatku senang luar biasa. Berarti dia benar - benar mencintaiku. Padahal aku hanya mengetesnya sedikit. Siapa suruh dia dulu mengetes hatiku.


Sesampainya di kediaman Kakek Uyut yang besar. Aku menghentikan mobil ku tepat di depan pintu utama. Pengawal di luar sudah siap membawa mobil ku ke parkiran.


"Koko.., Rin kayaknya pules banget deh. Biasanya tuh anak kalau sudah begitu susah dibangunin. Lo kayaknya harus gendong, hehehee...,"kekeh Rich nyengir.


Aku hanya melirik ke arah kaca dan benar saat ku tengok dia sudah tertidur pulas.

__ADS_1


"Iya udah , lo bawain barang - barangnya aja,"kataku yang sudah keluar dari kemudi.


Aku memutar arah ke tempat Rin dan membuka pintu mobil. Ku bopong dia ke dalam rumah dan menuju lift untuk membawa kami ke kamar. Rich membuntuti ku dari belakang sambil membawa barang barang Rin.


Saat sampai di kamar, aku membaringkan Rin perlahan. Supaya dia tak terbangun, ku lepas sepatunya dan kuselimuti dia.


"Koko.., gue ke kamar langsung ya. Ni tas Rin gue taro sini,"kata Rich yang berlalu pergi.


Aku mengambil barang - barangnya dan merapikannya di tempat yang sudah semestinya. Lalu ku tutup pintu dan beranjak ke kamar mandi.


...β–ͺ︎β–ͺ︎β–ͺ︎β–ͺ︎...


Setelah mandi, ku lihat Rin masih tertidur pulas. Kami sudah menikah baru seminggu yang lalu. Sekarang Rin sudah menjadi istri kecilku. Aku tak menyangka bisa berjodoh dengannya.


Ku hampiri dia dan ku belai pipinya. Semakin cantik saja. Hasratku tiba - tiba muncul. Tapi aku sudah berjanji padanya untuk menunggu sampai kami lulus.


"Koko..."


Aku tersadar dari lamunanku. Melihat Rin yang sudah terbangun dan duduk di hadapanku.


"Iyaa sayang..., kamu mau mandi dulu?"tanyaku padanya.


Dia menggeleng keluh dan langsung memelukku. Tiba - tiba dia terisak di pelukkanku.


"Koko jahat.. hiks ... hiks..,"lirihnya.


Aku tahu apa yang ingin dia bahas. Ku belai rambutnya dan mencium puncuk kepalanya lembut.


"Maafin Koko Sayang.., kau tahu 'kan rasanya sakit, makanya jangan pernah menguji Koko,"kataku.


"Jadi ..., Koko dendam gitu.., terus ngebalas aku,"katanya yang sudah melepas pelukkan.


Ku raih dagunya agar dia bisa menatapku. Wajahnya tersipu malu.


"Maafin Koko ya..,"kataku lembut.


Tanpa mendengar jawabannya, aku melahap bibir mungilnya itu. Dia pun meresponnya dengan baik. Kami sama - sama ******* nya membuat hasrat naluri lelaki ku muncul. Lupa apa yang di sarankan Mami, aku melanggar petuahnya.


Karena tak ada penolakkan dari Rin, aku pun melakukan hal lebih dari itu, layaknya pasangan suami istri.


Puas mencium bibirnya aku beralih ke lehernya yang mulus, desahannya membuatku semakin memanas. Ku selipkan tanganku ke kaos putih yang dia gunakan dan melepas kaitan B** nya.


Ku mainkan kedua gundukkan kembarnya yang mulus. Memainkannya disana membuatnya semakin mendesah dan bergelinjang menikmati yang ku lakukan.


Ku lepas kaosnya sampai tak ada sehelai baju pun yang dia pakai. Begitupun pada diriku yang sama - sama polos. Dengan gerakkan cepat dan napsu yang membara melihat tubuh polosnya, Langsung ku luncurkan malam pertama kami saat ini juga.


Petuah dari orang tua kami pun sudah terlewat dan terlupakan. Sampai kami mencapai klimaksnya. Dan ku jebol gawangnya yang sempit itu. Darah segar keluar dari tempatnya dia pun meringgis kesakitan, tetapi beberapa menit berikutnya desahan demi desahan kenikmatan yang dia lontarkan.

__ADS_1


Setelah puas, kami sama - sama terbaring lemas dan tertidur karena kelelahan...


ℒ️ Bersambung ...


__ADS_2