DeRa LoVe

DeRa LoVe
Jangan Sentuh Putraku


__ADS_3

Suara gelak tawa kembali terdengar dari dalam kamar mandi. Tentu saja suara tawa lucu Ken, yang tengah mandi bersama sang Daddy.


Sera tersenyum mendengar suara dua pria yang dia sangat cintai itu. Setelah membereskan kekacauan yang dibuat Dev dan dirinya tadi pagi, kini tempat tidur itu kembali rapi.


Sera membuka koper dan mengambil pakaian Dev dan Ken, kemudian menyimpannya di atas tempat tidur.


Sore ini mereka akan kembali ke Jakarta, sebelum besok siangnya pulang ke Manila. Sera berdiri menatap langit yang masih setia menumpahkan air hujan dari sana.


Meski tidak sederas tadi pagi, namun tetap saja rintik hujan masih membasahi bumi. Sera menghirup udara pagi sambil memejamkan matanya.


Sebuah pelukan di perut dan lehernya membuat Sera membuka matanya. Senyum hadir menyambut dua pria tercintanya itu, saat dirinya berbalik.


"Ngelamunin apa?" Dev mengecup kening Sera.


"Cuma liat hujan aja," jawab Sera dan menggendong Ken yang sudah memeluk lehernya sambil mengoceh tidak jelas.


Sera membawa putranya ke tempat tidur untuk mengenakan pakaian padanya.


"Seru ya mandi sama Daddy?"


Ken tersenyum lebar dan menyebut daddynya. "Det..det..det.." ujar Ken seraya menunjuk Dev.


"Iya sayangnya Daddy. Nanti kita mandi bareng lagi ya," Dev mencium pipi Ken dengan gemas.


"Mandi aja, Yang. Ken biar aku yang urus," ujar Dev setelah selesai berpakaian.


"Udah selesai juga kok," Sera tersenyum dan menciumi Ken, lalu menyerahkan Ken kepada Dev.


"Sama Daddy ya. Mommy mau mandi," Sera kembali mencium pipi Ken.


"Kenapa?" tanya Sera saat melihat Dev hanya menatapnya.


"Aku gak dicium juga nih," Dev sengaja memasang muka sedihnya.


"Gak usah dibuat gitu juga mukanya. Sumpah gak cocok banget," ujar Sera sambil tertawa.


Tanpa menghiraukan keinginan Dev, Sera berlalu dan ingin segera membersihkan dirinya.


***


Di lantai bawah, Jane dan David sedang santai menikmati secangkir kopi di teras depan.


"Pagi Tante, Om," sapa Alex saat dirinya berdiri di depan pintu.


Alex ingin bersantai menikmati pagi, dengan jalan-jalan pagi. Namun tertahan karena diluar ternyata sedang gerimis.


"Pagi Lex..sini duduk dekat Tante sama Om," Jane menepuk kursi kosong di sampingnya.


Alex kemudian bergerak dan mengambil tempat di sebelah Jane.


"Gimana rasanya di Indonesia, Lex?" tanya David setelah menyesap kopinya.


"Karena kumpul sama keluarga, ya pasti rame om," jawab Alex sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kangen Mama Papa gak? Atau udah gak ngerasa kangen lagi?" tanya Davi lagi sengaja menggoda Alex.


"Kangenlah Om..biasanya kemana-mana selalu sama Mama Papa, gak pernah pisah. Tapi kalo diijinin gini terus, kayaknya Alex mau pergi lagi sendiri."


Sontak membuat David dan Jane tertawa mendengar jawaban Alex.


"Eh, Ken mana ya? Kok masih belum turun."


Jane menoleh ke belakang, mengintip dari kaca. Mungkin saja Ken sudah turun bersama anak dan menantunya.


"Mungkin mereka lagi malas keluar kamar, Tante. Ken kalo udah asik main, bisa gak mau udahan. Bawaannya main mulu," ujar Alex.


"Nah itu mereka," David menunjuk Ken yang berada dalam gendongan David.


Ken menjulurkan kedua tangannya ke arah David.


"Kangen Grandpa, ya?"


David berdiri dan mengambil Ken dari gendongan Dev. Lalu memangku Ken sembari mengusap lembut kepala cucunya.


Ken bahagia berada dilingkungan orang-orang yang menyayangi dirinya. Senyum lebar Ken selalu dia tampakkan jika sudah bersama keluarganya. Si Bayi gembul itu menjadi kesayangan semua orang.


Seruan seseorang membuat perhatian Jane dan yang lainnya teralihkan dari Ken. David menatap istrinya dengan tatapan penuh tanya. Sementara Dev dan Alex saling pandang melihat kehadiran orang lain, yang mengusik keseruan mereka.


"Hai, pagi semua!" sapa seseorang yang tengah berdiri di bawah rintik hujan sambil memegang payung.


Jane menaikkan satu alisnya lalu berdiri. "Risa, kenapa hanya berdiri di sana? Ayo kesini!" Jane mempersilahkan Risa untuk bergabung bersama mereka.


Risa melirik Dev sambil tersenyum, lalu duduk tepat di sebelah Dev.


"Tante, ini Risa bawakan bolu gulung lagi," ucap Risa sambil tersenyum setelah menyimpan bolu gulung itu di atas meja.


"Makasih ya, Risa." Jane tersenyum ramah kepada Risa.


"Oh, jadi ini Risa yang waktu itu ngantar kue bolu gulung kayak gini juga?" tanya David ramah.


"Iya, benar Om."


Alex menatap tajam Risa dari tempat duduknya. Tangan kanannya mengepal kuat dengan sorot mata akan kemarahannya.


Tanpa malu Risa sering mencuri pandang ke arah Dev. Namun Dev berpura-pura tidak mengetahuinya. Dalam hati, Dev merutuki kehadiran Risa di vilanya.


Hati Dev tidak karuan, karena apabila Sera mengetahui kedatangan Risa, akan menimbulkan masalah baru. Mengusir Risa di depan orangtuanya juga dirasa tidak sopan.


"Halo Ken," sapa Risa dengan suara layaknya anak kecil.


Ken menatap Risa dengan tatapan tidak peduli. Sepertinya Ken juga tidak menyukai Risa. Biasanya Ken walau dengan orang yang baru dikenal, pasti mau tersenyum. Namun dengan Risa, Ken hanya diam saja tanpa ekspresi apapun.


"Om, boleh Risa gendong Ken?"


"Oh tentu saja boleh," David berdiri dan ingin menyerahkan Ken pada Risa.


Namun ketika mendengar larangan dari menantunya, membuat David dan Jane terkejut. Begitu juga yang lainnya.

__ADS_1


"JANGAN PERNAH BERANI SENTUH PUTRAKU!!"


Semua mata tertuju kemana arah suara itu berada. Sera berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam dan dingin ke arah Risa.


Dev menelan salivanya ketika istrinya muncul.


"Sera?" ujar David bingung dengan sikap dingin menantunya.


"Ada apa sayang?" Jane juga memperlihatkan kebingungannya dengan sikap Sera.


Walau sebelumnya memang Jane sudah menaruh curiga dengan perempuan yang bernama Risa ini. Namun Jane tidak serta merta asal menuduh jika dirinya belum mendapat bukti.


Sera tidak menjawab. Sera hanya diam dan tidak melepaskan pandangannya barang sedetik dari Risa.


"Risa, sebaiknya kamu kembali ke tempat kamu. Tolong jangan buat masalah lagi," Dev berdiri dan menghampiri istrinya. Jaga-jaga takut Sera mengamuk.


"Ya apa salahku, Dev? Aku kan hanya datang berkunjung. Emang salah?" Risa bukannya menuruti perkataan Dev. Risa malah memperkeruh keadaan.


"Salah! Karena kamu punya tujuan terselubung datang kesini," ucap Alex sinis.


David dan Jane saling pandang karena situasi pagi ini sedang tidak baik-baik saja.


"Hey kamu siapa? Jangan ikut campur jika kamu hanya anak kemarin sore!" emosi Risa naik ketika ada anak kecil yang menyalahkan kedatangannya.


"Eh, eh, ada apa ini? Kenapa jadi ribut begini? Dev, ada apa ini?" David melerai keributan di depannya.


"Risa, pergi dari sini!!" Dev mengusir Risa tanpa rasa iba lagi. Dev tidak mau rumah tangganya ada cekcok lagi gara-gara perempuan itu.


"Tapi Dev, ak–"


"Tau malu gak sih!" ujar Alex sinis.


Risa menoleh dan menatap Alex penuh amarah dan kebencian. Emosi Risa bertambah akibat kata-kata Alex.


"APA MAKSUD KAMU??!!"


"Sadar diri aja kamu siapa. Biar malunya gak bertambah," ucap Sera datar namun sanggup membuat telinga Risa panas.


Sera melangkah menuju David, dan mengambil Ken dari Daddy Mertuanya. Sera melewati Risa tanpa permisi.


"Kalian saling kenal?" secara bersamaan David dan Jane menanyakan hal yang sama.


Mata Jane menatap anak menantunya termasuk Risa dan Alex secar bergantian. Jane menuntut jawaban dari salah satu di antara mereka berempat, melalui tatapan matanya.


"Dia mantan karyawan Dev. Dia perempuan yang tidak tahu malu dan tidak tahu terima kasih," jawab Sera tanpa rasa takut sedikit pun.


Jane dan David terkejut mengetahui siapa Risa sebenarnya. Seketika rasa marah menyelimuti hati Jane dan menatap Risa dengan rasa tidak sukanya.


Sesuatu mengejutkan cukup membuat Jane terperangah. Dengan beraninya Risa menunjuk muka Sera di depan matanya.


"KAMU!!!" amarah Risa memuncak dan mengangkat tangannya ingin menampar Sera.


Belum sempat Dev berbalik untuk melindungi istrinya. Satu perbuatan mommynya mengejutkan semua orang.

__ADS_1


Plaakk


"Berani kamu melakukannya, maka saat ini juga aku pastikan kamu tidak akan menghirup udara bebas lagi!!" ucap Jane dengan tatapan menusuk kepada Risa.


__ADS_2