DeRa LoVe

DeRa LoVe
Hilang Tenggelam


__ADS_3

Dev keluar dari kamar dan tidak menunggu Sera menyelesaikan mandinya. Dev mencari tempat di mana dia bisa menenangkan dirinya.


Sambil berdiri memandangi alam sekitarnya, Dev memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana jeans, yang dikenakannya.


Dev menengadah ke atas sambil memejamkan matanya. Memikirkan masalah yang sedang dihadapinya saat ini.


Tanpa Dev sadari ada sepasang mata yang melihatnya dari atas balkon kamar. Sambil bersedekap dada dia memperhatikan Dev berdasarkan pemikirannya sendiri.


"Lagi mikirin apa kak? Kayaknya serius banget," Alex berdiri tepat di samping kakak iparnya.


"Oh, kamu Lex..gak, aku cuma lagi pengen menikmati alam di sini saja. Rasanya nyaman," jawab Dev sambil tersenyum hambar.


Alex melihat wajah Dev sejenak lalu terkekeh. Kemudian mengikuti arah pandang Dev.


"Kakak benar, suasananya sangat nyaman dan menenangkan. Tetapi hanya untuk di sini saja," ucap Alex. Sementara ujung sepatunya dia gunakan untuk menendang batu kecil di dekat kakinya.


Dev menoleh dengan alisnya yang bertautan.


"Di sini?" tanya Dev ulang.


"Ya di sini. Hanya untuk menghilangkan pikiran rumit seketika. Ketika kembali ke dunia nyata, rasa tenang itu hilang. Karena harus menghadapi kenyataan di depan."


Alex membungkuk dan mengambil bebatuan kecil di tangannya. Lalu tangannya bergerak melempar jauh bebatuan tadi dari tangannya.


Dev tertegun mendengar ucapan Alex, yang menurutnya seperti nasihat orang yang lebih dewasa darinya. Dev baru menyadari jika ada sisi lain dari diri Alex, yang baru dia temukan hari ini.


"Apa kakak ingin berbagi denganku? Setidaknya meringankan pikiran kakak. Aku tahu usiaku jauh lebih muda dari kalian. Tapi mungkin usiaku yang muda ini bisa berguna untuk kalian," ujar Alex dengan santai.


"Risa," ucap Dev dengan lemah.


"Apa wanita itu menyakiti kakakku?" Alex mengerti siapa yang dimaksud kakak iparnya.


"Sera mendiamkanku sejak tadi pagi. Sera datang bertepatan dengan Risa yang sedang bicara denganku," Dev mulai menceritakan masalahnya.


"Padahal kami bertemu juga gak sengaja. Aku sedang mengajak Ken di halaman, dan Risa datang menemuiku. Tak berselang lama Sera juga datang."


Dev menghembuskan nafasnya kasar lalu kedua tangannya beralih berada di kedua sisi pinggangnya.


"Aku gak pernah berpikir untuk mengkhianati Sera. Aku sangat mencintainya, dan kamu sendiri tau itu."


"Sera meminta lusa balik ke Manila. Sementara pekerjaanku masih belum selesai," sambung Dev lagi.


Alex mengangkat kepalanya terkejut. Sungguh separah itu kah masalahnya?


"Apa kakak setuju untuk balik?" Alex menoleh melihat kakak iparnya.


"Sera gak mau dengar penjelasanku," Dev menghela nafasnya.

__ADS_1


Alex diam sejenak. Ada rasa takut di dalam diri Dev yang Alex tangkap. Dia sangat mengenal sifat keras kepalanya kakaknya. Namum sifat keras kepala Sera tidak asal begitu saja.


Jika menurutnya itu benar, maka Sera akan mempertahankannya. Bukan hanya dirinya, bahkan Mama papanya pun kadang menyerah dengan keputusan Sera.


Sisi baiknya, Sera akan dengan cepat meminta maaf saat dia menyadari kesalahannya.


"Alex akan bicara sama kak Sera. Kakak gak usah khawatir," ucap Alex sesaat kemudian.


"Kamu serius?" tanya Dev seolah mendapat secercah harapan.


"Alex serius kak," ucap Alex sambil tersenyum.


Alex tahu bukan Dev atau Sera yang salah di sini. Tapi Risa wanita itu yang bersalah. Alex rasanya ingin melempar wanita itu jauh-jauh ke kutub Utara.


Biar mati membeku sekalian di sana. Abadi untuk selamanya.


***


Sera baru saja menerima panggilan telepon dari mamanya. Niat hati ingin mengambil Ken dari Mommy mertuanya. Namun batal.


Sera masih menimang-nimang ponsel di tangannya dan duduk di tepi tempat tidur. Pembicaraan mamanya tadi membuat rencana Sera sedikit berantakan.


Bagaimana tidak, jika mamanya memberitahukan kalau mamanya dan papanya besok berangkat ke Paris. Dengan alasan menjenguk sahabat mamanya yang sakit.


Padahal Sera hampir saja memesan tiket pulang ke Manila besok, saat kembali ke Jakarta.


Sera tidak mau berlama-lama di Indonesia, jika dia masih bisa melihat wanita itu di sekitar suaminya.


"De, ada apa?" Sera terkejut dengan kemunculan Alex di depan kamarnya.


"Tadi Mama ada telepon katanya ki–"


"Iya kakak tau. Barusan juga Mama telepon kakak," potong Sera cepat.


"Syukurlah," gumam Alex namun masih bisa didengar oleh Sera.


"Syukur kenapa De?" tanya Sera sedikit curiga.


"Ah gak.. maksud Alex syukur kalo Mama sudah kasih tau kakak. Kalo gitu Alex pergi dulu," ucap Alex dengan gugup, namun kembali berbalik.


"Oh iya kak, kak Dev mana? Dari tadi Alex gak ketemu sama kak Dev. Ini sudah hampir jam makan siang," Alex melihat jam tangannya.


"Mu–mungkin Dev sedang jalan-jalan sama Ken," ujar Sera sambil melihat ke arah lain.


Sera tidak ingin adiknya tahu masalah antara dirinya dan Dev. Namun sayangnya Sera tidak tahu, jika Alex sudah mengetahui semuanya.


"Ken sama tante dan om di bawah. Berarti kak Dev sendiri. Astaga! Kak Dev ngilang kemana sih?" ucap Alex cemas lalu meninggalkan kakaknya begitu saja.

__ADS_1


Mendengar kabar suaminya tidak ada di vila, membuat hati Sera tidak tenang.


Benarkah Dev pergi? Kemana dev perginya? Kenapa Dev tidak memberitahukan kepadanya?


Sera berjalan bolak balik di dalam kamar, mencemaskan suaminya sambil menggigit ujung jarinya.


Karena rasa tidak tenang, Sera keluar kamar. Benar apa yang di katakan adiknya, jika hanya ada Ken dan kedua orang tua Dev saja.


"Eum, Mom ada lihat Dev?


"Mommy gak tau sayang. Mommy cuma ketemu Dev saat kamu ngantar Ken tadi. Setelah itu Mommy gak ketemu lagi," jawab Jane yang sedang menikmati tehnya.


"Sudah dihubungin?" tanya David.


"Belum Dad," Sera menggelengkan kepalanya pelan.


Ken sedang diajak bermain oleh Granpa nya. Sehingga Ken tidak terlalu memperhatikan kehadiran mommynya.


"Sera siapin makan untuk Ken dulu."


Sera berdiri dan meninggalkan putranya dan kedua mertuanya di sana. Sera berperang dengan pikirannya sambil memanaskan bubur Ken.


***


Ken makan sambil bermain di pangkuan Granpa-nya. David tidak mempedulikan tangan dan celananya ikut kotor karena terkena makanan Ken.


Jane tertawa melihat kelucuan Ken saat bermain. Jane bertugas untuk membuat Ken bisa membuka mulutnya, dengan mengajaknya bercanda.


Sedangkan Sera dengan cepat akan menyuapi putranya ketika mulut mungilnya terbuka.


Hari ini Ken, agak sulit untuk makan. Maka dibutuhkan ekstra kesabaran dan ide, agar Ken mau makan.


"KAK SERAAA!!! KAK SERAA!!"


Mereka berempat spontan mengalihkan perhatian ke sumber suara. Terutama Ken yang menangis karena terkejut.


"Alex! Kamu kenapa teriak-teriak gitu," Sera kesal dengan ulah Alex, yang membuat Ken menangis.


"Maaf kak. Alex cuma mau kasih tau it–itu kak Dev hilang," ucap Alex dengan gemetar.


"HAH? HILANG GIMANA??" Jane terkejut dengan laporan Alex.


David berdiri sambil menggendong Ken. Sera juga ikut berdiri dengan rasa gugup.


"Kak Dev hilang tenggelam," cicit Alex ketakutan.


Praaanngg

__ADS_1


Seketika tubuh Sera melemah seperti jelly. Sera terduduk di lantai dengan wajah ketakutan. Makanan Ken jatuh begitu saja dari tangannya.


"Ya Tuhan, Sera!!" Jane menghampiri menantunya dan memeluknya.


__ADS_2