
Sera menangis sepanjang perjalanan menuju lokasi di mana Dev dikabarkan menghilang. Jane terus menenangkan menantunya dalam pelukannya.
Sementara Ken berada di pangkuan omnya Alex. Ken sesekali melihat ke belakang ke arah mommynya yang menangis. Wajah Ken ikut muram ingin menangis mengikuti mommynya.
Namun dengan cepat Alex mengalihkan perhatian Ken untuk melihat ke depan.
"Sayang, tenanglah. Berdoalah Dev selamat," ucap Jane lembut.
"Mommy, gimana Sera sama Ken kalo Dev pergi hiks..Sera gak sanggup Mom," Sera terisak sedih karena ditinggalkan Dev.
Jane mengusap punggung menantunya pelan sambil mengusap air matanya. Jane tidak percaya jika putranya menghilang. Hatinya berkata kalau putranya itu baik-baik saja.
"Arahnya kemana Lex?" tanya David saat berada di pertigaan jalan.
"Kanan Om," jawab Alex santai.
"Oh Om tau. Pasti arah ini ke air terjun," ujar David mengangguk paham.
"Air terjun?" tanya Jane yang mengenal jalan yang mereka lewati.
"Iya, Yang. Tempat biasa kita sama Dev datangin dulu kalo kesini," jawab David.
"Dev," ucap Sera lirih sambil menangis tiada henti.
Kelopak matanya sudah bengkak dan matanya juga merah, akibat menangis. David melihat menantunya itu dari kaca spion. David yakin kalau Dev tidak mengalami kecelakaan apapun.
Karena hati David biasa saja. "Kamu cari masalah Dev," gumam David pelan. Namun sayangnya masih bisa didengar oleh istrinya.
"Kamu bilang apa tadi, Yang? Siapa yang bikin masalah?" Jane memajukan sedikit tubuhnya ke depan, agar mendengar jawaban lebih jelas dari suaminya.
"Ga–gak ada Yang. Aku tadi cuma bilang kita punya masalah sekarang karena Dev hilang," ucap David sambil menoleh sedikit kebelakang melihat menantunya yang menangis dalam pelukan istrinya.
"Ini kita gak telepon polisi, buat bantu nyari?" tanya Jane lagi.
"Kita cari sendiri dulu. Baru kita hubungi tim SAR."
"Kok gitu sih Yang? Harusnya kita datang sama tim SAR. Gak sendiri gini. Warga juga gak ada yang tahu," Jane menoleh ke belakang, karena memang tempat yang mereka tuju ini jauh dari pemukiman warga.
"Gak usah panik. Percaya sama aku," kata David menenangkan istrinya.
"Kok aku jadi curiga ya," ujar Jane menatap suaminya dari kaca spion.
Alex menahan senyumnya sejak tadi. Sementara Sera menegakkan sedikit tubuhnya, mendengar kata 'curiga' dari Mommy mertuanya.
"Curiga kenapa, Mom? Ada masalah apa ya?" Sera menatap Mommy mertuanya menuntut jawaban.
__ADS_1
"Nanti juga kamu bakal tahu," jawab Jane setelah memahami situasinya.
"Awas kamu Dev! Mommy bakal gak kasih ampun kamu," ucap Jane dalam hatinya.
***
Mobil berhenti tepat di lokasi air terjun. Karena memang jalan menuju kesana masih bisa dilewati oleh roda empat. Tidak ada orang sama sekali. Sunyi, sepi.
Belum juga terparkir sempurna, Sera sudah keluar dari mobil dan berteriak memanggil nama suaminya.
"DEEEVVV!!" teriak Sera sambil menangis.
"DEEEVVV! KAMU TEGA NINGGALIN AKU SAMA KEN. KAMU UDAH JANJI GAK BAKAL NINGGALIN AKU. DEEEVVV!!!"
Sera terus berteriak memanggil nama Dev sampai berlutut di pinggiran air. Air mata Sera terus membasahi wajahnya. Dadanya sesak. Sera tidak sanggup menerima kenyataan suaminya pergi begitu saja.
Apalagi masalah di antara dirinya dan Dev belum selesai. Sera tidak mampu berpikir lagi. Sera merasa dunianya runtuh seketika karena kepergian Dev tanpa pamit.
Jane segera menyusul menantunya dan memeluknya erat. Sementara David hanya berdiri di depan mobil sembari mengedarkan pandangannya mencari Dev.
Alex bukannya mencari Dev, dia malah mengajak Ken bermain air.
"DEEEEEVVV!!"
Sekali lagi Sera berteriak histeris sebelum akhirnya jatuh pingsan. Jane panik dan memanggil suaminya untuk menolong Sera.
David kembali dengan membawa minyak kayu putih dan memberikannya pada Jane.
"Yang, kamu kemana?" tanya Jane yang melihat suaminya tenang-tenang saja.
"Mau kesana," tunjuk David ke arah seberang.
"Mau ngapain? Ini Sera gimana? Kok kamu sama Alex tenang-tenang aja."
Jane menatap kesal suaminya. Bukan wajah kekhawatiran namun malah wajah biasa saja, yang suaminya tampilkan.
"Tunggu aja sampai sadar. Aku mau kasih pelajaran buat putra kamu itu," ucap David.
"Kasih pelajaran? Maksud kamu apa sih, Yang?" Jane jadi tambah bingung dengan perkataan suaminya.
"Tuh Lihat!" David menunjuk seseorang dibalik air terjun, sedang asik sendiri.
Mata Jane membulat sempurna setelah sadar siapa yang ditunjuk suaminya. Seketika rasa geram Jane muncul. Bisa-bisanya Dev membuat heboh seperti ini.
Kepala Jane menoleh ke arah Alex yang tengah tersenyum salah tingkah. Sekarang Jane paham. Pantas saja suaminya tenang-tenang saja, kalau ini skenario Dev. Kecurigaan Jane tidak salah.
__ADS_1
"Kurang kerjaan banget," gerutu Jane.
"Tarik dia kesini! Jangan sampai aku yang tarik putra kamu ya Yang!" Jane menatap kesal putranya dari tempatnya berdiri.
Sementara Dev asik dengan dunianya sendiri. Dia masih tidak menyadari keberadaan keluarganya di sana. Dev memang datang sendiri ke lokasi air terjun. Dev sengaja menenangkan dirinya dari masalahnya dan Sera.
Padahal awalnya Dev sudah berjanji akan membawa Sera kesini. Gara-gara Risa sehingga membuat rencana Dev gagal.
Benar saja, Dev merasa lebih baik dan lebih tenang. Sambil merenungkan kesalahannya, Dev membiarkan air menghujam kepalanya dan membasahi seluruh tubuhnya.
Ketika Dev pergi sendiri tadi, tanpa Dev ketahui, Alex menyusulnya. Karena mengetahui permasalahan di antara Dev dan kakaknya, sehingga muncul ide Alex.
Dia tidak akan rela membiarkan kakaknya pulang ke Manila dalam keadaan tidak baik-baik saja. Karena itu Alex menceritakan semuanya kepada Mama dan papanya. Dan meminta mereka untuk berbohong kalau pergi ke Paris.
Alex tahu kakaknya dan Dev saling mencintai. Apalagi sudah ada Ken di antara mereka. Alex tidak mau kalau Ken sampai jadi korban karena ulah perempuan yang ingin merusak rumah tangga kakaknya.
Hanya dengan jalan seperti ini, Alex berharap hubungan Sera dan Dev kembali membaik. Melihat kakaknya pingsan, Alex biasa saja. Karena dia tahu kalau Sera akan baik-baik saja.
Bukannya khawatir, Alex malah menyusul Dev bersama Ken. Dengan sangat hati-hati Alex membawa Ken menyusuri pinggiran air hingga sampai di mana Dev berada.
"Det..det..det..!"
Ken begitu senang melihat daddynya yang masih belum sadar keberadaan dirinya. Karena Dev berdiri membelakangi Ken dan Alex.
Tepukan di bahu Dev membuat dirinya terkejut dan berpaling ke belakang. Dev terlonjak karena melihat daddynya, Ken dan Alex di belakangnya.
"Det..Det.." ucap Ken sembari mengulurkan kedua tangannya ke depan.
Dengan cepat Dev menyambut putranya dan menggendongnya. Ken tertawa girang di bawah guyuran air. Bukannya merasa kedinginan, Ken malah bersorak gembira bisa bermain air.
"Kenapa kalian bisa di sini?" tanya Dev heran.
"Kamu yang ngapain bilang hilang tenggelam segala. Sana Sera pingsan," tunjuk David dari balik air terjun.
"Hilang? Tenggelam? Siapa?" tanya Dev bingung.
"Nih," tunjuk David lagi ke arah Alex.
Alex yang ditunjuk malah cuma nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Sorry Kak Dev. Aku cuma kelakuin apa yang menurut aku benar aja," ucap Alex sambil tersenyum.
"Benar gimana?" Dev masih belum mengerti. Apalagi tadi daddynya bilang kalau istrinya pingsan.
"Ini ada apa sih? Dev gak ngerti," Dev menatap Alex dan daddynya bergantian.
__ADS_1
"Alex bilang kalo kamu hilang tenggelam di sini. Sera histeris nangis terus pingsan. Mommy juga pikir kamu beneran tenggelam," jelas David pada Dev.
"Hah?"