
Setelah mengantar Risa pulang, Aldo pulang ke rumah dengan wajah yang tidak seceria sebelumnya. Bahkan saat dalam perjalanan pulang tadi pun, baik Aldo mau pun Risa tidak ada yang membuka suara.
Aldo masih mencerna dan belum memahami maksud keinginan Risa untuk bertemu sahabatnya, Dev. Aldo membuang pikirannya jauh-jauh tentang Risa yang menyukai Dev, suami orang.
Sementara Risa berpikir dengan demikian Aldo akan menjauh darinya. Risa sangat tahu Aldo tidak akan pernah bisa ingkar ketika dia sudah menjanjikan sesuatu.
Keadaan Aldo kini ibaratkan dibuat melambung tinggi dengan harapan bisa memiliki Risa, namun pada kenyataannya dirinya dihempas kembali ke bumi untuk menyadarkan dirinya siapa Risa sebenarnya.
Aldo tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan janji yang sudah dibuatnya. Aldo tidak ingin menyakiti sahabatnya apalagi sampai menimbulkan masalah untuk Dev dan istrinya.
Tetapi pantang bagi Aldo mengingkari janjinya sendiri. Apalagi janji itu terhadap perempuan yang disukainya.
"Aahh.." Aldo mengacak rambutnya dan berkacak pinggang di pinggir balkon kamarnya.
Sedari tadi tangannya gatal ingin menghubungi Dev, dan menceritakan semuanya dengan jujur. Tetapi Aldo tidak ingin mengganggu waktu istirahat Dev. Mengingat perbedaan waktu Indonesia dan Filipina.
Di kamarnya Risa terus tersenyum sejak masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat yakin permintaannya tadi pasti terwujud. Risa sangat tidak sabar ingin bertemu Dev lagi. Risa ingin memeluk pria yang dicintainya itu.
Dan jika bisa, Risa rela menyerahkan dirinya secara utuh untuk Dev. Dengan begitu Dev tidak akan bisa jauh darinya lagi.
***
"Ma, apa kita punya labu?"
Bella mengernyit lalu menoleh pada putrinya. Sedikit heran karena tidak biasanya Sera meminta hal seperti itu. Karena yang Bella tahu, Sera sangat tidak menyukai labu.
Menurut Sera itu makanan yang sangat aneh, dan bentuknya juga terkadang membuat Sera memasang muka tidak nyaman karena benyek apabila sudah dimasak.
"Buat apa?" Bella bertanya balik.
"Pengen aja. Mama bisa kan bikin kolaknya. Waktu di Indo Sera pernah lihat Tante Lyla bikin kolak labu dicampur sama pisang," jawab Sera sambil membayangkan rasanya.
"Waktu itu kamu makan gak?" Bella menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa minta bikin kalo gak dimakan?" Bella semakin heran dengan permintaan Sera.
"Ayolah Ma..kalo gak ada biar nanti Dev yang beli," bujuk Sera. Entah kenapa lidahnya ingin menikmati kolak labu hari ini.
Bella menghela nafasnya. "Baiklah, nanti Mama minta salah satu ART kita yang membeli bahannya. Tapi ingat, harus dimakan ya?" ujar Bella.
Sera memeluk mamanya dan mencium pipinya. "Makasih Ma," ucap Sera sambil tersenyum.
Setelah kepergian Sera ke kamarnya, Bella memanggil salah satu ART dan meminta mereka membeli semua bahan yang diperlukan.
"Dari mana?" tanya Dev yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Habis dari bawah nemuin Mama."
"Ngapain?"
"Minta dibuatin kolak labu," jawab Sera dan berbaring di samping Ken yang masih terlelap.
Dev menghentikan tangannya yang tengah menggosok rambutnya dengan handuk. Dev kemudian duduk di dekat Sera sambil memperhatikan wajah Sera intens.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Sera heran.
"Kamu..gak lagi ngidam, kan?" tanya Dev balik.
"Setau aku kamu gak suka labu," lanjut Dev.
__ADS_1
Sera diam lalu menarik tangan Dev dan meletakkannya di atas perutnya.
"Mungkin ada yang tengah tumbuh di dalam sini," ucap Sera sambil tersenyum.
Dev membulatkan matanya seakan tidak percaya. "Are you sure?" tanya Dev sambil mengusap perut Sera.
Kalau Sera memang benar hamil lagi, Dev akan senang sekali. Memiliki anak yang banyak adalah impian Dev. Karena Dev suka dengan keramaian. Dengan punya anak banyak, Dev yakin rumah tidak akan pernah sepi.
"I'm not sure. Tapi aku sudah telat dua minggu," Sera melirik kalender di atas mejanya.
Dev menarik Sera ke dalam pelukannya. Dan mencium puncak kepala Sera. "Aku bahagia kalo kamu beneran hamil lagi, sayang. Ken juga pasti senang bakal punya adik."
Sejak Ken lahir mereka berdua memang memutuskan akan memberikan Ken adik.
Tidak berharap cepat, tetapi juga tidak menunda kehamilan. Karena itu saat berhubungan intim, terkadang Dev melakukannya tanpa pengaman.
Karena harapan mereka berdua, bisa memberikan adik untuk Ken. Dan sepertinya keinginan mereka terwujud.
Pelukan keduanya terganggu karena tiba-tiba saja Ken menyembulkan kepalanya di antara pelukan itu. Dev dan Sera tertawa melihat tingkah lucu Ken. Rupanya Ken tidak ingin orangtuanya berbagi kebahagiaan sendiri tanpa dirinya.
"Ken..eyuk.." ucap Ken dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Sera.
"Ken minta peluk juga?" dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Sera balas memeluk Ken, begitu juga Dev memeluk anak dan istrinya. Tak lupa ciuman hangat Dev berikan di bibir Sera dan juga pipi Ken.
***
Bella tertegun memperhatikan Sera yang begitu lahap memakan kolak labu buatannya. Perlahan Bella mendekati menantunya yang duduk tidak jauh darinya.
"Apa Sera hamil?" bisik Bella tanpa melepaskan pandangannya dari Sera.
"Hah?" ujar Bella terkejut dan dengan cepat membekap mulutnya.
"Kenapa sih Ma? Kaget gitu," Sera mengelap mulutnya dengan tisu setelah satu mangkuk kolak labu tandas tak bersisa.
"Kamu beneran lagi.." Bella mengekspresikan gerakan tangannya di depan perut, seperti orang sedang hamil.
"Belum yakin sih Ma. Mungkin lagi pengen aja makan ini," ujar Sera dengan santai.
"Yang bener kamu. Nanti malam periksa ke dokter kandungan sama Dev. Biar tau kepastiannya," Bella memberi saran untuk putrinya sembari melirik Dev.
"Kami akan cek Ma," sahut Dev.
"Apa Ken akan punya adik?" ujar Bella dengan mencium pipi cucunya gemas. Ken tergelak karena ulah neneknya.
Rumah mereka akan bertambah ramai apabila Sera benar hamil anak kedua. Bella berharap cucunya nanti perempuan. Biar dia memiliki cucu sepasang. Ah, Bella yakin cucu perempuannya pasti cantik.
Dev tersenyum geli melihat bagaimana Mama mertuanya memperlakukan Ken.
***
Wajah Dev tersenyum bahagia melihat layar monitor yang memperlihatkan ada calon anaknya di sana. Sambil menggenggam tangan Sera, mata Dev tidak beralih dari sana.
Senyum kebahagiaan juga terpancar di wajah Sera. Sepasang suami istri itu saling menggenggam menyalurkan rasa bahagia itu.
Dev dan Sera mendengarkan dengan baik apa yang dokter sampaikan pada mereka berdua. Usia kandung Sera masih sangat muda, karena itu dokter menyarankan Sera lebih banyak istirahat.
"Makasih sayang," ucap Dev dengan memberikan ciuman dan pelukan untuk Sera di dalam mobil.
__ADS_1
"Anak Daddy sehat-sehat ya..Kakak Ken pasti senang ada ade," sambung Dev dengan mengusap perut Sera.
"Iya Daddy," sahut Sera dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. Sesaat kemudian mereka berdua tertawa.
Tiba di rumah, senyum keduanya tidak luntur. Mengundang tanya bagi Eric. Sementara Bella yang mengetahuinya hanya tersenyum melihat ekspresi suaminya.
"Kalian kenapa? Ada kabar bahagia apa sampai gigi kering gitu?" celetuk Eric yang melihat anak menantunya bergantian.
Alex terbahak mendengar celetukan papanya. Bahkan Ken yang tengah bersamanya juga ikut tertawa. Padahal dia sendiri tidak mengerti apa yang omnya tertawakan. Yang penting ikut tertawa, pikir Ken.
"Gimana hasilnya?" tanya Bella tidak sabaran.
Dev menuntun istrinya duduk dengan perlahan. Lalu duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan istrinya.
Sebelum menjawab pertanyaan sang Mama mertua, Dev dan Sera saling melempar senyum.
Sera mengeluarkan selembar hasil USG dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja sambil tersenyum.
"Positif Ma," jawab Sera kemudian.
"Puji Tuhan," Bella menangkup kedua tangannya di dada, sebagai rasa syukurnya.
"Positif? Apaan sih?" Eric mengambil hasil USG tadi karena penasaran.
Mata Eric bergantian melihat hasil USG dan juga anak menantunya. Yang merasa dilihat hanya memberikan senyum kepada Eric.
"Kamu hamil lagi?" tanya Eric pada Sera dengan alisnya naik satu.
Dengan semangat Sera menganggukkan kepalanya. "Iya Pa," jawab Sera.
Eric berdiri dan menghampiri putrinya lalu memeluknya. "Selamat sayang," ujar Eric dan mencium puncak kepala Sera.
"Makasih Pa," ucap Dev dan Sera bersamaan.
"Apa David dan Jane sudah tau?"
"Belum Pa."
"Jangan lupa kasih tau kabar bahagia ini."
"Iya, Pa."
"Wah, aku bakal punya ponakan lagi. Ken, kamu bakal punya adik!!" seru Alex dengan riang sambil menggoyang tubuh Ken ke kiri dan ke kanan.
Karena ulah keduanya, membuat seisi rumah dipenuhi dengan tawa.
***
Setelah menidurkan Ken, Sera kembali ke tempat tidur. Ponsel Dev berdering, membuat Sera urung untuk berbaring. Sera mengernyit melihat nama yang tertera di sana.
Karena Sera merasa bukan urusannya, Sera menghiraukan panggilan tersebut dan membaringkan tubuhnya.
Ponsel itu terus saja berdering sampai Dev keluar dari kamar mandi.
"Siapa yang telpon, Yang?"
"Gak tau," jawab Sera singkat.
Dev mengambil ponselnya dan keningnya berkerut melihat lima kali panggilan tak terjawab atas nama Aldo di sana.
__ADS_1
"Aldo? Ada hal penting apa Aldo nelpon?"