
Hellen sudah tertidur karena obat penenang yang di berikan oleh Citra. Dia begitu terpukul atas kejadian yang terjadi pada Rich. Dia tak menyangka kenapa anaknya bisa seperti itu.
Baginya Rich yang terbaik dengan prestasi yang gemilang. Anaknya pun penurut dan tidak suka banyak bicara. Mereka merasa kecewa kehilangan sosok Rich.
Saat sarapan mereka semua terdiam. Tidak ada keceriaan yang terpancar di wajah mereka. Tidak ada yang berminat untuk memulai pembicaraan. Sampai pada akhirnya Felix datang dengan membawa kabar tak enak. Membuat situasi semakin panas.
"Permisi Tuan..,"sapa Felix
"Ada apa Felix?"tanya Hide cuek.
"Ada yang ingin saya sampaikan Tuan."
"Yaa ada apa?"
"Tuan muda Rich semalam kembali ke rumah peremz puan itu dan menginap disana."
BRAKKK!!
Gebrakan meja membuat mereka semua menatap Hide. Dia begitu memendam kemarahannya.
"Benar benar itu anak. Mau nya apa sih!"
Hide berdiri dan mengambil kunci mobil yang dia letakkan di atas meja makan. Sambil meminum teh dia langsung pergi begitu saja.
"Sayang.., kamu mau kemana?"tanya Hellen yang menghentikan langkahnya
"Bertemu dengan anak pembangkang itu. Kau disini saja Dear,"kata Hide yang ingin melangkah kembali tetapi di cegat Hellen.
"Aku ikut Sayang,"kata Hellen yang sudah berdiri untuk mengikuti Hide.
"Dear, kau disini saja aku gak akan lama."
"Biarkan aku ikut, please.."
Dengan permohonan itu Hide hanya bisa mengangguk setuju dan mereka pergi tanpa berbicara dengan yang lainnya.
"Semoga masalah Ci Hellen dan Hide san selesai dengan cepat ya,"kata Izmi yang menatap kepergian mereka.
"Mudah mudahan saja masalahnya gak membuat rumit,"kata Citra.
Sedangkan Rin hanya menatap kepergian kedua orang tuanya dengan perasaan sedih, marah dan khawatir. Dia hanya berharap semoga tidak terjadi hal buruk dengan keluarga nya.
...⚜⚜⚜...
KOUYA RICH DERMAWAN
Setelah Bibi memberitahuku, aku dengan diam diam keluar untuk menemui Adelia. Biar bagaimanapun juga dia tidak salah dalam hal ini. Dia mengirim pesan padaku dan menjelaskan semuanya.
Entah kenapa aku hanya merasa kasihan padanya. Tidak ada rasa cinta atau sayang melainkan tanggung jawab yang sudah ku perbuat olehnya. Karena bagaimanapun juga dia tidak bersalah.
Sesampainya di rumahnya aku langsung masuk ke dalam dan di sambut Bi Arma dengan wajah khawatir.
"Bi.., dimana Adel?"tanyaku.
"Dikamarnya Den, saya gak bisa angkat dia. Maafkan saya ya Den,"kata Bi Arma takut.
"Gak masalah Bi, saya ke kamar nya dulu. Bibi tolong buatkan teh hangat ya,"kataku yang langsung berlari ke atas.
Aku melihat Adel masih terkulai pingsan di lantai. Wajahnya terlihat pucat. Apakah dia sedang sakit?
__ADS_1
"Ya ampun Del. Kamu kenapa begini,"kataku.
Aku mengangkatnya dan membaringkannya di kasur. Tubuhnya tidak ada gejala demam. Apa dia syok karena kepergok Ayahku tadi.
Bi Arma membawakan teh hangat dan minyak angin lalu pergi meninggalkan kami. Ku oleskan minyak angin ke hidung dan pelipisnya. Ku pijit pelan kepalanya. Kelopak matanya bergerak kiri dan kanan. Lalu dia pun tersadar.
"Adel.., kamu gak apa apa? minum dulu ni,"kataku yang sudah menyodorkan teh hangat padanya.
Dia meminumnya dengan pelan lalu memejamkan matanya beberapa saat setelahnya menatapku.
"Kenapa kau disini Rich? nanti keluargamu akan marah,"kata Adel pelan.
"Sudahlah, itu masalah nanti. Yang jelas aku bertanggung jawab untukmu. Ini kesalahan kita berdua dan kita yang harus menanggung nya bersama. Kau jangan bicara begitu lagi,"kataku yang mengelus puncak kepalanya.
"Iya Rich. Makasih ya,"kata Adel tersenyum.
"Kenapa kau bisa pingsan, kau sakit?"
"Aku gak tahu Rich. Tadi aku merasa mual dan kepalaku pusing sekali. Lalu aku gak sadar."
"Kau.. sudah cek?"tanyaku hati hati.
Dia menatapku bingung dan menggeleng. Aku hanya mengangguk.
"Kalau gitu aku beli dulu tespek nya di apotik. Besok pagi kau cek ya. Aku akan menginap disini."
"Tapi.. Rich.."
"Gak ada tapi. Ijinkan aku bertanggung jawab dan jangan biarkan aku menjadi lelaki brengs***."
Adelia mengangguk tersenyum menatapku. Dia langsung memelukku dan menangis. Aku hanya bisa mengelus rambutnya untuk menenangkannya. Kami sudah melakukan hal ini sampai 3 kali dalam 1 bulan terakhir. Entah kenapa yang dia bicarakan langsung memancingku ke pikiran yang sebenarnya tak ingin kami jalankan.
Setelah membeli tespek, aku menyelimutinya yang sudah tertidur lelap di pelukkanku. Aku pun sudah ngantuk dan lambat laun tertidur.
"Rich ..., hiks...., hiks..., aku ...., hamil....."
...⚜⚜⚜...
KOURU RIN DERMAWAN
Aku berjalan gontai ke taman belakang mansion. Air mataku terus berlinang memikirkan masalah abang. Biar bagaimanapun juga aku tak ingin hal buruk terjadi pada abang.
Sebuah tangan kekar memegang pundakku. Aku menoleh dan melihat Koko Cleo tersenyum menatapku.
"Eh Koko.."
"Sedang apa disini,"
"Cari udara segar aja Ko. Koko sendiri gak kuliah?"tanyaku padanya.
Dia duduk di sampingku lalu mengenggam tanganku.
"Jangan khawatir, Rich pasti akan baik baik saja."
"Iyaa Ko. Aku hanya sedih kenapa keluargaku selalu di rundung masalah. Apalagi Abang gak pernah berlaku begini sebelumnya."
"Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Rich. Allah pasti akan berikan jalan,"kata Koko tersenyum.
Aku pun mengangguk meski masih tak tenang. Semoga saja masalah ini tidak mengundang masalah lainnya.
__ADS_1
"Kita jalan yuk, biar hatimu tenang,"kata koko mengamit tanganku berdiri.
"Kemana Ko?"tanyaku bingung.
Kalau tidak ada masalah seperti ini mungkin aku sudah sangat senang sekali. Tapi aku tak kepikiran sekarang.
"Ikut aja yuk,"kata Koko yang sudah mengenggam tanganku.
Aku hanya mengikuti dia kemanapun karena hatiku saat ini sedang kalut.
Ternyata koko membawaku ke sebuah restoran yang menyajikan makanan enak. Padahal kita baru saja selesai sarapan.
"Kok kesini sih ko?"tanyaku bingung.
Masa iya dia mau makan lagi, kalau memang begitu benar benar perut beruang pasti.
"Kita santai santai aja dulu disini. Hay guys...,"kata Koko menyapa beberapa orang di depan nya.
Ada dua orang cewek dan dua cowok yang tersenyum melihat kami.
"Hay Cleo... apa kabar bro,"kata salah satu cowok.
"Kabar gue baik banget Lou. Lo sama Sasa gimana? masih kan,"kata Koko yang membimbingku duduk.
"Baik banget kok. Lo sendiri gimana ni, kok masih jomblo. Eh kayaknya gak deng. Lo bawa siapa ni?"tanya Lou yang menautkan alisnya melihatku.
"Kenalin ini cewek gue,"kata Koko Cleo.
Aku hampir saja tersedak salivaku sendiri. Aku menyengol sikunya dan melotot padanya. Tapi dia malah menyentuh pipiku dan mencoel hidungku.
"Apa sih sayang .. kamu nakal,"katanya dengan genit.
Ini sebenarnya apa yang terjadi dengan nya sih. Membuatku bingung saja.
"Nih minumlah dulu, gue jamin kalian pasti bakal menikmati hari ini,"kata Lou.
Dia menyodorkan minuman yang ku tahu itu alkohol. Koko baru ingin meminumnya tetapi aku menyetopnya.
"Koko.., apa apaan sih, sejak kapan koko minum beginian,"kataku dengan sorot mata menatapnya tajam.
"Diamlah sayang.. aku mau kita menikmati semua ini. Lagian kau minum lah jus ini. Minuman ini hanya untuk ku,"kata koko yang tetap meminum air berhalkohol itu sampai habis.
Aku ingin beranjak pergi tapi tangan ku di cekal oleh orang yang bernama Sasa.
"Mau kemana kamu?"tanya Sasa tersenyum mengejek.
"Aku mau pulang!"
Aku memaksa pulang tetapi tanganku di genggam kuat.
"Cepatlah kalian suntikkan obat itu ke mereka berdua sebelum pengaruh otak Cleo hilang."
Jadi Koko di pengaruhi, mereka siapa? kenapa mau berlaku jahat pada kami.
Cowok yang satunya yang aku tak tahu namanya langsung menyuntikkan sesuatu ke koko. Begitupun cewek yang satunya langsung menyuntikkan sesuatu ke punggungku.
Pandanganku langsung buram, samar samar ku mendengar suara wanita yang tertawa dan berkata.
"HAHAHHAAA.... Bagus anak anak... aku akan menghancurkan kehidupan Hide dan Rey. Biarkan mereka hancur melihat anak anak mereka rusak serusak rusaknya. HAHAAHAAAAA....."
__ADS_1
Setelah mendengar jelas hal itu, aku pun tak sadarkan diri.
™️ Bersambung ...