
Dev membuka pintu kamar dengan perlahan lalu menutupnya kembali. Dev menyunggingkan senyumnya melihat wajah damai anak dan istrinya yang sudah terlelap.
Setelah membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang nyaman, Dev membaringkan tubuhnya. Tangannya bergerak menarik Sera ke dalam dekapannya.
"Sorry," bisik Dev saat Sera melayangkan protesnya melalui gerakan tubuhnya.
Sera membuka matanya lalu menatap rahang tegas Dev.
"Kapan kamu masuk kamar?" tangan Sera menyentuh rahang suaminya.
"Baru aja," Dev membelai lembut kepala istrinya lalu membenamkan kecupan di sana.
Sera menenggelamkan wajahnya di dada Dev. Sera menyukai wangi tubuh suaminya. Bagi Sera, suaminya adalah tempat teraman baginya.
"Sorry for today..I am so sorry," Dev kembali mencium puncak kepala istrinya.
Sera tidak berkata apa-apa. Dev menyayangi dan mencintai dirinya, itu sudah lebih dari cukup bagi Sera.
"Minggu depan kita sudah balik ke Manila. Aku usahain kerjaanku selesai lebih cepat," ujar Dev sembari mempererat pelukannya.
"Besok kita main ke rumah nenek ya?"
"Iya. Pulang dari Cafe kita kesana," jawab Dev.
"Oh iya aku lupa..Ron dan yang lain ngajak ketemuan. Mereka pengen ketemu sama Ken," Sera mendongakkan kepalanya.
"Benarkah? Aku merindukan mereka semua. Sebelum balik ke Manila, kita akan reunian sama mereka. Mungkin ada cerita yang gak kita ketahui tentang mereka berempat," Dev tersenyum penuh arti.
"Maksudnya?" Sera mengerutkan keningnya bingung.
"Siapa tahu mereka cinta lokasi," Dev terkekeh.
"Aku rindu sama Jihan dan Sarah. Pasti mereka tambah cantik," Sera tersenyum.
"Bagi aku tetap kamu yang lebih cantik," ujar Dev seraya mencium seluruh wajah Sera dengan gemas.
"Dev! Nanti Ken bangun," peringat Sera dengan menepuk dada suaminya.
Dev menatap lembut istrinya lalu mencium lembut bibir Sera.
"Kamu tahu kalo aku sangat mencintai kamu. Aku gak akan pernah bosan mengatakannya padamu," ujar Dev lembut.
"Aku tahu," kata Sera dan kembali menenggelamkan dirinya dalam dekapan hangat suaminya.
***
"Nyenyak tidurnya Dev?" David tersenyum jahil kepada putranya.
"Tentu saja. Dad sendiri gimana?" Dev duduk tepat di depan daddynya , dan membalas senyum daddynya.
"Oh lebih dari nyenyak dong..malah Daddy mimpi indah sambil mendengar suara aahh..aahh..aahh.." ujar David sembari mempraktekkan gerakannya.
Jane memukul bahu suaminya kesal.
"Ngomongnya gak dikontrol sama sekali! Gak malu sama anak mantu sendiri," Jane menatap kesal suaminya.
"Ngapai malu. Dev juga semalam tempur kok sama Sera. Ya kan Dev, Sera?" David menyeringai nakal dengan menatap anak dan menantunya bergantian.
Dev dan Sera hanya saling pandang tidak tahu mau menjawab apa.
__ADS_1
"Sebaiknya kita sarapan. Jangan dengarkan omongan gak jelas Daddy kalian ini," ujar Jane pada anak menantunya.
Sarapan diwarnai dengan canda tawa dan juga obrolan seputar pekerjaan Dev.
"Mom, Dev sama Sera titip Ken ya untuk satu sampai 2 jam ke depan."
Jane menaruh kembali gelas minumnya di atas meja.
"Kalian mau kemana?"
"Dev sama Sera ada kelas online pagi ini Mom," jawab Dev.
"Oh ya udah. Biar Ken, Mom ajak jalan."
Ken sudah tampil menawan dalam gendongan sang Daddy. Tak lupa topi dengan bordir namanya sendiri, menambah kadar ketampanan Ken.
"Jagoan Daddy sama Granma dulu ya..Daddy sama Mommy mau belajar dulu," Dev mencium perut Ken dengan gemas.
Gelak tawa Ken memenuhi kamar.
"Aku antar Ken sama Mommy dulu," ujar Dev setelah mencium pipi Sera.
Ken menatap Sera yang melambaikan tangan padanya. Ken tersenyum menampilkan giginya yang masih belum penuh semuanya.
"Hey! Look at him! Cucu tampan Grandma," Jane menggendong cucu kesayangannya.
"Mom, mau Dev antar?" tawar Dev.
"Gak usah. Mom bisa pergi sendiri. Kalian belajar yang rajin," Jane menolak tawaran putranya.
Hari ini Jane akan bersenang-senang bersama cucunya. Hanya berduaan.
"You're welcome."
***
Bayi berumur 8 bulan itu begitu girang berada di stollernya. Jane mengajak cucunya untuk jalan- jalan di mall. Membeli banyak mainan dan juga baju baru untuk Ken.
Apapun yang menurut Jane lucu dan cocok untuk Ken, Jane akan membelinya.
Sementara di Kantor, David memicingkan matanya melihat notifikasi di ponselnya. Tarikan rupiah demi tarikan rupiah, itu lah notifikasi yang David terima.
David sedikit bingung dengan pengeluaran istrinya hari ini. Karena tidak biasanya Jane berbelanja seperti ini. Biasanya Jane memakai kartu yang dia berikan hanya satu atau 2 kali saja dalam sebulan.
Karena David tahu, istrinya ini bukan tipe wanita yang hobi belanja. Jane hanya berbelanja apa yang benar-benar dibutuhkan saja. Tapi hari ini, sepertinya pengecualian bagi Jane.
"Belanja apa kamu Yang?" gumam David sambil terkekeh.
David kemudian kembali pada pekerjaannya lagi. Biarlah istrinya itu bersenang-senang dengan uangnya. Lagipula buat siapa lagi dia bekerja kalau bukan untuk istrinya.
Ponsel David kembali berdering membuyarkan konsentrasinya.
"Ngapain lo nelpon gue? Lo kangen?" cibir David saat menerima panggilan telepon sahabatnya.
"Najis gue kangen sama lo! Amit-amit," terdengar suara decihan di seberang sana.
"Kalo lo gak kangen gue, terus ngapain lo nelpon?" David menyandarkan tubuhnya.
"Gue kangen anak cucu gue. Gak sama lo!" ucap Eric kesal.
__ADS_1
David terbahak mendengar kekesalan sahabatnya.
"Kenapa lo gak telpon Sera atau Dev?"
"Sudah. Tapi gak ada yang bisa dihubungi. Emang mereka kemana?"
"Oh iya. Lupa gue! Mereka lagi ada kelas online. Mungkin sekarang sudah selesai," David melihat jam di pergelangan tangannya.
"Terus Ken sama siapa kalo mereka lagi ada kelas?" mungkin saja Jane juga sibuk.
Jadi Eric khawatir siapa yang mengasuh Ken. Karena selama ini Ken hanya bersama anggota keluarganya saja.
"Ya sama bini gue lah. Masa sama bini orang?" seloroh David sembari menyeringai nakal.
"Ya kali aja lo punya bini yang lain," ujar Eric sambil terkekeh.
"Yang ada gue bakal mati di tangan bini gue," David menggelengkan kepalanya tidak ingin itu sampai terjadi.
Tamatlah riwayatnya di tangan istri cantiknya itu.
Eric dan David terbahak bersama. Setelah panggilan berakhir, David di kejutkan dengan kehadiran istri dan cucu tampannya.
Sebelum menemui suaminya, Jane dan Ken menjadi pusat perhatian para pegawai suaminya di kantor. Karena kemunculan Jane sangat langka di kantor. Apalagi Jane datang bersama bayi tampan di gendongannya.
Para pegawai yang melihat mungkin berpikir kalau Jane dan David memiliki anak lagi.
David berdiri dan menyambut kedatangan istri dan cucunya. Ciuman lembut mendarat di bibir Jane dan juga pipi gembul Ken.
Ken berceloteh girang sambil bertepuk tangan saat David menggendongnya.
"Dari mana sama Ken?" David merangkul istrinya dan mengajak duduk.
"Habis belanja," jawab Jane dengan tersenyum lebar.
"Pantes tarikannya gak kayak biasa," ujar David terkekeh.
"Emang gak boleh?" Jane melirik sinis suaminya.
"Ya boleh lah, masa gak boleh. Apalagi kalo belanjanya buat cucu Granpa," David terkekeh lagi mendapat lirikan maut dari istrinya.
***
Sera berbaring setelah menyelesaikan kelas onlinenya. Sementara Dev turun ke bawah mengambil minum untuknya.
Sera tersenyum melihat foto-foto yang Mommy mertuanya kirimkan untuknya.
"Ken sangat lucu," gumam Sera sambil tersenyum.
"Senyum-senyum sendiri," Dev memberikan segelas air putih untuk istrinya.
"Lihat, Ken sangat lucu. Mommy yang kirim," Sera memberikan ponselnya kepada Dev, dan menerima segelas air putih tadi dari suaminya.
"Putraku sangat tampan," ucap Dev sembari menggeser layar ponselnya.
"Kamu lelah?"
Sera menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku yakin, kalo yang satu ini kamu pasti gak akan kelelahan."
__ADS_1
Dev menggunakan kesempatan mereka berdua sendirian di rumah untuk berbagi keringat di tempat tidur. Sebelum Joe dan mommynya pulang, setidaknya Dev bisa mendapatka dua ronde kenikmatan pagi ini.