
Suara rengekan Ken, mau tak mau mengharuskan Sera bangun. Selelah apapun dirinya apabila itu menyangkut Ken, Sera harus tetap kembali bugar.
Sera melepaskan perlahan pelukan Dev dari tubuhnya. Tapi tangan Dev malah kembali memeluknya. Membuat Sera harus melepaskannya lagi.
"Kenapa dilepas? Hem?" Dev memeluk istrinya kembali dan mencium tengkuk Sera.
"Dev, itu Ken bangun. Aku mau nyusuin dia dulu," Sera menepuk lengan Dev di atas perutnya.
Dev membuka matanya mendengar rengekan Ken. Dev sedikit mengangkat kepalanya dan melihat Ken yang sudah gelisah karena didiamkan oleh kedua orangtuanya.
Tangan Dev terulur melewati tubuh istrinya untuk menggapai perut Ken agar tenang.
"Tangan kamu menyingkir dulu. Aku mau duduk," ujar Sera.
Dev menarik tangannya dan membiarkan istrinya untuk duduk dan mengurus Ken dengan nyaman.
Dengan rakusnya Ken menikmati sumber kekuatan yang bergizi tinggi dari mommynya. Sementara Dev bermain-main dengan kaki mungil Ken. Sesekali Dev mencium telapak kaki Ken dan menggelitiknya. Ken tertawa geli.
"Yang, nanti Ken tersedak," peringat Sera agar Dev menghentikan ulahnya.
"Kakinya lucu banget. Pengen aku gigit," Dev menggenggam pelan satu kaki Ken lalu berpura-pura menggigitnya.
"Aku pikir udah pagi. Ternyata baru jam 11 malam," Dev meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu turun dari tempat tidur.
"Kemana?" tanya Sera.
"Mau minum. Kamu mau?" tawar Dev.
"Buatin aku teh hangat ya..tapi jangan manis," pinta Sera pada suaminya.
Dev menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar. Dev pikir kedua orangtuanya sudah tidur. Namun ternyata mereka masih berada di ruang keluarga.
"Loh mau kemana kamu?" Jane melihat Dev yang sedang menuruni tangga. David juga mengikuti arah pandang istrinya.
"Mau minum Mom. Sekalian bikin teh hangat buat Sera," jawab Dev dan meneruskan langkahnya menuju dapur.
"Kok kalian belum tidur?" tanya David saat Dev membawa segelas air putih di tangannya.
"Tadinya sudah. Tapi Ken bangun mau nen sama Sera. Jadi kebangun semua," jelasnya pada daddynya.
"Tapi Ken gak pa-pa kan?" Jane jadi khawatir takut sesuatu terjadi pada cucunya.
"Gak pa-pa Mom. Dia cuma haus doang," ucap Dev setelah menegak air putih tadi.
Mata Dev sesekali melihat ke arah dapur, menunggu air mendidih.
"Gimana perkembangan Cafe kamu sekarang?" David meletakkan bantal sofa di belakang punggungnya agar bersandar dengan nyaman.
__ADS_1
"Puji Tuhan semua berkembang dengan sangat baik Dad. Tujuan Dev pulang karena mau buka cabang lagi yang baru," jawab Dev.
"Rencana berapa?" tanya David ingin tahu tentang usaha putranya.
"Kalo berdasarkan survey, Dev mau buka dua. Tapi lihat kondisi juga gimana nantinya. Makanya Dev besok mau rapat dulu sama karyawan," Dev memberikan gambaran umum tentang rencananya pada daddynya.
"Rencanakan dulu sematang mungkin, baru bisa dibuka. Sampai semuanya benar-benar yakin. Biar gak salah ambil langkah," David memberikan nasihat untuk Dev.
"Iya Dad," telinga Dev mendengar bunyi teko air yang menandakan airnya sudah mendidih.
Dev berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Seperti yang diinginkan Sera, Dev membuat teh hangat dengan gula satu sendok kecil.
"Mom, Da, Dev ke atas dulu." Dev kembali ke kamarnya sambil membawa segelas teh hangat di tangannya.
***
Ken sudah tampan dan wangi di gendongan granpanya. Beruntung Ken bukan bayi yang mudah takut dengan orang baru. Ken termasuk bayi yang mudah bergaul dan cepat akrab.
Karena sifat Ken seperti itu membuat Sera begitu protektif pada Ken. Sera takut terjadi sesuatu karena sifat muda akrabnya Ken dengan orang lain. Kecuali jika itu bersama dengan keluarganya sendiri, baru Sera merasa nyaman.
"Gantengnya cucu Granpa. Mau kemana sih?" sapaan sang Granpa hanya direspon Kena tawa kecilnya dan bertepuk tangannya.
"Dicariin Granma, taunya sembunyi di sini ya sama Granpa." Jane mencium Ken berulang kali karena gemas.
Dev tersenyum melihat tawa bahagia kedua orantuanya bersama putranya. Sungguh Dev tidak menyangka jika di usianya semuda ini, dia sudah memiliki seorang putra.
Dev merasa tidak menyesal jika sudah menikah muda. Sera bukan hanya cantik tapi juga sifat keibuan Sera sangat terlihat. Padahal usia Sera juga tak kalah muda darinya.
"Masih di kamar mungkin," jawab Dev dan merangkul mesra istrinya.
"Tolong panggil ya..biar kita sarapan sama-sama," pinta Sera dengan manja.
"Oke," Dev mengecup puncak kepala Sera.
***
Di sinilah Ken sekarang. Di salah satu Cafe milik sang Daddy. Ken kini menjadi pusat perhatian para karyawan Cafe dan juga pengunjung. Bayi gembul menggemaskan dengan wajah setengah bulenya.
Ken berada di gendongan Dev, sementara Sera berjalan di samping. Siapapun yang melihat pasti sudah bisa menebak kalau mereka pasangan muda.
Membuat para gadis-gadis yang kebanyakan masih pelajar itu, harus gigit jari. Jelas tidak mungkin bisa bersaing dan mendapatkan seorang Dev. Sementara istrinya saja sangat cantik. Di tambah lagi ada anak di antara mereka.
Lebih baik mundur teratur daripada buat masalah, pikir mereka.
Banyak mata yang memandang dengan kagum tapi juga iri dengan kemesraan mereka bertiga. Dev begitu perhatian pada anak dan istrinya. Dev mencari tempat duduk yang nyaman untuk Ken dan Sera.
Sementara dirinya membuat langsung minuman dan makanan untuk anak dan istrinya. Salah satu karyawan yang bertugas di sana ingin membantunya, tapi Dev tidak mengijinkannya.
__ADS_1
Dev ingin membuat yang spesial untuk dua orang yang sangat dia cintai dalam hidupnya.
Sebenarnya Sera merasa risih dengan tatapan orang-orang padanya. Tahu sendirikan bagaimana sifat Sera yang tidak suka keramaian. Tapi hari ini karena Dev mengajaknya, jadi mau tidak mau Sera mengikuti mau suaminya.
"Ini buat anak dan istriku tercinta," Dev meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
"Ken mau?" Ken bertepuk tangan kecil merespon perkataan daddynya.
Ken mengangkat kedua tangannya ke atas, ingin duduk bersama daddynya.
Dev mengambil alih Ken dari Sera dan mendudukkan Ken di pangkuannya.
"Yang, hati-hati sama makanannya. Nanti pakaian Ken kotor," peringat Sera sembari membersihkan mulut Ken dengan tisu.
"Kamu bawa ganti baju kan untuk Ken?" tanya Dev memastikan.
"Ada di mobil," jawab Sera.
"Ya udah, gak pa-pa. Kalo kotor tinggal ganti aja," Dev terkekeh setelah memberi satu suapan kecil untuk putranya.
Sera menghela nafasnya pasrah saja. Dia tahu suaminya pasti akan tetap melakukannya, meskipun sudah dia larang. Bagi Dev kalau sudah bersama Ken, itu adalah masa emas untuk dirinya.
Jadi sebisa mungkin Dev akan melakukan banyak hal bersama Ken, sekalipun harus main kotor-kotoran.
"Gue gak nyangka istrinya bos, cantik banget."
"Tapi orangnya pendiam banget."
"Iya. Waktu kenalan tadi, istrinya cuma senyum doang. Sariawan kali ya,"
"Husss!! Didengar sama bos, tau rasa lo!"
"Ya elah..canda kali, serius amat bund."
Beberapa karyawan membicarakan Sera sambil berbisik-bisik. Mata mereka fokus mengarah pada meja di mana Sera duduk bersama anak dan suaminya.
"Beruntung banget itu cewek jadi istrinya bos."
"Anaknya cakep pisan,euy!"
"Yah..kalah sebelum bertanding kita. Di bandingan sama istrinya, apalah kita ini yang cuma remah rengginang."
"Miris banget nasib lo.."
"Kayak lo aja kagak. Lo kan demen banget sama bos."
Namun dari semua itu, ada seseorang karyawan yang lebih banyak diam daripada ikut obrolan teman-temannya.
__ADS_1
Dia hanya bisa memandang Dev dari kejauhan. Senyum hambar tercetak di bibirnya karena melihat Sera begitu diperhatikan oleh Dev.
Dia beranjak dari tempatnya berdiri tadi dan kembali pada pekerjaannya di dapur.