DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 5


__ADS_3

CLEO SAPUTRA WIBOWO


Aku sedang kalut saat ini karena keadaan Rin yang harus cepat ditolong. Tiba tiba mobil kami di hadang oleh beberapa orang yang tidak tau ingin melakukan apa pada kami.


"Siapa sih mereka.? mau apa ?"tanya Rich panik.


Aku hanya bisa menggeleng dan turun dari mobil. Rich pun mengikutiku, Tak lupa ku kunci mobil agar tidak ada yang berani macam macam dengan Rin selagi kami di luar.


"Mau apa kalian??!"


"Serahkan perempuan itu?"


"Siapa yang kau maksud?"


"Berikan Kouru Rin dermawan pada kami!"


"Huh.., siapa kalian dan mau apa dengan adik kami. Jika ingin mengambilnya langkahi dulu mayat kami!"


"Jika itu mau kalian akan kami kabulkan!"


Pertengkaran pun terjadi. Aku dan Rich mulai memasang kuda kuda. Meski kami kalah jumlah, tapi ilmu bela diri kami tidak pernah terkalahkan. Bahkan kami sanggup menghadapi 30 orang lebih dari ini.


Karena saat ini aku sedang kesal, tanpa waktu lama dalam sekejap 15 orang itu sudah babak belur. Aku menelpon Kakek Lucas untuk melapor.


"Kau tak apa Rich?"tanyaku pada Rich yang sudah membereskan lima orang terakhir.


"Iyaa aku tak apa apa Koh. Lebih baik cepat kita ke rumah sakit. Rin harus segera di tolong,"kata Rich yang sudah mendahuluiku ke mobil.


Aku pun langsung segera duduk di kursi kemudi. Sambil mengabari Papi dan Mami tentang keberadaan kami. Aku yakin mereka khawatir terhadap Rin.


...----------------...


KOURU RIN DERMAWAN


Ku lihat ada selang infus dan tirai berwarna cokelat di depanku yang tertutup. Tenggorokan ku terasa kering dan ingin sekali aku minum. Punggung dan kepala bagian bawah terasa sangat nyeri sekali. Pandanganku pun buram kembali. Rasanya badanku semua kaku dan susah di gerakkan.

__ADS_1


Tirai tersibak dan munculah Dokter juga suster yang membawa catatan di tangannya. Kenapa aku bisa ada di rumah sakit.


"Kau sudah sadar? saya akan periksa sebentar ya."


Kata Dokter cowok di depanku yang usianya mungkin sepantar Ayah. Ya Tuhan aku jadi mengingatnya, dia kan juga seorang Dokter.


Dokter itu memeriksa ku dengan alat testoskop nya, mungkin mendengar detak jantung dan mengecek pergelanganku, lalu melihat cairan infus yang terpasang. Dia memberi tahu dengan kode istilah kedokteran. Lalu suster dengan sigap mencatatnya.


"Kau sudah melewati masa kritismu. Saya panggil keluargamu ya. Mereka sudah sangat mengkhawatirkanmu."


Kata Dokter itu tanpa pamit. Keluargaku?? apakah Mommy dan Deddy juga abang? sebenarnya apa yang terjadi.


Aku berusaha mengingat apa yang terjadi padaku. Beberapa detik aku mulai mengerti. Tapi tiba - tiba kepalaku sakit lagi.


Saat ku menunduk aku tak sadar ada yang memelukku. Apakah Mommy dan Deddy? aku mendonggak dan mendorong orang yang memelukku.


"Sayang...., maafin mommy ya Nak,"kata Mommy memelukku sambil membelai rambutku.


"Iya Nak, maafkan Mommymu yang khilaf. Dia begitu sayang padamu dan tidak ingin kau kenapa kenapa. Saking sayangnya dia sampai emosi,"jelas Daddy.


Meski sakit aku tidak ingin dendam apalagi mereka sudah sangat banyak membantu aku dan Abang. Mereka mencurahkan rasa sayang dan cinta mereka pada kami. Aku sadar karena tersinggung aku jadi membuat mereka repot dan cemas.


"Iyaa Aku maafin Mommy kok. Mommy juga maafin aku ya,"kataku yang sudah melepas pelukan Mommy.


"Iyaa sayang... Kita rubah semuanya yaa. Mommy janji gak akan mengekangmu dan tak akan emosi."


Aku hanya bisa mengangguk setuju lalu tersenyum. Aku harus melupakan rasa sakit hatiku karena bagaimanapun mereka yang terpenting sekarang.


Kokoh, Om Rey dan Tante Citra masuk berbarengan. Tante Citra langsung memelukku.


"Kau gak apa apa kan sayang?"


"Gak kok Tante. Aku baik baik saja. Berkat Kokoh dan Abang yang segera menemukanku. Jadi aku udah baik sekarang."


"Jangan kabur lagi ya sayang. Kalau ada masalah bicarakan baik baik. Mommy mu hanya emosi sama hal nya dengan Tante. Kami juga kaget dengan sikap kalian berdua. Tapi jika kalian benar benar saling suka. Kami tak akan melarang lagi."

__ADS_1


"Maksud Tante???"


"Yah..., kalau memang kalian saling cinta kenapa gak,"kata Mommy yang memberikan kami lampu hijau. Apa kami di restui.


"Tante sih terserah kalian aja. Asal jangan menganggu pelajaran kalian. Kalau bisa saling nyemangatin,"kata Tante Citra tersenyum melihat kami.


"Kalau gitu, mending kita keluar yuk, cari makan laper banget ni. Cleo kamu jagain Rin ya,"kata Om Rey yang mengajak mereka keluar.


Sepeninggal mereka Aku jadi diam seribu bahasa. Rasa canggung menghampiriku. Lagian kan Koko belum nembak aku. Kami belum resmi toh.


"Rin...,"sapa Koko Cleo menatapku intens. Dia menggengam tanganku sekarang.


"Mau gak kamu jadi istriku..?"tanya Koko Cleo yang hampir membuatku tersedak salivaku sendiri.


"Apaaa Koh? kok Istri sih?"tanyaku spontan. Membuatnya menautkan alis.


"Kenapa? kamu gak mau jadi istriku?"tanya Koko Cleo.


"Bukan Ko, kirain ngajakin pacaran,"kataku santai.


"Pacaran itu di larang. Aku mau taaruf langsung sama kamu. Dan aku mau langsung kita nikah, supaya kita gak berbuat dosa terus,"kata Koko Cleo membuat jantungku hampir copot.


"Koko jangan bercanda deh. Aku tuh masih kelas 2 SMU ko. Ya kali menikah,"kataku malu.


Koko Cleo duduk di sampingku masih sambil memegang tanganku.


"Koko mau nanya serius sama kamu, tolong jawab jujur,"kata Koko Cleo yang menatap tajam ku. Aku pun mengangguk melihat wajahnya. Ya ampunn gantengggggg.


"Perasaan mu ke Koko gimana? apa kamu benar benar mencintai koko melebihi saudara?"tanya Koko membuatku mengangguk lagi dengan cepat.


Yaaa aku sudah mencintainya sejak SMP kelas 1. Pada waktu itu Dia sudah SMA, dia cool dan tampan. Sekarang malah lebih membuatku klepek klepek dan selalu deg degan.


"Yaudah nanti Koko bicarain sama orangtua kita ya. Sekarang kamu gak perlu mikir apapun,"kata Koko Cleo. Membuatku bloon dan mangut mangut lagi aja.


Ya Tuhan kenapa setiap berhadapan dengan Koko tampan ini membuatku seperti orang bodoh sih...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2