DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 35


__ADS_3

Hide membawa Hellen kerumah sakit. Karena denyut nadinya semakin melemah wajahnya pun pucat. Rey, Citra, Izmi dan Kenzo datang dan menghampirinya.


"Kenapa dengan Hellen? apa yang terjadi Hide?"tanya Citra yang memberondong pertanyaan pada Hide.


Hide masih duduk diam tanpa kata. Tidak ada yang berani bertanya lagi karena mereka melihat ekspresi Hide yang tak baik.


Dokter Leorio adalah Dokter spesialis jantung yang menangani Hellen. Dia keluar dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.


Semua orang menggerubunginya untuk memastikan keadaan Hellen.


"Gimana Kak? keadaan istri gue?"tanya Hide tak sabar.


Leorio menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menggeleng kepalanya.


"Gue udah bilang sama lo 'kan? keadaan jantung Hellen sedang kritis. Kalau sampai dia kena serangan selanjutnya, nyawa dia melayang. Jadi gue mohon jangan memberikan masalah yang berat untuknya,"kata Leorio.


Hide menangkupkan kedua tangan nya di wajahnya. Masalah Rich memang sangat berat dan pastinya mengecewakannya. Bahkan Hide sendiri kesal karena telah gagal mendidik anaknya itu.


"Yaudah Kak. Thanks ya, gue boleh menemuinya 'kan?!"


"Silahkan.. Dia belum sadarkan diri tapi kalau kalian ingin mendampinginya silahkan saja. Ingat apa kata gue ya Hide, sekali serangan lagi nyawanya bisa terancam,"kata Leorio memperingatkan.


Hide dan yang lain hanya bisa mengangguk lemah dan berlalu untuk masuk ke ruang rawat Hellen. Rey baru ingin melangkah masuk mengikuti yang lain tapi ponselnya berdering. Dia kembali mundur dan mengangkat ponselnya terlebih dahulu.


Nomor itu ternyata dari Felix. Pasti dia mengabari hal penting jika Felix telepon mereka.


"Hallo.., Iya Felix. Ada berita apa?"tanya Rey yang sudah paham.


"Maaf Tuan Rey, ada kabar yang mengejutkan lagi,"kata Felix pelan.


Rey menaikkan kedua alisnya sambil berkata "kabar apa itu?."


"Mohon Tuan bersabar dan menahan emosi saat saya mengatakan kabar ini. Karena... ini... tentang kedua anak Tuan Rey dan Tuan Hide,"kata Felix lagi.


"Kedua anak kami? siapa? cepatlah jangan berbelit belit,"kata Rey yang tak sabar mendengar kabar itu.


"Dikabarkan Nona Rin dan Tuan muda Cleo berada di hotel berbintang di sebuah kamar Tuan. Dan ada seseorang yang mengirim video...,"putusnya Felix tak berani melanjutkan.


"Hotel? di kamar? dan video? maksudmu?? ayolah jangan membuatku berasumsi yang tidak tidak,"kata Rey tak sabar.


"Video akan saya kirim kan sekarang Tuan. Nanti anda bisa lihat sendiri apa yang mereka lakukan disana,"kata Felix. Dia memutuskan sambungan telepon dan langsung mengirim Video itu.


Video yang berdurasi lima menit itu di tonton Rey dengan sangat serius. Dia yang awalnya biasa saja mulai berubah ekspresi dengan wajah yang melotot dan mulut ternganga.

__ADS_1


"Astagfirullah Rin... Cleo..."


...•••...


Kedua korban kecelakaan di angkut oleh ambulance. Membuat macet jalan raya. Paris dan Suho tidak sabar menunggu kemacetan lebih lama lagi.


"Kok macet parah banget sih, tumben banget,"kata Paris yang melihat ke depan kaca mobil.


"Pak.., tidak ada jalan lain agar kita tidak terjebak disini,"kata Suho menegur supir taxi yang membawa mereka.


Mereka ingin ke rumah sakit tempat Hellen dirawat. Karena mereka mendapat kabar yang buruk tentang Hellen.


"Tidak ada Pak. Sepertinya telah terjadi kecelakaan tapi tidak ada yang berani menelpon ambulance,"kata Supir taxi online.


"Ya ampun.. bener bener ya mereka. Kita lihat saja yuk Honey,"kata Paris dia menarik tangan Suho untuk keluar.


Banyak orang yang melihat kejadian itu tapi tak bisa berlaku apapun. Paris menerobos kerumunan sambil ngedumel dan menarik tangan Suho.


Sesampainya di tempat kejadian, mereka melihat motor yang sudah tak berbentuk. Korban dengan bergelimang darah di bagian kepalanya. Saat melihat wajah korban itu Paris kaget dan histeris.


"YA TUHANNNN... RICH....!!"


...•••...


"Aduhh.. pusing banget,"lirih Rin.


"Rin.... Kamu ngapain disini?"tanya Cleo terkejut melihat Rin di sana.


"Koko..., aku gak tahu ko. Loh kok aku gak pakai baju ko,"kata Rin panik.


Cleo juga melihat keadaan tubuhnya yang polos juga. Mereka saling menatap ngeri.


"Ko.., apa yang kita lakukan,"kata Rin sudah mulai menangis.


"Koko gak tahu Rin. Koko gak bisa inget apapun."


"Hiks.. hiks... koko ini bagaimana. Aku takut ko,"kata Rin


"Yaudah nanti kita pikirin. Sekarang pakai baju mu dulu. Kita harus pergi dari sini,"kata Cleo yang memungut pakaiannya.


Dia juga memberikan pakaian Rin. Mereka memakainya dengan perasaan tak karuan.


"Sudah selesai Rin?"tanya Cleo.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu ya Ko."


Saat Rin ingin berdiri tubuhnya oleng dan hampir jatuh kalau tidak di topang Cleo.


"Rin.., kenapa?"tanya Cleo cemas.


"Sakit Ko..,"lirih Rin.


Cleo pun mengerti apa yang di rasakan Rin. Dia pun mengendong Rin sampai ke kamar mandi. Lalu dia menunggu di depan.


"Udah belum Rin?"tanya Cleo.


"Udah Ko,"teriak Rin dari dalam.


Cleo masuk ke dalam dan menggendong nya kembali. Dia mendudukkan Rin di tempat tidur.


"Ko, gimana nanti kalau orang tua kita tahu. Dan kalau sampai aku hamil gimana Ko,"lirih Rin. Air matanya mulai jatuh kembali.


"Maafkan koko yaa dek. Gak ada maksud koko buat begitu. Koko akan tanggung jawab kok. Nanti kita harus bicara dengan mereka apapun resikonya,"kata Cleo yang mengelus rambut Rin.


"Tapi aku takut Ko. Nanti Bunda kepikiran dan sakit. Sama halnya kayak masalah abang,"kata Rin.


"Koko paham kok Dek. Tapi mau gimana lagi, kita harus tetap jujur kalau gak mereka akan kecewa. Jangan sampai mereka tahu dari orang lain Dek,"kata Cleo.


Rin hanya bisa menunduk sedih. Dia merasa bodoh karena tak bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan.


"Sekarang kita pulang ya Dek. Apapun yang terjadi nanti koko akan tetap bersamamu,"kata Cleo sambul mengenggam tangan Rin.


Ya... apa yang mereka lakukan sudah terlanjur. Seperti nasi yang menjadi bubur. Pertanggung jawaban Cleo tidak bisa mengembalikan semuanya. Tapi mereka hanya ingin bertangung jawab karena perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan.


Saat ingin beranjak pergi pintu depan kamar terhempas kasar. Munculah Rey dan Hide dengan wajah yang merah karena marah. Rey dengan amarahnya langsung menampar keras pipi Cleo.


"Om...,"teriak Rin.


"Kelakuan kalian ini tidak pantas. Kenapa kalian bisa dengan bodohnya terjebak seperti ini!"kata Rey ketus.


"Papi.. Ini kesalahanku bukan Rin. Seharusnya aku tidak mengajaknya,"kata Cleo sambil meringis karena tamparan tadi.


"Kalian berdua sama saja. Memalukan..,"kata Rey.


"Maafkan kami Om... Ayah...,"kata Rin menatap nanar Hide.


Hide dari tadi hanya diam membisu. Dia sudah tak bisa berfikir apapun lagi. Yang jelas hatinya sakit karena kedua anak yang di banggakannya malah mengecewakannya..

__ADS_1


™️ Bersambung...


__ADS_2