DENDAM MASA LALU(Revisi)

DENDAM MASA LALU(Revisi)
Bab 25


__ADS_3

Nadine melangkahkan kaki nya keluar pintu lapas dengan perasaan yang mendendam tapi dia berusaha tetap tenang dan menaburkan senyuman.


Dia berpamitan pada penjaga lapas dan berjalan menuju jalan raya besar. Keluarganya tidak ada yang menjemput nya. Akhirnya dia meminta bantuan pada seseorang yang sedang menunggunya.


Mobil sedan hitam terparkir di pinggir jalan raya dekat gang menuju lapas. Dia melihat nomor platnya dengan mencocokkan pada ponselnya. Setelah dia kira sesuai, dia menghampiri orang yang berada di mobil itu.


Di ketuk kaca mobil bagian depan dan terbukalah pintu mobil sambil ada yang menyuarakan.


"Masuklah.."


Nadine memasuki Mobil itu sambil melempar tas kecilnya di bagian belakang mobil. Pria yang sudah berada di sampingnya menatap Nadine kesal.


"Lama banget sih. Lo gak tahu apa gue sampe lumutan nunggu lo disini,"kata Pria itu kemudian.


"Aduhhh Loren ..., lo tuh ya gak ikhlas banget sih nolongin gue. Kita ini sepupuan harusnya lo lebih care karena nasib gue kayak gini,"kata Nadine ikut kesal.


Ya.. Pria di sampingnya adalah sepupu jauh Nadine. Namanya Loren Laark. Dia baru saja kembali dari Austria. Karena akan mengurus perusahaan cabangnya disini. Dia dan Nadine sedari kecil sudah sangat dekat meski sering berdebat.


"Lagian juga kenapa lo juga gak punya otak. Ngapain coba bunuh bunuh pasien lo sendiri. Kurang kerjaan jadinya kena masalah kan. Bokap nyokap lo udah males ketemu lo. Keluarga besar kita males bertemu lo juga. Untung gue masih ada rasa kasian sama lo,"kata Loren


"Ini semua tuh gara gara Hellen. Dia itu emang cewek pembawa sial di kehidupan gue. Yang merebut semua keinginan gue,"jelas Nadine.


"Hellen..? siapa tuh?"tanya Loren yang sumringah mendengar nama cewek.


Loren play boy cap jempol. Bahkan buaya darat dan penapsu saja. Dia suka meniduri perempuan bayaran hanya demi memuaskan hasratnya.


Nadine yang melihat mimik wajah Loren mempunyai ide yang menurutnya luar biasa.


"Ahaaaa..., gue punya ide. Eh Lor, lo kan suka banget koleksi wanita cantik. Kebetulan gue punya barang bagus. Itu tuh yang gue sebut tadi. Namanya Hellen dia cantik tapi gak terlalu sih masih kalah cantik dikit lah sama gue. Tapi dia gue akuin cantik, pinter dan kaya. CEO perusahaan besar di sini loh. Lo mau gue kenalin gak?"tanya Nadine antusias.


Loren yang sudah mendengar kata Cantik, Pinter apalagi Kaya. Langsung menyipitkan matanya ke arah Nadine sambil tersenyum simpul.


"Wow..., boleh juga tuh ide lo. Mau donk kalau gue kenal tuh cewek. Itung itung bisa jadi koleksi gue berikutnya,"kata Loren manggut.


"Gue pasti kenalin lo ke dia. Tapi ada syaratnya,"kata Nadine tersenyum licik.


"Gue tahu deh, ujung ujungnya kaga ikhlas. Tapi gak apa apa lah. Coba apa syaratnya?"tanya Loren menantang.


"Lo harus bantuin gue buat dapetin suaminya itu. Jadi kita kerja sama pisahkan mereka. Lagian gue yakin lo bakal seneng kalau ketemu sama dia,"kata Nadine tersenyum sumringah .


"HAHAHAHA... Good ... deal yaa..."


Akhirnya kerja sama pun terjalin antara Loren dan Nadine untuk memisahkan Hellen dan Hide.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


KOURU RIN DERMAWAN


Sekolah pelajaran baru akan dimulai. Aku akan menjadi panitia MOS bersama Abangku Rich yang ketua osis disana.


Setelah berpakaian rapi dan wangi, aku menuruni tangga dengan langkah cepat. Tapi karena kecerobohanku. Harusnya aku menuruni satu tangga ini malah melongkapinya. Hampir saja aku terjatuh dan wajahku mencium lantai kalau tidak ada yang menopang tubuhku.


Lengan yang kekar terasa di pinggangku. Wangi parfum maskulin yang menyengat di hidungku. Aku mendongak siapa yang menolongku tadi. Mulutku terganga lebar melihat malaikat tampan di depan mataku.


Dia adalah Koko Cleo, cowok yang tampan dan murah senyum. Ya ampun wajahnya melelehkan duniaku.


Kami saling bertatapan lama sampai akhirnya ada yg mengagetkan kami berdua.


"EEEHEM...."


Suara bariton dari belakangku membuyarkan lamunanku. Membuat aku dan Koko kaget dan langsung melepas pelukkan kami.


Ayah dan Om Rey sudah berada di atas tangga, beserta Bunda dan Tante Citra. Membuat kami berdua malu karena di lihat mereka dengan tajam.


"Kalian ngapain?"tanya Tante Citra menautkan alisnya.


"Eh... em.. itu Mi. Tadi si Rin mau jatuh dari tangga. Jadi aku tolong,"kata Ko Cleo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bunda dan Om Rey hanya menggeleng melihat kelakuan kami. Berbeda dengan Ayah dan Tante Citra yang selalu menatap tajam kami.


Sampai di ruang makan pun tatapan mereka tetap menyelidik kami. Membuat kami tidak nyaman saat sarapan.


"Kalian berdua kenapa sih melihat Rin dan Cleo seperti itu. Mereka kan jadi risih diliatin kaya gitu,"kata Om Rey yang menatap heran Ayah dan Tante Citra.


"Gak Rey, gue cuma gak mau anak kita modusin saudaranya sendiri. Kamu baru aja kuliah, jadi jangan coba coba menebar cinta,"kata Tante Citra mengancam.


"Apaan sih Mi. Ada ada aja omongannya,"kata Koko Cleo yang cuek sambil memakan sarapannya.


"Mami serius Cleo. Kamu tuh fokus sama pelajaran. Jangan cinta cintaan dulu. Dan kamu juga Rin jangan cepet baper,"kata Tante Citra yang sudah mewanti ku dan Koko Cleo.


Aku dan Koko hanya mengangguk mengerti dan tak ingin berdebat dengan Tante Citra.


"Tunggu... kan mereka sudah menikah.. Bahkan yang ku lihat Rin dan Cleo sudah melakukan hubungan intim kan!"


Kata kata Bunda membuat kami semua melotot padanya. Bahkan aku dan koko Cleo sampai terbatuk batuk karena kata katanya itu.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


KOUYA RICH DERMAWAN


"UHUKKK ... UHUKKK....."


Rin dan Koko Cleo terbatuk bersamaan karena mendengar perkataan Bunda tadi. Aku dan semua yang ada di meja makan sampai melotot menatap Bunda.


"Dear.., kamu tuh bicara apa sih, gak usah ngawur lagi deh. Sejak kapan Rin dan Cleo menikah,"kata Ayah menggelengkan kepalanya.


Aku yakin perkataan Bunda kali ini memancing emosi kembali, seperti sebelum sebelumnya. Padahal Psikis Bunda memang sedang terganggu. Entah kenapa dia merasa Rin dan Koko Cleo sudah menikah dan melakukan hubungan intim.


"Ngawur apa sih sayang. Kan mereka sudah menikah. Kenapa juga kalian larang larang mereka bermesraan. Bagaimana mau dapat cucu kalau kalian posesif seperti itu,"kata Bunda yang santai sambil mengambil sepotong roti.


"Cukup ya Hel, lo tuh bisa sadar gak sih. Rin sama Cleo belum menikah. Mereka masih sekolah. Lo cuma halusinasi aja,"kata Tante Citra yang mulai kesal.


"Cit, lo tuh gak usah ngebohongin gue deh. Gue emang sakit. Tapi gue gak pikun kalau mereka bener bener sudah menikah. Kan kita yang menyetujui nya kan,"kata Bunda menghentikan aktifitasnya. Dia menatap tajam Citra.


"Dear..., kamu tuh lagi sakit. Jadi kamu selalu saja berhalusinasi. Kenapa kamu gak coba buka mata dan hatimu Dear. Kembalilah ke dunia nyata bukan dunia khayalmu,"kata Ayah lembut.


Bunda merasa kesal karena selalu di bilang sakit dan di juluki seperti orang yang tak waras karena halusinasi. Dia bersih keras tidak berhalusinasi.


"KENAPA SIH KALIAN ANGGAP GUE SAKIT. KALIAN SELALU BICARA SEPERTI ITU TERUS. HALUSINASI HALUSINASI.. EMANG GUE GILA... STRESSS... SAMPAI BERHALUSINASI KAYAK GITU!!"teriak Bunda sambil berdiri menatap nyalang kami semua.


Kami melihat tingkah Bunda yang seperti itu menjadi sedih dan sakit hati. Kasihan Bunda sampai terpuruk seperti itu.


"Dear... tenang lah.. bukan maksud kami seperti itu..,"kata Ayah menenangkan Bunda.


"CUKUP! BERHENTI! JANGAN SENTUH AKU KALIAN SAMA SAJA. SELALU MENGANGGAPKU GILAAA. AKU TIDAAAK GILAAAAA AKU TIDAKKKK STRESSS. TIDAAAAAK ... DAN TIDAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!"


Setelah teriakkan Bunda, dia pun terkulai pingsan, kami semua berdiri untuk membantu Ayah yang sedang memeluk Bunda.


"Bundaaaaaa...hiks...hiks... Bundaaaa..,"rintih Rin di sampingku. Aku pun menenangkannya sambil memeluknya.


Ayah sudah membopong Bunda dan membawanya ke kamar. Rin baru ingin menyusulnya. Tapi aku mencegahnya.


"Dek..., jangan di ikuti. Biarkan Ayah dan Bunda berdua. Aku yakin kali ini Ayah pasti bisa menyadarkan Bunda,"kataku terus memeluknya sambil mengelus rambutnya.


"Aku gak tega Bang sama Bunda. Dia seperti orang tak waras,"kata Rin yang di protes Tante Izmi.


"Rin.. jangan bicara seperti itu Nak. Bunda mu hanya sakit. Kita akan berusaha menolongnya. Kamu bantu doa saja sama Rich. Doa anak soleh soleha akan selalu di ijabah kan,"kata Tante Izmi mengingatkan.


Kami berdua pun mengangguk dan membiarkan Ayah dan Bunda berdua. Aku yakin Ayah pasti bisa mengatasinya. Untuk saat ini hanya doa dan doa yang harus kami panjatkan untuk kesembuhan Bunda.


™️ Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2