DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 36


__ADS_3

Hide masih tetap diam membisu melihat Rin yang menangis. Hatinya sudah terluka dan kecewa. Kenapa kedua anaknya seperti itu.


"Ayah.. bicaralah Ayah.. kenapa Ayah diam aja. Aku minta maaf udah bikin Ayah kecewa. Maafkan aku Ayah... hiks hiks...,"tangis Rin sambil memeluk kaki Hide.


Hide hanya menggeleng menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Kau tau Rin. Ayah begitu marah melihat abang mu seperti itu. Dan Ayah berharap kau harapan terakhir Ayah. Orang yang Ayah banggakan. Tapi kau sama saja dengan abangmu. Kau tahu rasanya seperti apa. Seperti luka yang tergores di lumuri garam."


"Bundamu sedang di rumah sakit sekarang. Hanya karena masalah abangmu. Kalau sampai dia tahu masalahmu, nyawanya bisa melayang."


"Apa kau ingin membunuh Bunda.."


"Gak ada Ayah.. gak ada maksud ku untuk mencelakai Bunda. Maafkan aku Ayah...,"mohon Rin.


Rey dan Cleo hanya menyaksikan mereka. Cleo yang merasa bersalah ikut memeluk kaki Hide dan meminta maaf.


"Uncle.. aku mohon jangan salahkan Rin. Aku yang salah karena mengajaknya. Maafkan aku Uncle,"lirih Cleo.


"Kata maaf kalian sudah tak berarti lagi sekarang. Aku sudah tak mau mendengar semua ini,"kata Hide.


Hide pun pergi meninggalkan mereka. Rin sudah menangis dan takut karena Ayahnya sudah marah.


"Ingat baik baik. Hellen sedang dirumah sakit. Jangan pernah kalian beritahukan masalah ini. Karena dia bisa kolaps. Kalian paham!"ancam Rey pada Rin dan Cleo.


Rin dan Cleo hanya bisa mengikuti permintaan Rey. Mereka juga tak ingin Hellen kenapa kenapa.


...•••...


"Loh itu kan Kak Paris. Kok dia panik sambil dorong brankar siapa?"tanya Izmi yang tak sengaja melihat Paris lewat.


Citra mencari yang di katakan Izmi tapi mereka tidak melihat ada Paris disana.


"Mana..? lo salah liat kali Mi,"kata Citra yang celingak celinguk.


"Beneran Ci. Aku liat Kak Paris disana. Coba kita tanya suster yuk,"kata Izmi yang kekeh dengan penglihatannya.


Izmi menarik lengan Citra menuju resepsionis untuk menanyakan pasien baru masuk.


"Suster.., mau nanya. Tadi yang baru masuk ke ruangan mana ya.?"


"Oh pasien kecelakaan Dok. Di bawa ke UGD."


"Makasih sus. Yuk Ci, kita temuin Kak Paris,"kata Izmi semangat.


Izmi masih menarik tangan Citra menuju UGD. Entah kenapa mereka ingin sekali kesana. Sampainya disana mereka memang melihat Paris dan Suho sedang menunggu dengan berwajah cemas dan sedih.


"Loh Kak suho.. Kak Paris.."

__ADS_1


Mereka berdua menengok untuk melihat orang yang menyapa mereka.


"Citra ... Izmi...hiks hiks.."


Paris langsung memeluk Citra dan menangis dalam pelukkannya.


"Kenapa Kak?"tanya Citra yang bingung dengan tingkah Paris.


"Rich... Rich...,"putus Paris.


Dia tak sanggup melanjutkan kata katanya. Mulutnya membeku.


"Iya Kak, Rich kenapa? ada masalah apa?"tanya Citra penasaran.


"Didalam itu Rich .. dia kecelakaan. Kau harus kabari Hide,"kata Paris.


Bagaikan petir di siang bolong Citra langsung terperangah. Dia benar benar terkejut dengan perkataan Paris.


"Hide dan Rey baru saja keluar Kak. Mereka ada urusan katanya,"kata Citra.


"Oiya Cit, Mi, gimana keadaan Hellen?"tanya Suho.


"Hellen udah mulai stabil Kak. Cuma Kak Leo bilang jantungnya sudah kritis. Kalau sampai dia dapat serangan lagi, mungkin nyawanya gak akan tertolong,"kata Citra.


"Astaga.. berat banget masalah yang di hadapi oleh Hellen. Jangan beritahu dulu tentang Rich yang berada di rumah sakit."


"Permisi...."


Suara gadis muda mengagetkan mereka semua. Gadis itu dengan pakaian nya yang kotor dan rambutnya yang sudah berantakan.


"Iyaa... kenapa nak?"tanya Izmi.


"Apa benar Rich sedang di tangani di dalam,"kata perempuan itu yang tak lain adalah Adelia.


"Benar. Kamu siapa?"tanya Izmi.


"Saya..---"


"Citraaa...."


Teriakkan Rey menyadarkan mereka dan hampir melupakan gadis itu. Rey, Kenzo, Hide, Cleo, Rin dan Hellen menghampiri mereka.


"Loh Hel, lo kan masih sakit. Jangan jalan jalan dulu,"kata Citra yang menyambut kursi dorong Hellen.


"Gue mau lihat anak gue. Biar gimanapun juga dia itu anak gue,"kata Hellen.


"Kamu ngapain disini?"tanya Hide.

__ADS_1


Dia menunjuk Adelia sebagai orang yang di tanya. Dengan tatapan mematikannya dia tidak menyukai kehadiran Adelia.


"Mm..maa...af Om.. sa..saya...cu..ma...--"


"Cuma apa. Gara gara kamu anak saya rusak. Jangan kamu pikir saya gak tahu apa yang kamu perbuat dengan anak saya. Sekarang kamu mau membunuh anak saya juga?!"


"Gak Om. Aku gak bermaksud membuat Rich seperti ini. Aku minta maaf. Aku sayang sama Rich,"lirih Adelia.


"Bulsit dengan ucapanmu, jika kau sayang dengannya tidak akan tega kau lakukan ini. Aku tak mau melihatmu. Pergi jauh jauh dari kami!"


"Sayang... sudahlah. Biarkan saja dia disini aku sudah memaafkannya,"kata Hellen memegang lengan Hide.


"Apa.. dengan gampangnya kau memaafkan dia,"kata Hide yang sudah emosi.


"Sayang... ku mohon. Aku sedang istiqomah dan berusaha melatih diri. Jadi aku sedang berdamai dengan masalah sekarang. Lagi pula sudah kejadian seperti ini gak perlu kita sesali. Dan yang pasti, Adel sedang mengandung anak Rich. Cucu kita.,"kata Hellen.


"Apaaaa... cu..cucu...?"tanya Citra dan Izmi kaget.


"Iyaa.. Adel sedang mengandung anak Rich,, cucu gue dan Hide,"kata Hellen sambil tersenyum.


Dokter Ronald keluar dari ruang UGD dengan wajah yang kusut. Mereka langsung mengerubungi Dokter Ronald


"Gimana Ron, keadaan Rich?"tanya Hellen cemas.


"Saat ini Rich sedang kritis Hel, dia banyak kehilangan darah. Apa ada yang bersedia mendonorkan darahnya. kebetulan stok di rumah sakit kita kosong,"kata Ronald.


"Golongan darah Rich sama dengan gue. Biar gue yang donorin. Dear .. aku ke ruang pendonor dulu ya,"kata Hide yang langsung mencium kening Hellen.


"Iyaa Sayang.. aku tunggu disini,"kata Hellen tersenyum.


Hide mengikuti salah satu perawat untuk mendonorkan darahnya. Sedangkan mereka masih menunggu di depan ruang UGD.


"Rin.., kamu kenapa diam aja nak?"tanya Hellen.


Pertanyaan Hellen menyadarkan Rin. Dia pun menangis dan memeluk Hellen. Meski bingung dengan sikap Rin, Hellen hanya bisa tersenyum dan mengelus punggung Rin dengan lembut. Dia berfikir mungkin Rin sedih karena keadaan abangnya yang kritis. Padahal Rin sedang menyesal dan mengecewakan Hellen. Apa bedanya dia dengan Abangnya.


"Sudah Nak, jangan menangis doakan yang terbaik buat abangmu ya,"kata Hellen terus mengusap punggung Rin.


Rin mengangguk pasrah, meski ingin jujur dengan keadaannya. Tapi perkataan Ayah tadi menakutinya. Dia tak mau kehilangan sosok Bundanya.


Hellen melepas pelukkan Rin dan menatap Adelia yamg berdiri mematung sendirian di pojok. Dia tersenyum pada gadis itu.


"Sini sayang.. jangan berdiri disana. Lepaskan semua nya ke Bunda. Mulai sekarang anggap aku ini Bundamu,"ajak Hellen.


Dengan sorot mata yang teduh, Adelia mulai berani mendekati Hellen. Saat jarak mereka semakin dekat Hellen menarik Adelia ke pelukkannya. Adelia pun tak sanggup memendam perasaannya. Dia menangis dalam pelukkan Hellen..


™️ Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2