DeRa LoVe

DeRa LoVe
KenDeRa


__ADS_3

Tap..tap..tap..


Tangan kecil nan mungil begitu bersemangat duduk dengan kedua kaki terlipat, sambil memukul-mukul wajah sang daddy tanpa ampun.


Tap..tap..tap..


Diselingi tawa lucunya, bayi berusia 8 bulan itu terus saja memukul wajah daddy nya. Meskipun tidak sakit, tapi tetap saja Dev tidak bisa melanjutkan tidurnya.


Bagaimana bisa lanjut tidur, jika ada pangeran tampan di samping wajahnya yang tertawa sambil mengulum tangan mungilnya di dalam mulut.


Dev menggelitik dan mencium perut putranya hingga terdengar suara gelak tawa Ken memenuhi kamar.


"Wanginya.." Dev mencium perut Ken dan juga wajah Ken dengan gemas.


"Good boy," Sera mengangkat Ken dan menggendongnya sambil terkekeh.


Dev bangun lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengucek matanya. Tangannya mengambil ponsel di atas nakas untuk melihat jam di sana.


Dev berdiri dan menghampiri anak dan istrinya. "Morning," Dev memeluk anak dan istrinya.


"Morning, daddy.." ucap Sera seakan Ken yang bicara.


"Sudah sarapan?" tanya Dev setelah mengambil handuk dari lemari.


"Belum. Ken aja yang sudah sarapan, daddy.."


Dev terkekeh lalu mencium istrinya, "aku mandi dulu ya." Dev berlalu dari sana dan masuk ke kamar mandi.


Sera membawa Ken keluar dari kamar. Celotehan Ken membuat kakek dan neneknya mendongak ke lantai atas. Alex lebih dulu berlari mengambil Ken dari gendongan Sera.


Tawa riang Ken sambil bertepuk tangan, ketika berada dalam gendongan Alex, omnya.


"Lex, hati-hati!" peringat Sera karena melihat Alex yang begitu semangat membawa Ken menuju ruang keluarga.


Sera kemudian menyusul Alex dan duduk bersama di sana.


"Dev, mana?" Bella menoleh saat Sera duduk di sebelahnya.


"Mandi, Ma." Jawab Sera sembari memperhatikan Kena dipangkuan Alex, adiknya.


"Gimana kerjaan kamu sayang, ada yang sulit? Kalo ada yang sulit nanti minta tolong sama tante Reyna buat bantu."


Bella tahu kesulitan yang dialami putrinya karena begitu banyaknya pesanan yang masuk. Apalagi Sera juga disibukkan dengan mengurus Ken. Pastilah lebih banyak waktu untuk Ken dibandingkan mengurus pekerjaannya.


"Gak, Ma. Sejauh ini masih bisa Sera kerjain kok. Cuma mungkin waktunya aja jadi lebih lama."


Sera menyandarkan kepalanya di bahu Bella sambil memperhatikan kelucuan Ken bersama adiknya.

__ADS_1


"Harus nunggu Ken tidur dulu, baru bisa kerja." Lanjut Sera lagi.


Sera tersenyum saat mendongak ke atas melihat suaminya menuruni tangga dan berjalan ke arah dirinya. Dev mengecup puncak kepala istrinya dari belakang, tanpa rasa canggung di depan mertuanya.


Ken menggerakkan tubuhnya turun naik ketika melihat daddy nya datang. Senyum lebar Ken berikan untuk daddy nya. Dev terkekeh tapi tidak menggendong Ken. Padahal Ken sudah mengangkat tangannya minta digendong.


"Sera sama Dev, sarapan dulu ya.."


Sera berdiri dan berjalan sambil menggandeng lengan suaminya menuju ruang makan. Sempat melirik Ken untuk menggodanya. Begitu juga Dev.


Ken mengerjapkan matanya melihat kepergian orang tuanya. Kedua sudut bibirnya turun ke bawah dan matanya sudah berkaca-kaca. Ken tidak rela di abaikan kedua orangtuanya begitu saja.


Eric dan Bella tertawa melihat wajah masam Ken. Mendengar kakek dan neneknya mentertawakan dirinya, membuat Ken kesal dan berakhirlah dengan tangisan nyaring ala Ken.


"Cucu kakek kenapa nangis? Hem? Daddy sama mommy sarapan dulu, baru balik lagi kesini."


Kedua tangan Ken terangkat ke udara sambil berurai air mata, pandangan matanya terus tertuju ke ruang makan. Berharap daddy atau mommy datang menjemputnya.


Tapi lama ditunggu tak datang juga, membuat tangis Ken semakin nyaring.


Alex bukannya kasihan, malah tertawa senang mendengar tangisan keponakannya. Alex malah menepuk pelan mulut Ken yang terbuka dengan telapak tangannya.


"Alex, kasian Ken..coba ajak Ken main ke depan dulu, biar nangisnya berhenti." Kata Bella pada Alex.


Alex menuruti perkataan mamanya lalu menggendong Ken dan membawanya ke gazebo depan. Tangis Ken masih bisa di dengar oleh Bella dan Eric.


Sementara di ruang makan, Dev dan Sera sedang sarapan bersama. Sera sempat ingin mengambil Ken, tapi di cegah Dev.


"Tapi aku gak tega denger dia nangis, Dev."


"Gak papa, Yang.. Kalo ada apa-apa pasti mama atau papa kasih tau sama kita."


Sera akhirnya menurut dengan perkataan suaminya. Walaupun telinganya masih bisa mendengar tangis putranya dari tempat duduknya.


***


Dev memeluk bahu Sera dari belakang dan menaruh dagunya di atas kepala istrinya. Sera menghentikan kegiatannya sejenak dan mendongak ke atas. Dev mengecup bibir istrinya singkat.


"Gak istirahat dulu? Punggung kamu pasti sakit." Dev memberikan pijatan lembut di sekitar bahu dan juga punggung bagian atas Sera.


"Nanggung banget kalo gak di selesain. Ini hanya bagian layernya aja lagi. Aku bikin agak sedikit panjang biar kesannya unik aja gitu."


Tangan Sera begitu terampil menggambar desain gaun untuk anak remaja. Keahliannya berbeda dari Bella yang terbiasa merancang busana untuk usia dewasa.


Sedangkan Sera lebih banyak mendapat pesanan untuk anak-anak dan remaja SMP atau SMA. Namun terkadang ada juga yang meminta dari kalangan mahasiswi.


Rancangan Sera memang mengikuti trend mode saat ini, tetapi selalu ada ciri khas yang Sera miliki di setiap rancangannya. Sehingga banyak orang-orang akan tahu kalau itu hasil karyanya, hanya dari gaun yang orang-orang tersebut kenakan.

__ADS_1


"Ini sudah hampir jam 11 malam, sayang. Kamu harus banyak istirahat," Dev mengambil pensil dari tangan Sera lalu menggendong Sera dari sana menuju tempat tidur.


Dev menghiraukan protes yang Sera lontarkan padanya. Dengan cepat Dev membungkam mulut Sera agar berhenti bicara dengan ciumannya.


Apalah daya, jika sudah seperti ini Sera harus patuh pada perintah suaminya. Melawan juga percuma, karena Sera tidak akan pernah bisa menang dari Dev.


"Sekarang tidur!" Dev menarik Sera kedalam dekapannya.


"Pejam matanya, sayang."


Walau mata terpejam tapi Dev tahu kalau istrinya masih menatapnya karena kesal.


"Hem" balas Sera dengan kesal yang tertahan.


Dev tersenyum penuh kemenangan dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Sera. Pada akhirnya Sera pun memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Dev yang wangi.


***


Suara tangisan Ken di pagi hari membuat Dev melepaskan pelukannya dari Sera. Istrinya sangat lelah sehingga Dev tidak tega membangunkannya.


Dev masuk ke dalam kamar Ken lalu menggendongnya. Masih pukul 5 pagi, saat Dev melihat jam di dinding kamar Ken. Dev kemudian mengajak Kena untuk menikmati pagi di halaman belakang.


Meskipun tidak mengerti ocehan Ken, Dev tetap mengajak putranya berbicara sambil duduk memangku Ken di gazebo belakang.


"Ken lapar?"


Sedari tadi Dev perhatikan putranya memasukkan tangannya ke dalam mulut, sambil mendongak ke atas menatap Dev.


"Tunggu mommy bangun ya,"


Dev menarik pelan tangan Ken dari mulutnya lalu menggoyang-goyang nya seolah Dev mengajak Ken menari. Kemudian mencium puncak kepala Ken berkali-kali. Bau khas bayi saat bangun tidur, yang sangat Dev sukai.


"Mommy cari ternyata Ken sama daddy ya..iya?" Sera mencium seluruh wajah Ken dengan gemas.


"Daddy gak dicium juga, nih?" Dev menggoda istrinya.


"Mandi dulu baru mommy cium," ujar Sera sambil terkekeh. Namun tetap memberikan kecupan singkat untuk suaminya.


"Ken makan ya sambil dipangku daddy," Sera menyendok bubur yang dia bawa tadi.


Ken bertepuk tangan mendapat suapan dari mommy nya. Begitu girangnya Ken berada di antara kedua orangtuanya.


Eric memeluk pinggang Bella sambil memperhatikan anak cucu dan menantu mereka dari jendela kamar.


"Gimana rasanya punya cucu?" Bella mendongak sedikit melihat suaminya.


"Rasanya jadi pengen nambah anak lagi," ucap Eric lalu membawa Bella kembali ke tempat tidur tanpa aba-aba.

__ADS_1


"Yang!" pekik Bella sambil meronta.


Tahu sendiri lah apa yang akan selanjutnya Eric lakukan pada istri cantiknya itu. Meskipun sudah punya cucu satu. Suasana pagi biasanya membuat sesuatu yang tidur bisa bangun kembali.


__ADS_2