
Citra dan Hellen sedang di meja makan menunggu yang lain tiba. Beberapa menit kemudian sudah banyak yang berkumpul. Tetapi mereka belum melihat Cleo dan Rin turun.
"Si Cleo sama Rin kemana? kok belum turun mereka?"tanya Citra bingung.
"Mungkin kecapean kali Tan..,"kata Rich.
Citra dan Hellen langsung mengerutkan dahinya. Pasalnya mereka merasa aneh, kecapean karena apa. Soalnya kemarin pun Rin dan Cleo pulang di sore hari makan pun seperti biasa.
"Kecapean apa maksud kamu?"tanya Hellen menyelidik.
"Ya elah Bun. Masa masih gak tahu, mereka sudah suami istri. Paling kecapean abis bertempur. Soalnya Aku dengar erangan Rin pas lewat kamar mereka tadi malam,"jawab polos Rich.
Perkataan Rich yang polos atau keceplosan itu, membuat tubuh Citra dan Hellen menegang. Sedangkan Rey dan Hide hampir terbatuk batuk.
BRAKKK!!!!
Meja bergetar karena gebrakan Hellen dan Citra bersamaan. Membuat mereka yang duduk tenang ingin memulai sarapan menatap aneh mereka berdua.
"Kalian ini kenapa sih, ngagetin orang aja deh,"kata Fersha yang kesal karena kaget.
"Tau ni. Ada apa sampai gebrak meja segala,"kata Isabel yang sudah memakan rotinya.
"Ini gawat Hel..., jangan jangan mereka...,"pikir Citra.
Citra dan Hellen saling menatap begitu juga dengan Rey dan Hide. Tanpa aba aba mereka berdiri dan berlari ke lift menuju kamar Rin dan Cleo.
"Mereka kenapa sih, aneh banget pagi pagi,"kata Isabel menggeleng melihat mereka.
"Mungkin mereka takut si Rin di jebol duluan sama Cleo. Mereka 'kan sudah kasih wajengan sebelum menikah, kalau Rin sama Rich gak boleh melakukan hubungan suami istri sampai mereka menyelesaikan kuliahnya,"kata Kenzo menjelaskan.
Mereka yang di meja makan hanya manggut manggut paham dengan perkataan Kenzo. Sedangkan Rich bermuka horor dan pucat pasi. Dia menepuk jidatnya dan berteriak prustasi.
"AAAAAAGHHHH... YA TUHAN GUE BERDOSA DONK!"
Mendengar teriakkan Rich, mereka yang berada di meja makan kaget dan saling menatap melihat Rich dengan tatapan tajamnya. Kenzo yang lebih dekat dengan Rich, langsung menjitak kepalanya.
PLETAK!!
"Aduhhh..., om kok di jitak sih,"kata Rich mengadu.
"Kamu kalau teriak cempreng banget sih. Mau bikin jantung kita copot apa,"kata Kenzo kesal.
__ADS_1
"Maaf Om. Aku refleks tahu, kenapa tadi aku nyerocos aja. Padahal 'kan aku gak bermaksud ngadu sama Ayah dan Bunda,"kata Rich mengusap wajahnya.
"Makanya jadi cowok jangan ember, tingkahmu banyak perubahan banget semenjak Rin dan Cleo menikah,"kata Izmi.
"Iyaa Tan. Gak tahu kenapa aku merasa ada yang hilang semenjak Rin jadi istri Koko Cleo,"kata Rich murung.
"Wajar.., kalian 'kan kembar. Jadi kalau misal ada salah satu yang pergi, pasti rasanya kehilangan dan jenuh. Makanya kamu jangan mau kalah donk dari adekmu itu. Cari pacar..., hehehe...,"kata Rizki.
"Ih.., om mah gitu. Aku belum mau pacaran, mau fokus kuliah,"kata Rich.
"Bagus itu.., semangat ya, jangan mau kalah. Belum pacaran bukan berarti mati dunia,"kata Taro.
Rich mengangguk menyetujui perkataan Taro. Mereka mengobrol keci sambil memakan ringan.
Hellen, Hide, Citra dan Rey berlari ke kamar Rin dan Cleo. Di depan pintu kamar Hellen membuka hendle pintu yang terkunci. Dia mendobrak berbarengan dengan Citra.
"RIN ... CLEO .... CEPAT BUKA PINTUNYA!!"teriak Citra.
...ππππ...
KOURU RIN DERMAWAN
Aku mendengar gedoran keras di depan pintu kamar kami. Padahal aku dan Koko Cleo sedang panik karena kami melanggar petuah orang tua kami.
"Iyaaa, yaudah kita pura - pura tidur aja,"kata Koko Cleo yang menaiki kasur dan berbaring sambil memelukku.
"Ihhhh..., gimana sih Ko, nanti ketauan..,"kataku takut.
"Asal kita jangan bangun. Udah tidur cepet. Koko yakin mereka akan membuka paksa,"kata Koko Cleo.
Dengan terpaksa karena takut amukkan keduanya, kami pun memejamkan mata dan pura - pura tertidur. Beberapa menit kemudian pintu kamar kami terbuka dengan kunci cadangan. Aku mengintip sedikit dan melihat wajah Bunda dan Mami memerah karena marah.
"RIN..., CLEO...., CEPAT BANGUN!"teriak Mami.
"Hemmm...,"lirih Koko yang berpura - pura mengucek matanya.
Aku dengan perlahan membuka mataku seperti orang yang baru bangun tidur.
"Mami..., Bunda..., Ayah..., Papi..., kenapa kesini?"tanya Koko sambil menguap.
"Kenapa kalian belum bangun. Ini sudah jam delapan. Kalian tidak mau kuliah?"tanya Papi kalem.
__ADS_1
"APPAAAA... JAM DELAPAN!"teriak Koko pura - pura kaget.
Dia berdiri dan turun dari kasur, sepertinya dia lupa apa yang dia bicarakan tadi karena telat. Dengan tak berdosa dia meninggalkanku berlari ke arah kamar mandi sambil membawa handuk.
Sedangkan aku dengan gugup masih duduk diatas kasur dengan mengenggam erat seprai karena takut bercak darah ku terlihat mereka. Bunda menghampiriku dan mengelus rambutku dengan lembut.
"Sayang.., kamu tak apa 'kan? wajahmu pucat sekali, sakit..?"tanya Bunda khawatir.
"Aku gak apa - apa Bun. Karena syok aja kesiangan mungkin hehehe..,"kekehku menahan gejolak jantungku yang sudah deg degan.
"Wajahmu terlihat capek banget princes. Yakin kamu gak apa - apa?"tanya Ayah menatap intens ku.
Wajahku mungkin sudah seperti tomat di tatap selidik begitu sama Ayah. Aku jadi salah tingkah sekarang di depan mereka semua. Beberapa menit kemudian Koko Cleo keluar sudah memakai handuk di pinggang.
Dengan cuek dia membeberkan tubuh perfect nya dan membuka lemari pakaiannya. Dia mengambil kemeja biru dan celana jeans hitam panjang.
"Cleo..., kamu tuh benar - benar gak tahu malu ya. Disini masih ada Mami dan Mertua kamu loh,"kata Mami melotot pada Koko.
"Aduh udah deh Mi, ceramahnya nanti aja. Nanti aku telat. Ayok sayang kok kamu diam aja sih, cepetan ke kamar mandi,"kata Koko Cleo cuek.
Aku menahan dongkol karena tingkahnya yang melupakan kejadian barusan. Seenaknya saja dia bilang aku disuruh buru - buru beranjak dari kasur. Sudah jelas karena permainannya yang beronde ronde membuat tubuhku remuk dan pegal - pegal.
Belum lagi ngilu di bagian sela kaki ku, yang terasa sakit bila dibuat berdiri apalagi berjalan. Kenapa dia sampai melupakan itu sih.
Melihatku tak bergeming dia membuka selimut dan menarik lenganku lembut.
"Ayok sayang.., kok diem aja sih,"katanya sambil mencubit gemas pipiku.
Aku berbisik ke arahnya dan menekan perkataanku.
"Koko lupa ya, semalam dan tadi koko menjebol terus gawang ku. Ini masih terasa nyeri kalau buat berdiri tahu,"kataku kesal.
Matanya langsung membulat sempurna dan menatapku iba. Dengan mode aneh dia langsung berdiri dan mengusir cepat kedua orang tua kami yang kepo dengan pembicaraan kami tadi.
"Ayokk..., kalian keluar lah dulu nanti kami turun....,"kata Koko yang mendorong halus pundak Mami dan Bunda.
"Tapi ... Cleo.., kamu apa apaan sih, kamu ngusir Mami!"ketus Mami tak senang.
"Udah sana - sana jangan ganggu kami tuh bukan anak kecil. Tunggu di bawah yaa,"jawabnya yang langsung menutup pintu dan menguncinya.
Dia menghembuskan napas pelan sambil mengelus dadanya. Menghampiriku dan membopongku ke kamar mandi. Seperti ini aja sudah bikin aku luluh meski pun sering membuatku kesal. Dasar koko ..
__ADS_1
β’οΈ Bersambung ...