DeRa LoVe

DeRa LoVe
Kaya dan Terkenal


__ADS_3

Sera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Sebelumnya Sera sudah membuatkan teh jahe, agar tubuh Dev hangat. Karena habis kena hujan di luar tadi.


Sera berbalik ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Sera mengambil handuk kecil dari tangan Dev dan menyuruh suaminya itu duduk.


Sera mengeringkan rambut Dev dengan berdiri di antara kedua kaki suaminya. Dev tersenyum dengan perbuatan manis Sera padanya. Dev memeluk pinggang istrinya.


"Habis makan siang, kita kembali ke Jakarta."


Sera menghentikan tangannya lalu mengerutkan keningnya menatap suaminya.


"Katanya sore," ujar Sera heran.


"Lebih cepat lebih baik. Aku gak mau ada kejadian kayak tadi lagi," ucap Dev dan membenamkan wajahnya di perut Sera.


Sera tersenyum dan menunduk mencium puncak kepala suaminya. "Terima kasih," ucap Sera dengan tulus.


"Terima kasih? Untuk apa?" Dev mendongak ke atas menatap wajah cantik Sera.


"Untuk semuanya," jawab Sera sembari membelai wajah suaminya.


Selesai mengeringkan rambut Dev, Sera menyisirnya lembut. Lalu Sera mengambil segelas teh jahe hangat yang sudah disiapkan untuk Dev.


"Minum dulu. Biar gak masuk angin," Sera mengangsurnya untuk Dev.


"Makasih, sayang."


Dev meminum teh jahe buatan istrinya. Lalu memberikan kembali gelas kosong pada Sera.


"Ken masih sama, Alex?" tanya Dev dan menarik Sera ke atas pangkuannya.


"Iya. Mereka berdua tidur lelap banget. Cuacanya pasti mendukung," Sera terkekeh ketika ingat posisi tidur Ken dan Alex yang lucu.


Posisi tidur suka-suka Ken. Seperti itulah yang sering Sera katakan pada Dev.


Alex dan Ken tidur dengan posisi berlawan arah. Sera yakin, kalau Ken yang mengubah posisi tidurnya sendiri. Karena dengan seenaknya kaki Ken mendarat dengan sempurna di atas perut Alex. Sebelahnya lagi di atas leher Alex.


Namun anehnya, Alex malah tidak terganggu. Tidurnya juga nyenyak sama seperti Ken.


Sera tertawa tertahan melihat gaya tidur putranya. Sera ingin memindah posisinya, tetapi Sera tahu kalau digerak sedikit saja Ken pasti bangun.


Karena itu Sera membiarkannya dan meninggalkan kamar Alex dengan sangat hati-hati.


Dev terbahak mendengar cerita istrinya. Dan apa yang Sera ceritakan tadi memang benar. Dev tidak heran karena memang begitu adanya.


Apabila tidur dengan Ken, maka sudah bisa dipastikan bahwa tempat tidur itu akan dikuasai Ken. Yang tidur bersama Ken, lebih baik mengalah saja.


"Apa kita juga perlu melakukan sesuatu?" Alis Dev naik turun menggoda istrinya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Sera tidak mengerti.


"Cuaca kan mendukung nih, gimana kalo kita–"


Perkataan Dev belum selesai, Sera dengan cepat turun dari pangkuan suaminya. Sera akhirnya mengerti kemana arah obrolan suaminya.


"Aku mau bantuin Mommy di dapur," ucap Sera dengan terburu-buru.


Sebelum Dev melakukan sesuatu, lebih baik dirinya mencari alasan untuk pergi. Bukannya apa, apabila menuruti keinginan Dev,, maka makan siang akan menjadi sangat terlambat.


Sera sangat memahami seberapa besar nafsu suaminya itu. Jadi untuk mencari titik aman, lebih baik Sera kabur dulu.


"Yah, Yang.." ucap Dev lesu karena istrinya memeletkan lidah sebelum keluar kamar.


Daripada tak tersalurkan, Dev akhirnya memilih untuk tidur saja.


***


Risa kembali ke tempat di mana mereka menginap dalam keadaan basah kuyup. Tubuhnya bergetar karena kedinginan.


Bahkan bibirnya juga membiru. Risa masuk ke dalam kamar dan melepaskan Satu persatu pakaian basah yang melekat di tubuhnya.


Setelah mandi, Risa menatap rintik hujan dari jendela kamarnya. Matanya memanas mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


Risa ingat bagaimana perihnya tamparan Mommy Dev di pipinya. Risa ingat bagaimana senyum mengejek Sera kepadanya. Risa ingat bagaimana kata-kata Dev yang menusuk hatinya.


Senyum miring terbit di bibirnya. Tangannya mengepal di pinggir jendela.


"Kalian akan membayar semuanya," ucap Risa dengan menyeringai jahat.


Risa membalikkan tubuhnya saat pintu kamar terbuka dan menampakkan seseorang di sana.


"Astaga! Lo kemana aja sih gue cariin dari tadi. Bukannya lo udah mandi tadi pagi. Kok mandi lagi?" Darty teman sekamarnya melihat heran ke arah Risa yang masih berbalut handuk.


"Gue tadi kehujanan. Jadinya mandi lagi," jawab Risa.


"Lo gak ke aula? Bentar lagi acara kita selesai. Habis makan siang kita balik ke Jakarta," ujar Darty setelah berbaring.


"Gue pake baju dulu," sahut Risa.


Kemudian Risa membuka kopernya dan mengambil kemeja bermotif bunga dan celana jeans berwarna hitam. Selesai berpakaian, Risa memoles wajahnya dengan make up minimalis.


Lama Risa memandangi wajahnya sendiri di cermin. Risa sampai bertanya di dalam hatinya, apa yang membuat Dev tidak tertarik padanya?


Dari segi wajah, Risa menganggap wajahnya tidak kalah cantik dari Sera. Kulit wajahnya juga mulus tanpa jerawat. Kulitnya putih bersih sama seperti kulit Sera.


Bedanya hanya di tinggi badan saja. Sera lebih pendek darinya. Dan perbedaan lainnya yang mencolok, tentu saja status sosial mereka.

__ADS_1


Dirinya anak orang yang tak punya. Sedangkan Sera dari keluarga kaya raya dan terkenal.


"Apa aku harus kaya dan terkenal dulu, baru Dev melirikku?" gumam Risa.


"Lo bilang apa tadi?" suara Darty mengejutkan Risa.


"Gak ada. Lo salah dengar kali," jawab Risa sembari menyisir rambutnya.


"Masa sih? Tadi gue dengar lo bilang kaya dan terkenal. Siapa?"


"Bukan siapa-siapa. Lo masih mau di sini?" Risa berdiri dan hendak keluar kamar.


"Ck, tunggu gue!" Darty berdecak dan segera menyusul Risa.


Selama acara berlangsung, Risa tidak mengikutinya dengan semangat seperti dua hari yang lalu. Tubuhnya di aula acara, tapi pikirannya di tempat lain.


Risa masih memikirkan cara agar bisa mendekati Dev kembali. Terutama mendekati Mommy Dev. Karena menurut Risa, kuncinya ada pada Mommy Dev.


Bahkan Risa sampai tidak menyadari jika namanya dipanggil berkali-kali dengan mikrofon.


"Ngelamuni apaan sih lo? Sana disuruh maju ke depan," Darty menyenggol lengan Risa dengan keras.


"A–apa?" tanya Risa dengan tergagap.


"Apa, apa, ck..maju sana lo!" Darty mendorong Risa agar maju ke depan.


Dengan wajah bingungnya Risa melangkahkan kakinya. Sampai depan, Risa masih dalam mode on bingung. Ketika menerima hadiah dari panitia dia juga hanya tersenyum tipis dan bergegas kembali ke tempat duduknya.


"Keren lo dapat hadiah juga. Apa sih isinya? Boleh buka gak?" Darty merebut hadiah dari tangan Risa.


"Terserah," jawab Risa cuek.


"Eh, Risa yang punya hadiah, kok lo yang buka." Romi bersuara tadi belakang Darty.


Darty mendengus dan membatalkan niatnya untuk membuka hadiah Risa. Dengan cemberut Darty mengembalikan hadiah tersebut kepada Risa.


Seperti yang dijadwalkan, setelah makan siang semua karyawan bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. Bus yang mengangkut mereka juga sudah menunggu di depan aula.


Bertepatan dengan itu, Dev dan keluarganya juga akan kembali ke Jakarta. Dev dan David, dibantu Alex memasukkan semua barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil.


Bus yang membawa Risa dan semua karyawan perusahaan, melintas di depan villa milik keluarga Dev. Kebetulan Risa duduk di dekat jendela.


Sehingga pemandangan yang menyakitkan hatinya itu tersaji dengan sempurna di depan matanya.


Dev menggendong Ken dan merangkul Sera berjalan menuju mobil. Sebelum membuka pintu penumpang, Dev sempat memberikan kecupan hangat di kening Sera.


Adegan itu membuat darah Risa seakan mendidih. Tangannya terkepal kuat di atas pahanya. Risa memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke depan.

__ADS_1


__ADS_2