
Fersha menodongkan pistolnya ke Izmi membuat Kenzo dan Rich kaget.
"Kak..., maksud lo apa?"tanya Kenzo yang masih menormalkan notasi suaranya.
"Kalian akan tahu maksud gue. Mending sekarang kalian ikut gue atau Izmi akan gue tembak!"
"Itu tidak akan terjadi Ka!"
Izmi dengan cepat memelintir salah satu tangan Fersha yang sedang bebas, tetapi dia tak memperkirakan bahwa Fersha membawa alat pengejut listrik.
ZREETTTT!!....
"AAAAAAGGGHHH... "
Izmi pun pingsan seketika di pelukkan Fersha. Kenzo mulai terpancing emosi melihat istrinya tak berdaya.
"Kak..., jangan macem macem lo. Apa motif lo melakukan semua ini sama kita,"kata Kenzo yang mulai menaikkan intonasi suaranya.
"Gak usah banyak bacot kalian. Ikuti saja perintah gue atau kalian tak akan melihat Izmi untuk selamanya,"ancam Fersha.
Mereka masih tetap bergeming tak merespon perkataan Fersha. Membuatnya semakin marah.
"Kalian yakin mau macam macam. Kalian tahu siapa gue kan. Gue gak akan pernah bercanda dengan omongan yang gue ucapkan!"ancam Fersha lagi sambil menekan ujung pistol ke kepala Izmi.
Fersha mulai menarik pelatutnya perlahan agar peluru di dalam pistol itu bisa keluar mulus tepat di kepala Izmi. Tapi Rich menahan itu.
"Tungguuuuu Om. Iyaa kami akan ikut Om...,"kata Rich.
Kenzo melotot pada Rich, kali ini entah kenapa Kenzo tak terima dengan perlakuan ini.
"Om... jangan gitu. Kita ikuti saja Om Fersha. Jangan pancing amarahnya, please Om,"kata Rich memberi tahu nya.
"Tidak akan gue ikuti Rich. Dan lo Kak, sebaiknya berhenti main main seperti ini. Karena gue udah capek dengan keadaan seperti ini. Jangan buat lelucon yang gak penting!"tegas Kenzo yang mulai marah.
"Dasar orang bodoh. Sok hebat kalian. Kau lebih bodoh dan tidak mengenalku rupanya. Jadi jangan salahkan aku untuk berbuat nekad,"kata Fersha.
Dengan dangat cepat dia menembak peluru dua kali secara beruntun ke perut dan tepat di dada Kenzo. Yang mengenai jantungnya.
DOORR!! DOOOR!!!
"KENZOOOOOO...!!!"
"OMMMMMM KENNNNNN...!!!"
Darah berlinang dimana mana. Sambil melotot Kenzo perlahan tersungkur sambil memegang dadanya. Meski begitu dia tetap berkata.
"K.Kak... Lo..."
Setelah perkataan itu Kenzo pun terkulai di lantai drngan bersimbah darah.
"Sekarang kalian ikut gue atau akan bernasib sama dengannya!"ancam Fersha lagi.
"Hiks...hiksss.. AKU TIDAK AKAN IKUT DENGAN KAKAK. BIARKAN AKU MATI BERSAMA KENZO DISINI!"teriak Izmi.
__ADS_1
"Ohh lo mau ikut suami yang gak berguna lo itu. Ok akan gue kabulkan!"tegas Fersha.
DOOR!!!
Darah mengalir dari pelipis Izmi membuat Rich yang melihatnya sangat syok dengan kejadian di depannya.
"Om... hiks.... om ... Aku mohon jangan seperti ini,"kata Rich lemas.
"Sekarang lo ikut gue, atau lo akan mati seperti mereka. Ayok ikut!"tegas Fersha yang langsung menarik tangan Rich.
Rich hanya bisa pasrah dan menangis melihat kedua mayat paman dan bibinya terbujur kaku di lantai bersimbah darah.
...🐾🐾🐾...
HELLEN SYIFILLA
Aku, Citra, Rey dan Hide pergi menyusul Kak Fersha dan Kak Isabel. Saat di parkiran kami mendengar suara rintihan seseorang minta tolong.
"To...long..., to...long...,''lirih seseorang.
Aku yang menyadari lebih dulu pun menghentikan langkahku dan mencari sumber suara rintihan itu.
"Hel, ngapain lo disitu. Buruan nanti kita telat,"kata Citra.
"Gue denger suara orang minta tolong deh,"kataku.
Iya aku yakin tadi ada suara rintihan seseorang. Pasti di sekitar sini.
"Siapa sih, gue gak denger apapun tuh,"kata Citra.
"Hellennnn...,"panggil Citra.
Aku masih mendengar dari kejauhan kekesalan Citra. Lambat laun makin jelas terdengar suara rintihan itu. Di mobil terakhir aku melihat di samping mobil ada wanita terkapar tak berdaya. Dengan luka tusuk di perutnya.
Dari penampilan nya seperti familiar, ya Tuhan bukankah itu Kak Isabel.
"Astagfirullah.., Kak Isabel!"teriakku.
Aku menghampiri Kak Isabel yang tersungkur tak berdaya di aspal. Perutnya mengeluarkan cukup banyak darah.
"Kak..., Kakak...,"kataku.
"Hel.., lo ngapain sih ayok kit...--"
"Cit, panggil Rey sama Hide kesini. Kita tolong Kak Isabel. Cepeeett...,"kataku yang memotong pembicaraannya.
Dia syok tapi tetap mengikuti saranku tadi. Tak berapa lama terdengar derap kaki bersahutan Rey dan Hide pun sudah di belakangku dengan ekspresi yang tak bisa di artikan.
"Ayok Rey, kita papah Kak Isabel ke dalam,"kata Hide.
Dia langsung menghampiriku lalu aku pun mundur dan sejajar dengan Citra di belakang. Mempersilahkan Rey dan Hide untuk leluasa memapah Kak Isabel.
Aku yang paling agresif langsung berlari menuju IGD untuk mengambil bankar yang berjejer rapi disana. Sambil aku menyuruh dua perawat untuk membantu Hide dan Rey.
__ADS_1
Mereka membaringkan Kak Isabel yang sudah tak sadarkan diri. Wajahnya sudah pucat pasi dan bibirnya membiru.
"Ya Allah selamatkan lah Kak Isabel,"kataku dalan doaku sambil mengikuti brankar Kak Isabel yang sudah di dorong oleh Rey dan Hide.
Mereka membawa Kak Isabel langsung ke ruang operasi. Karena luka tusuk yang cukup parah di bagian perut nya. Mungkin Kak Isabel sudah banyak kehilangan darah.
"Kalian tunggu sebentar, gue dan Hide akan melakukan jahitan di bagian perut Kak Isabel. Sambil menunggu kabar, kalian telepon orang rumah Kenzo dan Izmi atau Rich disana,"kata Rey yang berlalu masuk dan menutup pintu di depan kami.
Aku dan Citra mengambil masing masing ponsel kami untuk memberi kabar Kenzo atau Izmi. Tapi suara ponsel Citra mengagetkan kami.
"Hallo Azzura..., kenapa sayang...?"
"(..........)"
"Kenapa nak, kok kamu nangis..?"
"(...........)"
"APPAAAAAAA!!!!!"
...🐾🐾🐾...
KOUYA RICH DERMAWAN
Om Fersha mengendarai mobilnya begitu cepat. Sampai aku troma melihat arah jalan yang ada di hadapanku.
"Om.., aku mohon pelankan laju kendaraan Om. Jangan cepat cepat..,"kataku memohon.
Aku sangat takut dan masih troma karena kecelakaan yang kemarin menimpaku. Jadi aku sangat ketakutan sekarang apalagi Om Fersha tidak mengindahkan omongan ku tadi. Malah dia dengan sengaja mempercepat lagi laju kendaraannya.
Di sela ketakutanku aku harus bisa mengorek informasi yang ada di dirinya. Aku harus tahu kenapa Om Fersha berbeda dengan yang dulu.
"Om..., kita mau kemana?"tanyaku pelan.
Aku takut kalau dia marah dan lebih mempercepat kendaraannya. Makanya aku bicara dengan sangat hati hati.
"Kau akan bertemu dengan papa barumu,"kata Om Fersha.
Apa.., papa baru, kenapa dia ngomong ngelantur seperti itu.
"Papa..? Papa baru siapa? Ayahku hanya Hide. Bukan yang lain!"tegasku kesal.
Kenapa sih semua orang suka sekali mengclaim Bunda dan Ayah tidak akan bersatu dan berpisah sesuai yang mereka inginkan.
"Mending kau diam saja. Jangan banyak bicara nanti kau akan tahu!"bentak Om Fersha.
Bentakkannya membuatku terdiam sesaat. Aku akhirnya diam seribu bahasa sampai mobil berhenti ddi sebuah mansion besar.
"Turunlah dan ikuti aku. Jangan mencoba kabur karena aku akan langsung membunuhmu!"ancam Om Fersha sambil membuka pintu mobil.
Aku pun ikut turun dan mengikutinya di belakang. Sampai di ruang keluarga yang terdapat sofa, aku melihat ada dua cowok yang sepantar Om dan 1 cewe yang sepantar dengan orang tuaku.
"Hallo .. ponakkan ku sekaligus calon anak ku.. Apa kabar nak, kenalkanlah... aku... Yohan. Yohan yohansen...."
__ADS_1
™️ Bersambung ...